Apa?



Setetes embun rindu yang membasahi kalbu. Dingin. Lantas, kapan kah kau tiba tuk menghangatkannya? -Aisha Syahnazahra-

Tok tok tok ...

“Nduk, itu ada tamu.”

Aku segera menutup buku diary, meletakkannya asal di atas meja.

“Siapa, bu?” aku menoleh, menatap ibu yang kini berdiri di samping pintu kamarku lantas menghampirinya.

“Katanya temanmu. Ada dua orang. Laki-laki semua.” aku terdiam sejenak. Laki-laki? dua orang? siapa kiranya. Bahkan bisa dihitung dengan jari laki-laki yang pernah berkunjung kerumah.

“Siapa ya? Sebelumnya pernah kesini ndak, bu?”

“Sepertinya belum. Sudah sana temui. Kasian menunggu lama.”

Aku segera berjalan ke ruang tamu, diikuti ibu di samping dengan rasa yang bertanya-tanya.
Sebuah senyum tipis tiga jari langsung menyapaku begitu pandangan kami berjumpa. Aku cukup terkejut, gugup tiba-tiba menerjang. Apa ini mimpi? batinku tak percaya.

“Siapa nama kalian, nak? Sepertinya ibu baru melihat kalian kemari.” tanya ibuku langsung ketika sudah mendudukkan dirinya di atas sofa ruang tamu.

“Saya Prasetya, bu. Teman satu organisasi Aisha di kampus, tapi sekarang sudah lulus,” jawab seorang laki-laki berkemeja putih itu sopan. “Dan ibu bisa memanggil saya Pras,” tambahnya lagi dengan senyuman. Aku sangat ingat, Mas Pras adalah katingku di UKM LDK. Mungkin ini kali kedua aku melihatnya setelah dua tahun lalu ia sudah lulus dan mendapat gelar sarjana. Yang pertama aku melihatnya saat ada acara sarasehan bersama para alumni LDK dua minggu yang lalu, dan yang kedua disini. Aku sendiri masih bingung kenapa Mas Pras bisa kemari dan apa tujuannya. Mengingat kami bahkan tidak dekat sama sekali.

“Oh nak Pras. Kalau yang ini?” tanya ibu sembari menatap laki-laki yang duduk disebelah Mas Pras.

“Saya Ares, bu. Teman Aisha waktu SMA.”

“Oh ini tho yang namanya Ares.” aku terbatuk, sengaja. Mataku melirik ke arah ibu dengan wajah yang sudah panik. Ibu yang sadar segera melanjutkan bicaranya. Kulihat Mas Pras dan Ares terlihat saling menatap, mungkin bingung dengan maksud perkataan ibu barusan. Karena memang selama sekolah, baru kali ini Ares datang ke rumahku. Jadi mana mungkin ibu tau namanya.

“Nak Ares berarti masih kuliah? sama seperti Aisha?” tanya ibu langsung memecah kebingungan kedua laki-laki ini.

“Sudah lulus tahun kemarin, bu.” jawabnya. Aku mengernyitkan dahi. Sudah lulus? Bukankah ia sama denganku? “Saya kuliah lebih cepat dari teman-teman lain. Dan sekarang sudah bekerja di salah satu perusahaan negara bersama Mas Pras.”

“Oh begitu. Kalian saudara?”

“Iya. Kami hanya selisih dua tahun,” jawab Mas Pras yang diikuti dengan anggukan oleh Ares. Sungguh mengejutkan. Aku bahkan baru tau jika Ares adalah adiknya Mas Pras. Kenapa dunia begitu sempit?

“Lalu tujuan kalian kemari untuk apa?” tanya ibu yang entah kenapa tiba-tiba membuat jantung ini berdebar tidak karuan. Sesekali aku mencuri pandang ke arah Ares. Sungguh, aku sangat merindukan sosoknya lama. Semua terasa seperti mimpi bisa melihatnya secara nyata sekarang. Dan yang lebih mengejutkan, ia datang kerumah. Ya, kerumah.

“Untuk silaturahmi sekaligus mau bertemu dengan bapaknya Aisha.” jawab Ares. Rasanya jantung ini hampir meledak. Ini terlampau mengejutkan dan ... membahagiakan tentu saja.

“....” ibu terdiam sejenak, begitu pula denganku.

“Bapaknya Aisha sedang ke kebun belakang. Mungkin sebentar lagi pulang. Mau menunggu?” tanya ibu yang kemudian dibalas anggukan kecil.

“Aku kebelakang dulu, ya.” aku pamit, meninggalkan ibu dan dua orang laki-laki ini untuk membuat teh dan makanan ringan.

Aku membuat empat gelas teh hangat, kemudian memotong buah melon yang ada di kulkas untuk disajikan nanti dan juga beberapa buah kelengkeng serta pisang hijau.

“Nduk, itu nak Ares yang selalu kamu ceritakan?” tanya ibuku tiba-tiba yang sudah berada di samping aku berdiri.

