Dalam Dekapan Cinta yang Tertunda (Sequel of Undangan) Part 6




Tresno jalaran saka kulina, cinta tumbuh karena terbiasa. Sebuah pepatah dari Jawa yang cukup populer bahkan sampai saat ini. Kupikir pepatah tersebut hanya sebuah omong kosong belaka, nyatanya hal itu benar-benar terjadi padaku. Ya, aku mencintainya. Aku mencintai Mas Rafka dengan segala yang ada pada dirinya. Ia membuatku jatuh cinta, benar dengan caranya.

“As? Kamu kenapa? Senyum-senyum sendiri dari tadi seperti sedang jatuh cinta saja,” tegur Fatima yang kini sudah berdiri persis di depan meja kerjaku.

Aku memandang Fatima lama, masih dengan senyum yang bertengger pada bibir, “Terlihat jelas, ya?” tanyaku sok polos, menatapnya.

“Bukan jelas, tapi sangat jelas. Perasaan hari-hari pertama menikah kau biasa saja, tapi akhir-akhir ini kau sering tersenyum begitu. Apa Mas Rafka mu itu pria yang super romantis?” aku tersenyum kecil mendapati pertanyaan dari Fatima.

“Bukan super romantis, tapi lebih dari itu. Aku jatuh cinta pada Mas Rafka setiap saat, setiap hari dan setiap waktu,” jawabku masih dengan senyum kebanggaan yang tersungging. Benar, aku merasa bangga dicintai sosok seperti Mas Rafka.

“Baiklah baiklah. Bicara denganmu hanya membuat iri, As. Lalu, kapan jodohku bertamu?” tanya Fatima padaku. Aku refleks menyentuh tangannya yang berada di atas meja, memandang sahabatku itu lama.

“Percayalah, jodoh akan datang pada waktunya. Jika sampai saat ini tak kunjung tiba, bersabarlah. Persiapkan dirimu dengan matang untuk menyambutnya. Kau pasti tau, bahwa jodoh adalah cerminan dari diri sendiri. Jadi ... jangan ditekuk begitu wajahnya. Jelek tau.” aku tertawa kecil.

“Apa?” Fatima tidak terima dengan apa yang baru saja aku ucapkan, “Tapi kau lebih jelek dari aku, As,” ejeknya padaku.

“Meski jelek begini, yang penting Mas Rafka mencintaiku.” skak mat. Aku menjulurkan lidah pada Fatima kemudian tertawa. Sungguh perutku jadi sakit melihat ekspresi dari Fatima yang begitu kesal.

“Aku pergi,” ujarnya lantas melengos menuju meja kerja dia, dan aku masih saja tertawa. Hiburan siang hari ditengah dateline dan tugas yang menumpuk.

***

Mas, hari ini sibuk ndak? Kalau kita menikmati senja diluar bersama bagaimana?

Aku tersenyum setelah mengirim pesan whatsapp pada Mas Rafka. Centang dua, artinya sudah terkirim. Satu menit, dua menit, bahkan hampir setengah jam lebih Mas Rafka tidak kunjung membalas. Aku memandang layar ponsel, masih menunggu balasan seperti orang yang kurang kerjaan.

Ah. menghela napas panjang, rasanya sudah tidak sabar menunggu jawaban. Haruskah kukirim lagi atau aku telepon saja? Tapi mungkin Mas Rafka sedang sibuk, jadi tidak sempat membuka ponselnya. Tarik napas, keluarkan. Rileks. Tarik napas lagi, keluarkan pelan-pelan dan rileks. Meletakkan ponsel yang sedari tadi kupandangi, aku lantas segera melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda.

Sudah tiga jam lebih sejak aku mengirim pesan whatsapp pada Mas Rafka, dan kini bahkan sudah memasuki asar Mas Rafka tak jua membalas. Aku badmood. Sungguh. Apa ia benar-benar sibuk hingga tak sempat membalas pesan dari istrinya? kesalku.

“As, yuk sholat. Aku tunggu di musolla ya,” ujar Dinda yang kubalas anggukan kecil. Aku membereskan tumpukan kertas di atas meja, sambil beberapa kumasukkan dalam tas sebelum menyusul Dinda untuk sholat.

“Perlu kubantu?” tawar Fatima yang kini sudah berada di sampingku, sembari menenteng tas jinjing ditangannya. Sepertinya dia sudah melupakan kejadian dimana aku mentertawainya tadi siang.

“Tidak perlu, terima kasih. Duluan saja ndak apa-apa, Fat. Nanti aku menyusul. Dinda juga sudah di sana,” jawabku.

“Ada masalah? Kenapa wajahmu terlihat badmood begitu? Perasaan baru tadi siang mentertawaiku?” ujar Fatima menelisik wajah dan sikapku.

Aku menggeleng kecil, “Maaf tadi cuma bercanda. Aku kesal dengan Mas Rafka. Ini sudah lebih dari tiga jam dan ia belum juga membalas pesanku,” aku menghela napas panjang, menceritakan apa yang membuat wajahku begitu suram sore ini.

“Mungkin dia sibuk. Maklumilah, dan jangan berpikiran yang macam-macam. Pasti ia membalasmu, kok. Tenang saja. Baru juga tiga jam, As. Kau ini ....” Fatima menggelengkan kepalanya sambil tertawa kecil, seolah menganggap bahwa yang kukesalkan ini sesuatu sepele. Tapi memang begitu si.

“Ya. Aku tau. Ya sudah ayo sholat.” kami berdua lantas beranjak menuju musollah kantor ini.

***

Aku merapikan mukena yang baru saja kugunakan untuk sholat asar lantas memasukkannya ke dalam tas. Pikiranku seketika melayang, memperkirakan apa yang tengah dilakukan Mas Rafka hingga sampai detik ini pun pesanku belum dibalasnya.

Ah. Kesal.

“Wajahmu benar-benar tidak enak dipandang, As.” aku mendongak, mendapati Dinda dan Fatima yang kini ikut duduk di depanku, menyilangkan kedua kakinya.

“Sudah telepon saja, daripada badmood gitu. Atau aku yang telfonin?” Fatima mengeluarkan ponselnya.

Aku merebut ponsel itu, “Jangan,” ujarku spontan yang lantas membuat mereka berdua tertawa. 

“Mungkin Mas Rafka sibuk, jadi aku ndak mau menganggunya,” aku beralibi.

“Iya iya kami tau kok.” lagi. Mereka tertawa dan itu cukup menyebalkan untuk situasi yang seperti ini.

Drttt drtt. “Itu ponselmu bunyi,” aku mengambil ponsel yang saat ini masih kucharger di tempat yang lumayan jauh dari jangkauan. Aku beranjak dari duduk, mengambilnya.

Assalamualaikum ...

...

Iya mas ndak apa-apa. Aku tunggu di depan kantor ya

...

Wa’alaikumsalam

Senyumku seketika mengembang. Benar kan, Mas Rafka memang sibuk dan seharusnya aku bisa memaklumi sejak awal. Bayangan sebentar lagi akan jalan-jalan berdua dengan Mas Rafka rasanya begitu membuat berdebar. Ah. Jatuh cinta memang menyenangkan, apalagi dengan yang halal.


Bersambung ...
Batang, 23 Oktober 2017
[Edisi Revisi Maret 2019]

Baca juga: ( Part 7 )


Comments