Waktu semakin berjalan, dan kupikir mudah untuk merelakanmu. Nyatanya rinai ini masih turun kala sosokmu melintas begitu saja. Allah, rahmatilah dia. Sahabatku.
***
Aku mengenalnya di Majelis Ta’lim “Darul Falah”. Saat itu aku tercatat sebagai anak pindahan, orang baru, dan santri baru. Dia, namanya Nurul, salah satu teman pertamaku di majelis. Kami sering bersama, dan aku masih ingat, kami selalu duduk paling belakang ketika “ngaji kuping”.
Aku tidak menghitung berapa tahun kami menghabiskan waktu kala itu, yang jelas saat SMA, Nurul memutuskan untuk mondok, dan sejak itulah kami lost contact. Tiga tahun berlalu tanpa kabar.
Malam itu, aku tengah asik melihat beranda Facebook, membaca status teman-temanku. Dan ya, aku melihat status Nurul, iseng, aku memberi komentar. Kusapa ia. Kutanya kabarnya. Dan akhirnya pembicaraan ini berujung pada “mau masuk ke kampus mana” karena pada waktu itu kami memang sudah lulus dan sedang ikut seleksi masuk universitas.
Tepat siang, ba’da dzuhur setelah kami berbagi komentar di Facebook, ia datang ke rumahku. Katanya mau dolan, dan memang sudah lama sekali ia dan aku tak saling berkunjung ke rumah. Kami saling bertukar cerita selama perpisahan masa SMA dan rencana studi masa depan. Nurul bercerita, ia akan ikut ujian mandiri PTKIN yang pada saat itu aku sudah diterima lewat jalur raport. Dan ya, kedekatan yang dulu pernah berjarak karena keadaan, kini kembali lagi seperti saat pertama berjumpa di majelis.
Kurangkai lagi serpihan-serpihan masa lalu yang hampir usang. Menjadi bingkai-bingkai kenangan indah yang kurajut bersama dengannya.
Kami satu kampus. Satu fakultas. Beda jurusan. Temanku temannya. Temannya temanku. Begitulah. Dia dan aku berbeda. Dia sangat cerewet, dengan suara yang cempreng nyaring dan juga keras. Jika aku? Aku kalem. Jika suara Nurul 7 oktaf, maka aku setengahnya lebih sedikit. Dia kocak, dan kami menutupi kekurangan satu sama lain. Kadang kami berangkat ke kampus bersama jika jadwal sama. Sering berjumpa ketika pergantian mata kuliah dan kelas. Saat berjumpa seperti biasa, dia menyapaku dengan suara yang MasyaAllah. Sampai teman-temanku mengenalnya karena itu. Berjalan dua semester. Tak terasa satu tahun sudah kami merajut kebersamaan.
Sore itu, hari Jum’at. Afni. Salah seorang sahabatku yang juga dekat dengan Nurul tiba-tiba datang ke rumah. Ia mengatakan, Nurul di Rumah Sakit. Tadi malam baru cuci darah. Dia sekarang di ruang ICU. Kakiku seketika lemas. Bumi seakan ambruk menghantam diriku. Aku tak menyangka. Ya Allah, baru empat hari yang lalu dia berkunjung ke rumahku bersama Afni. Dia tampak sehat. Dia baik-baik saja sejauh kuperhatikan fisiknya.
Aku berencana mengunjunginya setelah keluar dari ruang ICU dan segera mengabarkan ke teman-teman yang lain. Sabtu malam, aku cerita pada ibu bapak mengenai keadaan Nurul. Mereka sangat terkejut, sama sekali tidak menyangka seperti saat pertama kali aku mendengar kabar itu.
Hari Sabtu pagi aku memang ada acara seminar di Semarang selama 2 hari. Aku sudah membeli tiket kereta jam 6 pagi dan pulang Minggu sore. Malam setelah kusampaikan keadaan Nurul pada bapak ibuku, aku mengemasi barang-barang untuk kubawa ke Semarang esok hari. Meskipun dengan perasaan tak enak, aku tetap melakukannya sebab itu memang sudah menjadi agendaku yang sudah kusiapkan sangat matang tiga minggu lalu bersama dengan beberapa temanku.
Sebelum subuh aku bangun, mandi, dan mengecek beberapa barang bawaan yang mungkin kelupaan sembari menunggu adzan subuh berkumandang. Tepat setelah iqomah, aku menggelar sajadah. Bersiap untuk menjumpai sang ilahi rabbi dengan membawa sejuta pengharapan. Ketika akan kuangkat tangan untuk takbir, kudengar siaran orang meninggal dari speaker musolla yang dekat dengan rumahku. Aku berhenti sejenak, rasanya hati ini sudah tak enak. Kuharap bukan dia, Ya Allah. Batinku memohon.
Satu nama yang sukses membuat airmata ini menetes tanpa henti. Kakiku lemas, seolah tak dapat berpijak ke tanah. Aku menangis. Meski begitu, aku dengan segera menjalankan kewajiban sholat subuh, walaupun dengan airmata yang sesekali menetes tanpa kusadari.
