Tiga Jari Malu-Malu
Canggung
adalah alasan, kenapa tiga jarimu (ku) malu-malu.
Pagi itu masih sepi, anak-anak sekolah bahkan belum berangkat untuk
menimba ilmu. Aku dan Mb Dila sibuk menyetreples kotak makan untuk selametan
keponakanku yang akan dikhitan. Berhubung straples hanya satu, karena yang satu
rusak, jadilah pekerjaan yang sudah dari semalam ini tak kunjung usai.
“Ras, minta uang bulek sana. Buat beli straples sama isinya. Biar
ndak kerepotan gini,” ujar Mb Dila.
“Tapi kan masih pagi mb. Tokonya Pak Abdul apa sudah buka?”
tanyaku.
“Sudah.” aku kemudian meminta uang bulek untuk membeli straples
beserta isinya di toko Pak Abdul yang tidak jauh dari rumah simbah (rumah
simbah juga adalah rumah bulek).
Berjalan. Sendiri. Walaupun jaraknya hanya kurang lebih seratus
meter, aku menempuhnya dengan berjalan pelan. Setiap jalan yang aku lewati,
mengingatkanku tentang masa kecil. Aku biasa bermain disini bersama teman-teman
lain. Entah bermain petak umpet, sudamanda, rok ndodok, rok rembet, dan
lain sebagainya. Oke, aku memang lahir dan tumbuh di sini. Hingga saat SMP aku
pindah rumah. Tetapi semua kenangan masa kecil masih kusimpan rapi.
Tanpa sadar sampailah aku di depan toko Pak Abdul. Alhamdulillah
sudah buka dan aku menjadi pembeli satu-satunya pagi itu.
“Tumbas ....” aku terdiam tanpa sadar. “Tumbas straples
setunggal,” lanjutku. Kulihat dia juga sedikit terkejut dengan kedatanganku.
Meletakkan satu plastik gula yang baru ia timbang, lantas menatapku sekilas
dengan senyum tiga jarinya sebelum kemudian matanya berlalu entah kemana.
Lima detik kami terdiam “Laras? Kok di sini?” tanyanya kemudian.
Aku mengangguk kecil dengan senyum tipis.
“Iya. Kan Syahrul dikhitan,” jawabku. Dia juga mengangguk tau.
“Tadi apa? Straples?”
“Iya,” kulihat dia mecari-cari letak barang yang akan aku beli itu
di etalase toko.
“Sekarang nerusin dimana, Ras? tanyanya padaku tanpa memandang dan
masih sibuk mencari straples.
“Aku di Pekalongan.”
“Kenapa gak ke Semarang saja?”
“Itu, ndak keterima,” jawabku jujur.
“Loh, kamu ambil jurusan yang passing grade nya tinggi?” tanyanya
lagi dan masih belum menemukan straples yang akan kubeli itu.
“Ndak juga kok. Mungkin memang takdirnya disini,” ujarku. Dia
mengangguk membenarkan pula. “Kamu di Surabaya mondok lagi atau cuma kuliah?”
aku bertanya.
“Mondok sambil kuliah.”
“Straplesnya kok gak ada ya. Bentar.” dia masuk ke dalam, “Bu, straples
ten pundi?” kudengar ia bertanya pada ibunya dan sesaat kemudian, ia telah
kembali dengan satu kotak straples.
“Satu?” aku mengangguk. Ia memberikan satu buah straples padaku.
“Berapa?”
“Delapan ribu,” aku memberikan uang sepuluh ribu, dan mendapat
kembalian dua ribu.
“Matur nuwun,” ujarku yang lantas mendapat anggukan serta
senyuman kecil darinya. Senyum tiga jari yang menciptakan lesung pipit dikedua
pipinya itu. Jangan sampai senyum itu terngiang untuk kesekian kalinya. Ya.
Jangan. Sampai.
***
Aku berjalan pulang untuk melanjutkan aktivitas menyetrepes tadi.
Entahlah, kenapa rasanya aku kembali ke masa dulu, ketika masih dekat
dengannya. Dekat sebagai teman sepermainan. Tapi kali ini berbeda, jika dahulu
semua masih hambar, pertemuan untuk pertama kali setelah perpisahan lima tahun
ini ada sedikit canggung. Mungkin karena kami sama-sama sudah besar.
Dia namanya Dimas. Teman satu kampung, satu sekolah madrasah, dan
teman sepermainan meskipun kami beda satu tahun. Teman-temanku dulu pernah
mengatakan bahwa Dimas menyukaiku dan aku pun juga merasa begitu meskipun
terlambat. Kuanggap rasa yang dulu hanya sebuah cinta monyet belaka.
SD kami beda. Dia SD 1 dan aku SD 2 yang hanya terpisahkan oleh
jembatan kecil. Sekolah madrasah kami sama, dan kami bahkan sering berebut
dalam hal prestasi ranking. Kemudian SMP, aku berhasil masuk SMP yang sama
dengannya. Menjadi adik kelasnya selama tiga tahun. Setelah dia lulus, dia
memutuskan untuk merantau, menimba ilmu di sebuah pondok pesantren cukup
tersohor di Jawa Timur hingga lulus SMA dan kemudian melanjutkan kuliah disana.
Sejak itu, kami lost contact.
Tapi pagi ini aku melihat dia di toko milik abahnya. Satu kata yang
bisa kuungkap adalah, dia berbeda. Dulu tingginya sama denganku, tapi sekarang
aku bahkan hanya sepundaknya saja. Tapi kurasa hanya masalah tinggi yang
terlihat mencolok. Nyatanya senyum tiga jari berlesung pipit itu masih sama
seperti dulu.
“Ras, ini hp mu tertinggal,” aku menoleh, melihat Dimas yang sudah
berdiri di sampingku sembari menyodorkan sebuah hp yang kuyakini milikku.
Aku mengerjapkan mata beberapa kali, sedikit terkejut,
“Astaugfirullah,” aku mengambilnya dari tangan Dimas. “Matur nuwun. Tadi
kelupaan,” ujarku sambil tersenyum kecil, malu.
“Lain kali jangan lupa lagi,” aku mengangguk kecil, Dimas tersenyum
lantas pergi meninggalkan tempatku berpijak saat ini.
Oke. Ini bukan senyum tiga jari berlesung pipitnya yang malu-malu.
Tapi jelas, itu senyumku yang terasa malu-malu!
End
Batang, 19 September 2017

Comments
Post a Comment