“Sin, hari ini kita akan kemana?” tanya Nisa pada
teman satu organisasinya itu.
“Katanya sih mau wawancara salah satu anggota Forinsat.”
“Forinsat?” ulang Nisa dengan ekspresi tidak tau. Baru
pertama kali ia mendengar kata itu.
“Forum investasi akhirat. Yah, sejenis organisasi
yang menggalakkan pentingnya bersedekah,” jelas Sinta yang langsung mendapat anggukan
kecil dari Nisa. Nisa dan Aisha memang tergabung dalam organisasi Al Mizaan.
Sebuah organisasi pers mahasiswa dalam kampusnya.
“Aisha nggak ikut?” tanya Sinta seraya mengedarkan
pandangannya mencari sosok gadis berkerudung panjang itu.
“Dia sakit. Dan dia juga minta maaf karena tidak
bisa ikut membantu.”
“Oh, ya sudah nggak apa-apa. Salam balik dan semoga
lekas sembuh.”
“Amin. Dimana wawancaranya?”
“Masjid kampus. Nanti kamu yang nanya, ya. Ini sudah
aku siapkan list pertanyaannya.” Nisa mengangguk menyetujui.
***
“Namanya Mas Yusuf. Dia almamater universitas kita,
sekarang sudah bekerja disalah satu perusahaan swasta. Jabatannya ketua sekaligus
pendiri organisasi itu,” jelas Sinta panjang lebar yang dibalas dengan anggukan tanda paham oleh Nisa.
“Assalamualaikum,” seketika Nisa terdiam lama, satu detik, dua detik, lima detik, matanya mengerjap beberapa kali hingga sebuah telapak tangan yang menyentuh
bahunya berhasil membuat ia tersadar.
“Nis, kamu tidak apa-apa kan?” tanya Sinta mengamati wajah
temannya itu lama. Nisa segera menggeleng kecil lantas tersenyum tipis.
“Wa’alaikumsalam,” jawab Nisa terlambat lantas
menunduk malu. Sedangkan Sinta menatap gadis itu bingung, ada apa gerangan
dengan Nisa? Tidak biasanya ia begitu.
“Mbak ini bukannya ....”
“Yang meninggalkan tasbih di masjid kemarin,” potong
Nisa cepat. Laki-laki bernama Yusuf itu mengangguk kecil lantas tersenyum.
“Jadi sudah saling mengenal? Mas Yusuf dengan Nisa?”
tanya Sinta sedikit terkejut dengan berbagai tanda tanya besar dalam kepalanya.
“Bukan. Kami hanya tanpa sengaja bertemu,” jelas
Nisa yang mendapat anggukan setuju dari Yusuf. Sinta hanya mangut-mangut
mendengar penjelasan itu.
“Baik, ayo kita mulai,” ajak Nisa. Mereka lantas
berjalan menuju aula masjid untuk proses wawancara. Nisa terlihat memegangi
dadanya lagi, ia tersenyum kecil. Takdir Allah memang indah, pertemuan tanpa
sengaja ini berhasil membuat gadis itu tersenyum sepanjang hari.
Bersambung ...
171231. Remake. CKH

Comments
Post a Comment