“Kau tau, Sha? Tadi aku ketemu sama akhi-akhi
tampan. Dia juga kelihatannya alim. Tadi ia mengejarku untuk mengembalikan
tasbih ini,” ujar Nisa penuh semangat sembari memperlihatkan tasbih yang ia
maksud. “Aku pikir Allah telah mempertemukan jodohku,” tambahnya lagi.
“Istigfar, Nis.”
“Kenapa? Salah ya jika aku jatuh cinta?” tanya Nisa
tak mengerti.
“Bukan begitu. Cinta itu fitrah dan anugerah dari
Allah. Tapi caranya itu yang salah.”
“Maksudmu?”
“Kamu memuji makhluk Allah dengan begitu berlebihan.
Apa kamu tau sebenarnya Dia cemburu?” Nisa diam, “Secara tidak langsung
kamu mengumbar pandangan untuk sesuatu yang belum halal, kan? tuh, hatimu jadi
teracuni begitu.”
“Tapi kan, Sha. Aku hanya mengagumi dan berharap apa
salahnya?” masih tidak mengerti, Nisa menuntut penjelasan.
“Caranya Nisa sayang. Kamu terlalu berlebihan memuji
makhluk Allah. Ingatkan katamu kemarin, jika dia jodohmu, dia akan datang
menghalalkanmu. Jadi, jika akhi-akhi tadi jodohmu, ia pasti akan datang kok.”
“Semudah itu?”
“Ya, semudah itu jika Allah telah menghendaki. Jadi
intinya selalu perbaiki diri. Kamu bilang tadi akhi-akhi itu alim, nah kamu juga
harus lebih alim lagi agar Allah mau menjodohkan kalian. Eits, tapi alimnya
karena Allah ya, jangan karena dia. Nanti ujungnya setelah berjodoh
dengannya, imanmu malah menurun.”
“Astaugfiruallahaladzim. Jangan sampai, Sha. Kau ini
doanya begitu,” Nisa memanyunkan bibirnya kesal.
“Afwan.” Aisha hanya tersenyum geli melihat ekspresi
Nisa sekarang. “Sudah mengerti?” Nisa mengangguk kecil yang lantas disambut
senyuman oleh Aisha.
-Cinta itu kata orang, ‘dari mata turun ke hati.
Menyentuh perasaan lantas membayangkan’. Jaga pandangan dan jaga hati, karena
cinta yang belum halal itu tidak diridhoi-
Bersambung ...
171217. Remake. CKH.

Comments
Post a Comment