Menulis adalah
panggilan hati yang dibangun melalui niat dan kerja keras tanpa mengenal kata
susah, sudah. Jadi jika ada yang bertanya: Bagaimana
memunculkan keinginan untuk menulis? Jawabannya tentu: Tanyakan saja pada diri dan hatimu sendiri.
Mengapa demikian?
Karena keinginan menulis itu hadir bukan karena paksaan, meskipun ada sebagian
orang yang menulis karena dipaksa guru, dosen, atasan, atau siapapun. Namun
seharusnya menulis adalah murni keinginan dan ekspresi diri yang mewujud dalam
kata-kata.
Seseorang pernah
berkata, kalau kamu suka membaca tanpa menulis, rasanya kurang komplit. Ibarat
sudah makan besar namun tak kunjung diberi cuci mulut. Orang yang senang menulis,
pastilah ia senang membaca.
Sedikit cerita, dulu
saya mencoba untuk masuk ke dunia tulis menulis karena berawal dari senang
membaca cerita. Entah itu novel, cerpen, atau funfiction. Rasa ingin menulis tiba-tiba muncul ketika saya merasa
bahwa jika mereka saja bisa menciptakan karya, mengapa saya tidak? Sesederhana
itu.
Saya banyak membaca
buku-buku romance, lalu mulai mencoba
menulis cerita bersambung (cerbung). Waktu itu tahun 2013, saya menulisnya
dibuku dengan bolpoint. Setiap part yang saya anggap selesai, salah satu teman
di kelas saya suruh membaca lalu diberi kritik dan saran (krisan). Begitu
terus, sampai beberapa part selesai meski tak pernah tamat hahaha.
Jika ada yang bertanya
kenapa cerbung tulisan saya tak pernah rampung, karena ditengah perjalanan,
saya selalu menemukan ide untuk menulis cerita baru dan pada akhirnya
meninggalkan cerita lama. Meskipun sejatinya itu tidak baik. Karena seharusnya
selesaikan dulu cerita lama, baru memulai cerita yang baru.
Memasuki masa SMA, saya
menjadi sedikit pasif dan nyaman dengan status sebagai pembaca. Mungkin karena
lingkungan pergaulan saya yang tidak terlalu menyukai dunia literasi (membaca
dan menulis) ditambah saya yang makin malas dengan dalih tugas, akhirnya saya
kurang produktif. Hanya sesekali menulis diary pun dikonsumsi sendiri.
Awal kelas duabelas,
setelah mendapat kabar dari mbak sepupu kalau dia berhasil menang lomba menulis
cerpen dan cerpennya masuk antologi yang dibukukan, saya menjadi termotivasi.
Kebetulan orang tua membelikan laptop baru, semangat untuk berkarya semakin membara.
Saya ikut banyak lomba
menulis cerpen yang diselenggarakan penerbit indie. Info-info itu saya dapatkan
dari laman facebook. Saya ikut grup penulis yang setiap hari selalu sharing cerita dan informasi yang sangat
bermanfaat terutama dibidang penulisan. Sejak itu saya merasa menemukan jati
diri, apa yang saya cari dan senangi akhirnya bisa ketemu.
Pencapaian terbesar
saya waktu itu adalah mendapat juara dua lomba menulis cerpen dengan tema
Psikopat. Entahlah, padahal saya tidak terlalu menyukai cerita bergenre “gelap”
namun ajaibnya saya bisa mendapat juara dua. Atau lain waktu saya pernah diberi
spesial mug karena tulisan saya masuk kategori terbaik. Mug itu dikirim ke
rumah dengan ekpedisi. Bahagianya bukan kepalang. Bisa pamer sama orang tua.
Dari cerita singkat itu
bisa disimpulkan bahwasannya keinginan menulis muncul dari dalam diri sendiri yang biasanya
lahir karena dekat dengan dunia buku ditambah lingkungan yang mensupport untuk
terus memberi motivasi hingga menghasilkan satu buah karya.
Jadi kembali lagi ke
paragraf pertama, bahwa menulis memanglah panggilan hati.
Lantas bagaimana dengan
mereka yang tak terlalu senang membaca namun ingin mencoba menulis? Jawabannya
adalah langsung menulis saja, karena ketika menulis dan menemui titik buntu,
maka mau tidak mau mereka akan membaca. Antara membaca dan menulis seperti
laiknya orang dan cermin. Kedua-duanya harus saling ada untuk menghasilkan
sesuatu yang namanya ‘bercermin’.
Salam,
Nina
Fitriani
Mahasiswi
KKN-DR 2020

Comments
Post a Comment