Aku duduk sendirian dibangku
taman kecil yang berada persis di depan kantor, sesaat setelah Fatima dan Dinda
meminta diri untuk pulang terlebih dahulu. Di jam seperti sekarang ini kantor
memang cukup sepi, mengingat mayoritas pegawai sudah pulang ke rumah mereka
masing-masing. Ya, kecuali diriku yang masih setia menunggu Mas Rafka.
Dulu aku paling benci menunggu,
apalagi sendirian. Dan kini bahkan aku tidak percaya, menunggu jadi hal yang
menyenangkan. Aku membuka galeri foto, melihat-lihat barangkali ada fotoku dan
Mas Rafka waktu pernikahan yang terselip. Aneh memang, ketika menikah aku
bahkan tak memiliki foto selfie berdua dengan Mas Rafka.
Bangku yang kududuki sedikit berderit,
“Sudah menunggu lama, Dek?” tanya seorang laki-laki yang seketika membuat
senyumku mengembang. Mas Rafka mengulurkan tangannya padaku, yang langsung
kusambut dengan mencium punggung tangannya.
“Tidak terlalu, Mas,” jawabku.
Terlalu sibuk dengan ponsel, aku bahkan tidak tau Mas Rafka sudah tiba disini.
“Alhamdulillah. Maaf tadi mas
ada rapat penting dan ponsel tertinggal di meja kerja, jadi balasnya lama,”
ujar Mas Rafka menjelaskan. Aku mengangguk paham dan memakluminya. “Sudah
makan, Dek?”
“Makan siang sudah, tapi makan
malam belum,” jawabku yang dibalas senyum kecil dari Mas Rafka.
“Nanti mampir ke tempat makan
dulu. Lalu sekarang kita mau menikmati senja dimana? Mas ikut maunya adek aja.” Aku berpikir sejenak, dimana tempat-tempat yang enak untuk menikmati waktu
senja selain pantai?
“Bagaimana jika ke alun-alun
kota saja, Mas? Jaraknya kan tidak terlalu jauh dari sini, nah nanti kita jalan
saja.”
Mas Rafka terlihat menimbang
usulanku, “Meskipun jaraknya dekat dan mungkin aku atau Mas sering kesana, tapi
kita ndak pernah kesana berdua, Mas,” ujarku lagi. “Aku dengar dari Fatima,
katanya disepanjang jalan menuju alun-alun, pohon angsananya sedang berbunga,
pasti menyenangkan jika melihat bunganya berguguran karena tertiup angin dan
berteduh disana.” tambahku.
Mas Rafka tiba-tiba menyentuh
puncak kepalaku, tertawa kecil. “Ini baru pertama kalinya mas melihat adek
bicara panjang lebar seperti itu. Lucu,” ia tertawa lagi dan sungguh, itu
membuatku tersipu malu.
“Baiklah kita ke alun-alun. Mas
juga mau tau rasanya jalan berdua di bawah gugurnya bunga angsana.” Aku
tersenyum sangat lebar. Mas Rafka berdiri, ia menggenggam tanganku.
“Berjalannya sambil berpegangan tangan?” tanya Mas Rafka padaku, aku terdiam
sejenak, hingga kemudian aku mengangguk dan
tersenyum lebih lebar dari sebelumnya.
Kami berjalan berdua, menikmati
langkah demi langkah menuju alun-alun kota untuk menghabiskan senja bersama.
Sungguh, aku tak bisa mendeskripsikan rasa ini. Sangat bahagia? Tentu. Bahkan
lebih dari itu.
Genggaman tangan Mas Rafka semakin erat. Entahlah, aku tidak pernah tau bahwa bergandengan tangan ternyata
senyaman ini.
Bersambung ...
Batang, 14 November 2017
[Edisi Revisi Maret 2019]
[Edisi Revisi Maret 2019]

Comments
Post a Comment