Perempuan: Stigma dan Perubahan Menuju Pemberdayaan


Kesetaraan gender dewasa ini sudah hidup cukup terang, terutama di negara demokrasi seperti Indonesia. Hal itu ditandai dengan munculnya berbagai komunitas, LSM, media yang aktif menyuarakan hak-hak perempuan dan bahkan kesadaran masing-masing individu yang sudah melek terhadap gender equality ini.

Setelah melalui jalan panjang dan terjal, akhirnya apa yang diperjuangkan oleh kaum filantropi untuk mengangkat hak perempuan agar setara dengan laki-laki dari berbagai sektor, entah dibidang pendidikan, politik, ekonomi, sosial, dan lingkungan hampir mewujud. Meskipun belum sepenuhnya, namun ini merupakan perkembangan yang positif dan patut untuk diapresiasi.

Seperti kata Melinda Gates, “Jika kau ingin mengangkat harkat umat manusia, berdayakan perempuan.” Kalimat ini sejalan dengan istilah ‘perempuan adalah tiang negara’. Dimana perempuan seharusnya didorong untuk terus maju, berdaya dengan potensi diri yang dimilikinya. Bukan terus dibelenggu dalam budaya patriarki, dilemahkan secara kultural maupun struktural, dibiarkan mengalami kekerasan atau keterbelakangan disegala hal.

“Aku melihat seorang ibu yang tengah hamil menggendong bayi sambil memikul setumpuk kayu. Dia jelas sudah berjalan tanpa sepatu, sementara para laki-laki mengenakan sandal dan merokok tanpa memikul kayu atau membawa anak-anak.” (hlm. 13)

Dibeberapa negara seperti yang menjadi tempat perjalanan dan persinggahan Melinda, masih banyak sekali budaya yang menganggap bahwa laki-laki menduduki strata lebih tinggi ketimbang perempuan. Mereka memiliki superioritas, sehingga mewajarkan diri jika menganggap perempaun hanyalah sebatas makhluk inferior yang bebas disuruh melakukan apapun atau mendapat perlakuan apapun dari mereka.

Memunculkan kesadaran bahwa perempuan setara dengan laki-laki atau membuat para perempuan untuk tidak bungkam dan bersuara sesuai dengan apa yang mereka inginkan tentu tidak mudah. Apalagi dalam lingkungan yang sudah terlanjur kental dengan dunia patriarki. Perlu proses dan pendekatan yang sifatnya humanis.

Salah satu langkah awal yang Melinda lakukan dan yang ia tulis dalam buku ini adalah dengan menyediakan akses pendidikan bagi perempuan. Karena menurut dia, pendidikan adalah sebuah langkah vital menuju pemberdayaan. Pendidikan anak perempuan dapat berdampak besar pada kesehatan, pemberdayaan, dan kemajuan ekonomi perempuan.

“Bila anak-anak perempuan ada di ruang kelas dan tahu mereka dapat belajar, mereka akan memandang diri sendiri dengan cara yang berbeda sehingga merasa berdaya. Perempuan dapat menggunakan keterampilan yang dia pelajari di sekolah untuk meruntuhkan aturan yang merendahkan mereka.” (hlm. 115)

Langkah awal berupa terbukanya akses pendidikan bagi seluruh perempuan tanpa terkecuali ini akan memberi dampak besar dan melunturkan stigma yang melekat pada diri perempuan. Mereka bisa berubah jika budaya, lingkungan dan beberapa manusianya ikut serta membentuk perubahan itu. Salah satu istilah yang kini sedang populer yakni feminisme. Para perempuan di dunia menentang adanya budaya yang melanggengkan superioritas bagi kaum laki-laki apapun bentuknya.

“Menjadi seorang feminis berarti percaya bahwa setiap perempuan harus mampu menggunakan suaranya dan mengejar potensinya, bahwa perempuan dan laki-laki harus bekerja sama untuk meruntuhkan tembok penghalang dan menyudahi bias yang masih membatasi gerak kaum perempuan.” (hlm. 4)

Gerakan feminisme menawarkan perubahan yang bermanfaat bagi perempuan sehingga perempuan bisa berdaya dan berdiri dikaki sendiri tanpa harus takut stigma apapun.
“Aku percaya semua manusia memiliki nilai setara. Bahwa semua laki-laki dan perempuan diciptakan setara. Bahwa semua orang sama. Bahwa setiap orang memiliki hak-hak, dan setiap orang memiliki hak untuk berkembang.” (hlm. 216)

Bahasa yang digunakan penulis mudah dipahami seolah pembaca sedang membaca catatan perjalanan yang bernilai moral tinggi. Penulis menyajikan detail kisah yang menyentuh nurani dari mulai perjalanan untuk menemukan ide hebat hingga pada cara merealisasikannya. Buku ini sangat cocok dibaca oleh semua kalangan baik laki-laki maupun perempuan. Bagaimana pemberdayaan perempuan memegang peranan penting diantara sejahteranya satu negara.

Comments