“Astaugfirullah. Ibu mengagetkan.” Kulihat ibu hanya meringis kecil.

“Itu benar nak Ares yang selalu kamu ceritakan?” tanya ibu lagi. Aku hanya mengangguk kecil menginyakan.

“Aku bahkan sangat terkejut dia bisa datang kemari. Allah mengabulkan doaku, bu,” ujarku bahagia. Bahkan sangat bahagia. Bagaimana tidak, Ares adalah teman satu kelas dulu dan tanpa sadar aku menyukainya hingga kini. Meskipun setelah lulus SMA kami bahkan lost contact, dan aku hanya tau kabarnya lewat postingan-postingan di media sosial yang sering aku stalking. Dia yang bersekolah di Jogja dan mengambil jurusan teknik, sama seperti Mas Pras yang juga dijurusan teknik namun berbeda universitas. Aku tak pernah lelah untuk menantinya dan sekarang semua terlihat jelas dan nyata.

“Ibu turut bahagia, nduk,” ujar ibuku. “Lalu kalau nak Pras?”

“Mas Pras itu katingku di UKM LDK. Dia ketua LDK selama dua periode dan sangat disegani. Orangnya bijaksana, sederhana, dan alim. Bahkan banyak anggota LDK yang kagum dan suka dengannya, terutama mereka yang perempuan.”

“Tapi tidak termasuk kamu, nduk?”

“Aku kagum dengannya, bu. Kagum dengan sifat dan caranya saat memimpin. Tapi hanya sebatas kagum, tidak lebih,” jawabku.

“Karena suka mu hanya untuk adiknya, kan?” ibu menggodaku dan aku hanya tersenyum sekaligus tersipu malu.

“Ah ibu ....”

“Assalamualaikum. Ada tamu, nduk? kok membuat banyak teh begitu?” aku menoleh kebelakang, mendapati bapak yang sudah berdiri tidak jauh dari kami. Bapak meletakkan arit yang dibawanya dari kebun lantas menutup pintu belakang sebelum menghampiri kami.

“Wa’alaikumsalam. Iya, pak,” jawabku.

“Itu tamunya sudah menunggu bapak,” ujar ibu yang membuat dahi bapak berkerut.

“Siapa, bu? teman bapak kah?”

“Bukan. Itu calonnya Aisha.”

“Ibu.” aku tersipu lagi.

“Apa?” bapak terkejut dengan ekspresi bingung.

“Sudah temui saja. Nanti bapak juga bakal tau. Nduk, kalau sudah jadi segera bawa ke depan. Tamunya kasian menunggu terlalu lama.”

“Iya, bu.”

***

“Silakan dinikmati,” ujarku setelah meletakkan teh hangat dan beberapa makanan ringan ke atas meja.

“Iya terima kasih,” jawab Ares dan juga Mas Pras hampir bersamaan. Aku mengangguk kecil, lantas bergegas pergi ke belakang lagi.

“Mau kemana, nduk? sudah disini saja.” bapak menyuruhku untuk ikut bergabung. Aku lantas segera memposisikan diri, duduk di samping kanan bapak. Persis di depan Ares. Dalam sepersekian detik, jantung ini sudah bertalu-talu hebat ketika Ares menyunggingkan senyumnya padaku.

“Jadi nak Pras ini kating senior Aisha dalam organisasi? dan nak Ares ini teman SMA sekaligus adik dari nak Pras?” tanya bapak pada Mas Pras.

“Iya, pak,” jawab Mas Pras.

“Berarti kalian berdua sudah banyak tau tentang Aisha? Misal sifat baik buruknya atau kebiasaannya?”

“Iya, pak. Sedikit banyak saya sudah tau,” jawab Mas Pras lagi. Aku tidak tau apa yang sudah dibicarakan ibu dan bapak kala aku masih membuat camilan di belakang. Tapi sepertinya obrolan mereka cukup serius.

“Bapak memberi restu karena sepertinya kamu orangnya baik dan bertanggung jawab. Kalau ibu bagaimana?” tanya bapak kemudian menoleh ke arah ibu.

“Ibu juga memberi restu,” jawab ibu.

“Kami sudah memberi restu, tapi semuanya tergantung pada Aisha. Bagaimana, nduk?” aku mengerjapkan mata beberapa kali. Bumi seakan berhenti berotasi. Lidahku kelu untuk sekedar menjawab dan kepalaku seakan membatu untuk sekedar mengangguk. Semua ini terlampau mengejutkan meskipun sebenarnya aku sudah bisa menebak apa yang akan terjadi. Aku diam cukup lama, hingga kemudian sebuah suara menyadarkanku.

“Aisha, mau kah kamu menikah denganku?” laki-laki berkemeja putih itu berucap, menatapku dengan pengharapan penuh yang terpancar dari sorot matanya. Dan dia adalah ... Mas Pras. Ya, Mas Pras melamarku. Bukan Ares.

“APA???”

End

Batang, 13 Agustus 2017

Comments