Dalam Dekapan Cinta yang Tertunda (Sequel of Undangan) Part 7



Aku duduk sendirian dibangku taman kecil yang berada persis di depan kantor, sesaat setelah Fatima dan Dinda meminta diri untuk pulang terlebih dahulu. Di jam seperti sekarang ini kantor memang cukup sepi, mengingat mayoritas pegawai sudah pulang ke rumah mereka masing-masing. Ya, kecuali diriku yang masih setia menunggu Mas Rafka.

Dulu aku paling benci menunggu, apalagi sendirian. Dan kini bahkan aku tidak percaya, menunggu jadi hal yang menyenangkan. Aku membuka galeri foto, melihat-lihat barangkali ada fotoku dan Mas Rafka waktu pernikahan yang terselip. Aneh memang, ketika menikah aku bahkan tak memiliki foto selfie berdua dengan Mas Rafka.

Bangku yang kududuki sedikit berderit, “Sudah menunggu lama, Dek?” tanya seorang laki-laki yang seketika membuat senyumku mengembang. Mas Rafka mengulurkan tangannya padaku, yang langsung kusambut dengan mencium punggung tangannya.

“Tidak terlalu, Mas,” jawabku. Terlalu sibuk dengan ponsel, aku bahkan tidak tau Mas Rafka sudah tiba disini.

“Alhamdulillah. Maaf tadi mas ada rapat penting dan ponsel tertinggal di meja kerja, jadi balasnya lama,” ujar Mas Rafka menjelaskan. Aku mengangguk paham dan memakluminya. “Sudah makan, Dek?”

“Makan siang sudah, tapi makan malam belum,” jawabku yang dibalas senyum kecil dari Mas Rafka.

“Nanti mampir ke tempat makan dulu. Lalu sekarang kita mau menikmati senja dimana? Mas ikut maunya adek aja.” Aku berpikir sejenak, dimana tempat-tempat yang enak untuk menikmati waktu senja selain pantai?

“Bagaimana jika ke alun-alun kota saja, Mas? Jaraknya kan tidak terlalu jauh dari sini, nah nanti kita jalan saja.”

Mas Rafka terlihat menimbang usulanku, “Meskipun jaraknya dekat dan mungkin aku atau Mas sering kesana, tapi kita ndak pernah kesana berdua, Mas,” ujarku lagi. “Aku dengar dari Fatima, katanya disepanjang jalan menuju alun-alun, pohon angsananya sedang berbunga, pasti menyenangkan jika melihat bunganya berguguran karena tertiup angin dan berteduh disana.” tambahku.

Mas Rafka tiba-tiba menyentuh puncak kepalaku, tertawa kecil. “Ini baru pertama kalinya mas melihat adek bicara panjang lebar seperti itu. Lucu,” ia tertawa lagi dan sungguh, itu membuatku tersipu malu.

“Baiklah kita ke alun-alun. Mas juga mau tau rasanya jalan berdua di bawah gugurnya bunga angsana.” Aku tersenyum sangat lebar. Mas Rafka berdiri, ia menggenggam tanganku. “Berjalannya sambil berpegangan tangan?” tanya Mas Rafka padaku, aku terdiam sejenak, hingga kemudian aku mengangguk dan tersenyum lebih lebar dari sebelumnya.

Kami berjalan berdua, menikmati langkah demi langkah menuju alun-alun kota untuk menghabiskan senja bersama. Sungguh, aku tak bisa mendeskripsikan rasa ini. Sangat bahagia? Tentu. Bahkan lebih dari itu.

Genggaman tangan Mas Rafka semakin erat. Entahlah, aku tidak pernah tau bahwa bergandengan tangan ternyata senyaman ini.

Bersambung ...
Batang, 14 November 2017
[Edisi Revisi Maret 2019]


Comments