Pengembaraan Hati di Tanah Haram



Bagi sebagian besar atau bahkan seluruh umat Islam, menginjakkan kaki di tanah Haram merupakan anugerah dan mimpi yang tak terperikan. Sebagai wujud penyempurnaan rukun Islam kelima bagi kaum muslim. Begitu pun soal pernikahan. Selain sebagai penyempurna separuh agama, pernikahan juga hukumnya sangat dianjurkan oleh Nabi Muhammad. Bahkan Nabi pernah berkata, bukan termasuk golongan dari umat Nabi jika enggan menikah atau tidak mengamalkan salah satu sunahnya (menikah) itu.

Seperti Rhada, seorang perempuan dewasa yang tumbuh dan besar di tanah Padang Sumatera Barat. Ia perempuan dengan karir mapan dan tentu saja masa depan yang sangat cemerlang. Bisa dikatakan, Rhada juga merupakan sosok yang saleha. Terbukti dengan ketaatannya selama ini mengamalkan ajaran Islam dengan menyeluruh, hingga bisa menunaikan ibadah haji bersama kedua orang tuanya itu. Meskipun kehidupan Rhada telah dipandang sempurna bagi banyak orang, namun ada satu hal yang masih mengganjal di hati perempuan itu, yakni menikah.

Tidak dapat dipungkiri, setiap insan yang bernama perempuan pasti diam-diam memiliki pangeran yang tersimpan di lubuk hatinya. Pangeran yang selalu disemogakan dalam tiap-tiap perjumpaan dengan Sang Pencipta di atas sajadah. Hal ini pun berlaku untuk Rhada. Kisah cintanya begitu rumit. Ia mengagumi dengan sangat seorang laki-laki bernama Osman. Teman zaman putih birunya dimasa lalu yang masih dia doakan.

“Adakah dia mengenangku seperti aku mengingatnya? Sedang apa dia disaat kepalaku terisi wajahnya? Adakah guna semua itu? Andai aku tau seluruh jawabannya, tentulah perjuangan ini akan terasa lapang kulewati.” (hlm. 81)

Tersirat bahwa Rhada masih mencintai dan mengharapkan sosok bernama Osman itu, namun perasaannya hanya terpendam saja, meski setiap hari mereka berdua sering mengirim kabar.

Dari kegelisahaan hati soal pernikahan dan cintanya terhadap Osman yang tak berujung, Rhada memutuskan untuk menunaikan ibadah haji bersama kedua orang tuanya dengan harapan, perempuan itu bisa menemukan jawaban, siapakah yang pantas untuk menjadi pendamping hidupnya kelak. Apakah Osman, atau ada laki-laki lain yang mungkin akan Rhada temui dalam pengembaraan di tanah Haram itu.

Benar saja, di tanah Haram, Rhada menemui seseorang dimasa lalunya. Dia adalah Rudi, teman putih abu yang pernah menyatakan cinta di kantin sekolah. Hati Rhada sedikit menoreh kagum dengan laki-laki itu yang ternyata juga masih menyimpan rasa pada Rhada. Kemudian datang pula Hendar, teman sekantor yang menaruh hati pada Rhada dan ingin meminang perempuan itu seusai pulang ke tanah air nanti.

“Maaf, aku lancang menanyakannya. Namun, jujur perasaanku dulu padamu masih hidup dan sulit kubendung. Apalagi sudah tiba saatku mencari pasangan hidup. Aku tak ingin salah pilih orang. Karenanya aku melabuhkan pilihan langsung pada seorang yang pernah kukagumi dimasa lalu.” (hlm. 102).

Tidak sampai di sana. Perjalanan kisah romansa dari Rhada masih berlanjut hingga ia dipertemukan dengan laki-laki santun nan baik yang bernama Yusuf. Laki-laki itu selalu ada ketika Rhada dirundung kesusahan. Senang membantu orang tua Rhada dan jamaah haji lain di Mekah. Hingga dari kebaikan itu, Rhada mulai membuka hati dan sedikit melupakan Osman, diam-diam perempuan itu menyimpan kagum pada Yusuf.

Gayung bersambut, ternyata Yusuf menaruh rasa pada Rhada dan ia juga berniat  untuk meminangnya. “Rhada, maukah kamu menjadi istriku?” (hlm. 173). Detik itu lah perasaan Rhada pada Osman meluruh. Dan hatinya sudah tertambat pada Yusuf, laki-laki yang baru ditemuinya di tanah Haram. Dan mereka memutuskan untuk menikah di Indonesia.

Setelah pernyataan itu, tiba-tiba Osman datang lagi. Bagai menyiram bunga yang hampir sepenuhnya layu di lahan tandus. Osman datang dengan sebuah ungkapan bahwa sejak dulu ia masih mencintai Rhada dalam diam dan sekarang ingin menikahinya. Saat itulah hati Rhada benar-benar diuji pada dua buah pilihan yang sama-sama ia inginkan. Menerima Osman dan menyakiti Yusuf, atau sebaliknya. Sambil memohon petunjuk pada-Nya, pada akhirnya Rhada memilih Yusuf sebagai pendamping hidup dia kelak. Laki-laki yang sudah dipilihkan Allah di tanah Haram.

Karakter yang dibangun pada setiap tokoh cukup kuat satu sama lain. Penggambaran latar belakang tanahnya para Nabi diceritakan dengan sangat hidup oleh penulis. Bahkan hanya dengan membaca lantas berimaji, pembaca seolah bisa tau serangkaian kegiatan jamaah haji dan bagaimana kehidupan di sana.

Comments