Tresno jalaran saka kulina, cinta
tumbuh karena terbiasa. Sebuah pepatah dari Jawa yang cukup populer bahkan
sampai saat ini. Kupikir pepatah tersebut hanya sebuah omong kosong belaka,
nyatanya hal itu benar-benar terjadi padaku. Ya, aku mencintainya. Aku
mencintai Mas Rafka dengan segala yang ada pada dirinya. Ia membuatku jatuh
cinta, benar dengan caranya.
“As? Kamu kenapa? Senyum-senyum
sendiri dari tadi seperti sedang jatuh cinta saja,” tegur Fatima yang kini
sudah berdiri persis di depan meja kerjaku.
Aku memandang Fatima lama, masih
dengan senyum yang bertengger pada bibir, “Terlihat jelas, ya?” tanyaku sok
polos, menatapnya.
“Bukan jelas, tapi sangat jelas.
Perasaan hari-hari pertama menikah kau biasa saja, tapi akhir-akhir ini kau
sering tersenyum begitu. Apa Mas Rafka mu itu pria yang super romantis?” aku
tersenyum kecil mendapati pertanyaan dari Fatima.
“Bukan super romantis, tapi
lebih dari itu. Aku jatuh cinta pada Mas Rafka setiap saat, setiap hari dan
setiap waktu,” jawabku masih dengan senyum kebanggaan yang tersungging. Benar,
aku merasa bangga dicintai sosok seperti Mas Rafka.
“Baiklah baiklah. Bicara
denganmu hanya membuat iri, As. Lalu, kapan jodohku bertamu?” tanya Fatima
padaku. Aku refleks menyentuh tangannya yang berada di atas meja, memandang
sahabatku itu lama.
“Percayalah, jodoh akan datang
pada waktunya. Jika sampai saat ini tak kunjung tiba, bersabarlah. Persiapkan
dirimu dengan matang untuk menyambutnya. Kau pasti tau, bahwa jodoh adalah cerminan
dari diri sendiri. Jadi ... jangan ditekuk begitu wajahnya. Jelek tau.” aku
tertawa kecil.
“Apa?” Fatima tidak terima
dengan apa yang baru saja aku ucapkan, “Tapi kau lebih jelek dari aku, As,”
ejeknya padaku.
“Meski jelek begini, yang
penting Mas Rafka mencintaiku.” skak mat. Aku menjulurkan lidah pada Fatima
kemudian tertawa. Sungguh perutku jadi sakit melihat ekspresi dari Fatima yang
begitu kesal.
“Aku pergi,” ujarnya lantas
melengos menuju meja kerja dia, dan aku masih saja tertawa. Hiburan siang hari
ditengah dateline dan tugas yang menumpuk.
***
Mas, hari ini sibuk ndak?
Kalau kita menikmati senja diluar bersama bagaimana?
Aku tersenyum setelah mengirim pesan whatsapp pada Mas Rafka. Centang dua, artinya sudah terkirim. Satu menit, dua
menit, bahkan hampir setengah jam lebih Mas Rafka tidak kunjung membalas. Aku
memandang layar ponsel, masih menunggu balasan seperti orang yang kurang
kerjaan.
Ah. menghela napas panjang,
rasanya sudah tidak sabar menunggu jawaban. Haruskah kukirim lagi atau aku
telepon saja? Tapi mungkin Mas Rafka sedang sibuk, jadi tidak sempat membuka
ponselnya. Tarik napas, keluarkan. Rileks. Tarik napas lagi, keluarkan
pelan-pelan dan rileks. Meletakkan ponsel yang sedari tadi kupandangi, aku
lantas segera melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda.
Sudah tiga jam lebih sejak aku
mengirim pesan whatsapp pada Mas Rafka, dan kini bahkan sudah memasuki asar Mas Rafka tak jua membalas. Aku badmood. Sungguh. Apa ia benar-benar sibuk hingga tak
sempat membalas pesan dari istrinya? kesalku.
“As, yuk sholat. Aku tunggu
di musolla ya,” ujar Dinda yang kubalas anggukan kecil. Aku membereskan tumpukan
kertas di atas meja, sambil beberapa kumasukkan dalam tas sebelum menyusul Dinda
untuk sholat.
“Perlu kubantu?” tawar Fatima
yang kini sudah berada di sampingku, sembari menenteng tas jinjing ditangannya.
Sepertinya dia sudah melupakan kejadian dimana aku mentertawainya tadi siang.
“Tidak perlu, terima kasih.
Duluan saja ndak apa-apa, Fat. Nanti aku menyusul. Dinda juga sudah di sana,”
jawabku.
“Ada masalah? Kenapa wajahmu
terlihat badmood begitu? Perasaan baru tadi siang mentertawaiku?” ujar Fatima
menelisik wajah dan sikapku.
Aku menggeleng kecil, “Maaf tadi
cuma bercanda. Aku kesal dengan Mas Rafka. Ini sudah lebih dari tiga jam dan ia
belum juga membalas pesanku,” aku menghela napas panjang, menceritakan apa yang
membuat wajahku begitu suram sore ini.
“Mungkin dia sibuk. Maklumilah,
dan jangan berpikiran yang macam-macam. Pasti ia membalasmu, kok. Tenang saja.
Baru juga tiga jam, As. Kau ini ....” Fatima menggelengkan kepalanya sambil
tertawa kecil, seolah menganggap bahwa yang kukesalkan ini sesuatu sepele. Tapi
memang begitu si.
“Ya. Aku tau. Ya sudah ayo
sholat.” kami berdua lantas beranjak menuju musollah kantor ini.
***
Aku merapikan mukena yang baru saja kugunakan untuk sholat asar
lantas memasukkannya ke dalam tas. Pikiranku seketika melayang, memperkirakan
apa yang tengah dilakukan Mas Rafka hingga sampai detik ini pun pesanku belum
dibalasnya.
Ah. Kesal.
“Wajahmu benar-benar tidak enak dipandang, As.” aku mendongak,
mendapati Dinda dan Fatima yang kini ikut duduk di depanku, menyilangkan kedua
kakinya.
“Sudah telepon saja, daripada badmood gitu. Atau aku yang
telfonin?” Fatima mengeluarkan ponselnya.
Aku merebut ponsel itu, “Jangan,” ujarku spontan yang lantas
membuat mereka berdua tertawa.
“Mungkin Mas Rafka sibuk, jadi aku ndak mau
menganggunya,” aku beralibi.
“Iya iya kami tau kok.” lagi. Mereka tertawa dan itu cukup
menyebalkan untuk situasi yang seperti ini.
Drttt drtt. “Itu ponselmu bunyi,” aku mengambil ponsel yang saat
ini masih kucharger di tempat yang lumayan jauh dari jangkauan. Aku beranjak
dari duduk, mengambilnya.
Assalamualaikum
...
...
Iya
mas ndak apa-apa. Aku tunggu di depan kantor ya
...
Wa’alaikumsalam
Senyumku seketika mengembang. Benar kan, Mas Rafka memang sibuk dan
seharusnya aku bisa memaklumi sejak awal. Bayangan sebentar lagi akan
jalan-jalan berdua dengan Mas Rafka rasanya begitu membuat berdebar. Ah. Jatuh cinta memang menyenangkan, apalagi dengan yang halal.
Bersambung
...

Comments
Post a Comment