Rinai Rindu
Jika rinai hujan bisa hapuskan rasa rindu itu padamu, sungguh aku
tak akan menyukai hujan lagi.
***
Pada situasi tertentu, terkadang aku merindukan sosokmu. Bukan
karena belum mengikhlaskan, hanya saja aku rindu. Ya, aku rindu. Sudah
kukatakan berkali-kali, aku benci merangkai aksara untuk gambarkan kepergianmu
yang tak akan pernah kembali. Tetapi kali ini, entah untuk yang keberapa kali,
aku kembali merangkai aksara tentangmu, wahai sahabat jannahku.
Kemarin aku menangis, sebab apa sejujurnya aku tak mengerti. Ada
banyak beban yang tak bisa kubagi, dan tangis pun menjadi pilihan pertama untuk
mengurangi. Sejak saat itu, tiba-tiba sosokmu melintas begitu saja, membawa
serpihan kenangan padaku.
Lima bulan lalu, saat dimana kutorehkan aksara tentangmu, dan aku
baru sadar, jika sejak hari itu aku belum menyambangi tempat peristirahatan
terakhirmu lagi. Maaf, nyatanya kesibukanku melupakan dirimu.
Insyallah, doaku, doa kami, selalu menyertaimu, sahabat.
Batang, 4 Desember 2017
Aku dan Afniya yang lagi-lagi merindukan sosokmu.

Comments
Post a Comment