Selesai sholat aku menangis sejadinya. Afni menelepon, dan kami pun menangis bersama. Kami belum sempat mengunjunginya di rumah sakit, dan ia sudah berpulang lebih dulu. Saat itu aku galau. Bagaimana dengan seminar, tiket kereta, dan semuanya? Aku tak mungkin meninggalkan Nurul untuk terakhir kalinya hanya untuk ke Semarang. Tapi disatu sisi aku ingin itu. Bahkan sebelumnya pun aku sudah pernah mengatakan pada Nurul bahwa aku akan ke Semarang 2 hari dan itu adalah hari yang sangat kunantikan.
Jam setengah 6 pagi aku masih dirumah. Setengah hati ingin pergi, setengah hati ingin tinggal. Tetapi kemudian aku memutuskan untuk pergi. Sebuah keputusan yang memang tidak aku ambil dari hati. Aku berangkat ke stasiun diantar bapak. Ditengah perjalanan aku sudah dikontak teman-temanku untuk segera sampai stasiun karena kereta sudah datang. Persis ketika aku mau menyebrang rel kereta yang 50 meter lagi sampai stasiun, aku harus berhenti karena ada kereta yang akan lewat. Teman-temanku sudah geger menanyakan dimana aku sekarang. Kujawab saja aku tengah menunggu kereta lewat dan ternyata kereta yang kutunggu adalah keretaku yang akan membawa ke Semarang. Disitu aku merasa konyol sekaligus lega. Entahlah, bukan rasa sesal yang muncul, namun sebuah kelegaan hati. Aku lantas bilang pada bapak, bahwa yang lewat tadi keretaku dan aku ingin pulang saja, menemani Nurul untuk yang terakhir kalinya.
Setelah kusampaikan maaf pada teman-temanku dan kusampaikan berita duka atas berpulangnya Nurul, pagi itu aku pulang, bukan pulang ke rumah, tetapi ke rumahnya Afni. Masih dengan barang bawaan, aku di rumah Afni. Saudara Nurul datang, beliau menyuruhku dan Afni untuk pergi ke kampus dan mengabarkan pihak kampus tentang berita duka ini dan juga mengabarkan ke teman-temannya. Waktu itu memang tengah libur semester, jadi otomatis banyak mereka yang tengah pulang kampung dan kampus juga sepi. Meski begitu aku tetap mengabarkan berita duka hingga sampai ke telinga dosen pembimbing Nurul dan juga pihak rektorat.
Setelah mengurus ini dan itu, aku segera menghampiri rumah duka. Kulihat ia tidur, seluruh tubuhnya tertutup kain jarit. Disekelilingnya terlihat orang-orang membacakan surat yasin sembari menangis. Aku menghampirinya, duduk disamping tubuhnya dengan perasaan masih tak percaya. Aku mencoba berbohong pada diriku sendiri bahwa dia masih ada. Dia masih sehat. Namun faktanya, netra ini nyata memandang bahwa ia sudah tak berdaya. Ia telah berpulang ke rahmatullah. Mulutku membacakan ayat-ayat suci yang kukhususkan untuknya. Lagi-lagi aku tak dapat menahan rinai ini yang selalu menetes disetiap ayat yang kuucap. Bibirku bergetar, dadaku sesak menyaksikan sosok sahabat yang kemarin sehat-sehat saja kini sudah terbaring tak bernyawa dihadapanku. Aku menangis, sesenggukan. Rasanya tak sanggup melanjutkan bacaan ayat ini ketika wajahnya tergambar jelas dibayanganku. Afni dengan segera menggenggam tanganku yang bergetar dan juga membelai pundakku. Menguatkan meskipun ia juga sangat sedih dan terpukul karena itu.
Kuselesaikan bacaan suratku dengan susah payah diiringi tangisan pilu. Allah, nyawa memang hanya Engkau yang tau. Kuharap Engkau menerima amal ibadah dan menghapus segala kekhilafannya selama hidup didunia. Semoga Engkau menjauhkannya dari siksa kubur dan menempatkan ia disisiMu yang paling layak. Amin.
Aku menemani Nurul hingga ia dibawa ke liang kubur. Rinaiku tak pernah usai turun, menatap kepergiannya yang meninggalkan sejuta kenangan berharga.
Di minggu yang entah keberapa. Aku benci menghitung waktu ketika itu menyangkut dengan kepulanganmu yang tak akan pernah kembali. Aku mencoba untuk tak menulis apapun kisahmu, kisah kita, namun nyatanya serpihan rindu ini yang membawaku untuk kembali mengenang masa kita bersama dulu.
Adakah yang lebih menyakitkan, dari perpisahan untuk selamanya?
Kamu menamparku untuk selalu memperbaiki diri. Menjalankan kewajiban dan menjauhi laranganNya. Karena umur, tak ada yang tau.
Batang, 28 Agustus 2017
Kuliah perdana yang lantas membuatku teringat lagi akan sosokmu.

Comments
Post a Comment