Surya
berdiri kokoh di atas langit, memancarkan sinarnya menuju bumi pertiwi seolah
menyampaikan risalah bahwa Tuhan itu Maha Adil. Dia tak menyuruh sang surya
untuk hanya membagi sinarnya pada orang-orang yang taat beragama, tetapi untuk
semua tanpa terkecuali.
“Assalamualaikum
warahmatuallah.” Aisha menutup salamnya lantas mengusap muka dengan kedua
telapak tangannya. Ia menengadah, seperti sedang mengadu kepada sang kholik
tentang hidupnya.
“Aku
telah menunggunya hampir dua tahun. Setiap hari selalu memperbaiki diri untuk
siap dipinang olehnya. Agar dia merasa bahagia bisa menyempurnakan separuh
agamanya bersamaku, Ya Allah. Aku belajar untuk menjadi seseorang yang bisa
menemani dan membuat dia bahagia. Merangkai mimpi bersama untuk menuju surgaMu.
Tapi sudah selama ini aku menunggu, tak pernah ada kabar darinya lagi.
Dimanakah dia? Atau dia lupa dengan janjinya untuk menemui orang tuaku? Untuk
menyuruhku menunggu hingga ia datang dengan orang tuanya? Aku nyatanya ragu
akan semua kata itu. Ketika ia memutuskan hubungan denganku karena alasan
‘takut dosa’, aku bisa menerimanya karena aku sadar itu memang salah. Dan
ketika ia tiba-tiba pergi dengan sebuah janji akan menghalalkanku setelah ia
kembali, namun hingga kini ... “
Bulir
bening tanpa sadar menetes pada pipi putih Aisha, ia segera menghapus jejaknya
hingga sebuah suara menginterupsi kekhusyuan gadis itu.
Sha, aku menunggumu diperpustakaan
–Nisa-
Aisha
segera menyudahi ibadah dzuhurnya, hampir lupa bahwa hari ini ada kuliah siang.
Merapikan mukena, ia segera bergegas.
***
“Kau
akan datang ke pernikahannya Tyas, kan?” Nisa menyeruput es kopinya
sedikit, sedangkan Aisha hanya mengangguk dalam diam.
“Kau
kenapa sih, Sha?” tanya Nisa khawatir menyadari keadaan sahabatnya tidak
benar-benar baik hari ini.
“Aku
hanya teringat Arif, Nis. Aku takut,” ujar Aisha menunduk. Nisa mengusap punggung
tangan sahabatnya itu lembut, berusaha memberi sebuah ketenangan.
“Takut
kenapa? Takut Arif mengkhianati janjinya? Sudahlah Sha, kalau dia jodohmu pasti
datang kok. Tulang rusuk itu gak akan tertukar. Percayalah.”
“Tapi
....”
“Kau
meragukan janji Allah?” tanya Nisa yang lantas membuat Aisha terdiam cukup
lama. Hingga sebuah gelengan kecil dari Aisha berhasil membuat gadis itu
tersenyum.
“Nah,
kau tau kan. Jadi, Laa takhof, ukhti. Janji
Allah selalu benar.” Aisha tersenyum diikuti Nisa. Mereka lantas bangkit,
berjalan bersama menuju kelas.
-Menanti
memang melelahkan. Sebenarnya jarak bukan untuk menghukum seseorang, tapi
berusaha menjaga kefitrahan cinta sampai tepat pada waktunya. Dan masalah jodoh,
ingat! tulang rusuk seseorang tak akan pernah tertukar. Jika ia jodohmu, ia
akan datang untuk menghalalkanmu-
Bersambung ...
171217. Remake. CKH.

Comments
Post a Comment