Senyum Kegagalan (Part 3)




Awal perjuangan yang membuat galau

Batang, Juni 2016

Sore itu Laras ke rumah Mbak Dila untuk bersama membeli tiket kereta di Alfamart. Sempat diliputi kebingungan tatkala harus membeli tiket jurusan Stasiun Poncol atau Stasiun Tawang. Kemudian mereka browsing tentang transportasi paling mudah ke daerah Tembalang, tempat tes berlangsung dan ternyata lebih mudah turun dari Stasiun Tawang. Kemudian mereka memutuskan untuk membeli tiket pergi pulang. Dengan keberangkatan jam 7 pagi dan pulang lusa jam 4 sore.

“Ras, kita jadi nginep di rumah saudara temenmu, kan?” tanya Mbak Dila. Laras mengangguk kecil mengiyakan.

“Kemarin kata temenku boleh nginep di sana. Jadi kita ndak usah bingung lagi, mbak.”

“Baguslah kalau begitu. Lagipula aku juga sudah membatalkan tawaran dari Mas Angga. Rasanya ndak enak banget, padahal aku yang pertama minta tolong tapi akhirnya ndak jadi.”

Mas Angga adalah salah satu mahasiswa asal Batang yang belajar di perguruan tinggi yang akan digunakan tempat tes oleh Laras dan juga Mbak Dila. Dia yang bersedia membantu adik kelasnya untuk mencari kos sementara, dan membantu segala keperluan di sana bersama mahasiswa Batang lain.

“Sebenarnya aku juga merasa ndak enak sih. Tapi kalau dipikir, nanti Mas Angga minta tolong sama teman perempuannya untuk ngasih tempat nginep ke kita. Terus katanya dia juga yang bakal mengantarkan ke ruangan tempat tesnya yang jaraknya lumayan jauh dari kos. Itu lebih-lebih merepotkan menurutku. Jadi langkah paling baik kita nginep di rumah saudara temenku, nanti kita cari ruangan tes bareng-bareng gitu.”

“Iya aku juga setuju, Ras.”

***

-Ibad
Assalamualaikum.
Maaf, Ras. Ternyata Ari ndak bisa ngajak kamu dan temenmu nginep di rumah saudaranya. Maaf ya, aku udah ngomong iya ke kamu tapi ternyata akhirnya ndak bisa. Soalnya kita udah kebanyakan anak, sedangkan rumah saudaranya Ari sempit. Maaf sekali lagi, Ras.

H-3 sebelum ujian dan teman Laras tiba-tiba mengirim sms semacam itu. Oke, rasanya bahkan mau marah karena dia ndak ngomong sejak jauh-jauh hari. Lalu sekarang? Semua kacau. Seandainya Laras meminta untuk diantar oleh bapaknya, sungguh ia tidak akan tega. Lagipula tiket kereta pulang pergi sudah ditangan. Jika nekad pergi sendiri, nanti mau nginep di mana. Jika minta tolong Mas Angga lagi, itu sungguh tidak mungkin. Bingung. Galau, dan semuanya semakin kelabu saja dimata Laras. Gadis itu segera menghubungi Mbak Dila, meminta pendapat.

Mbak, aku tadi di sms temenku katanya ndak bisa kalau kita nginep bareng di sana soalnya yang nginep udah banyak. Terus enaknya gimana, Mbak? Kalau kamu minta tolong sama Mas Angga lagi kayaknya ndak mungkin ya? Duh aku bingung.
Messege sent.

-Mbak Dila
Aduh gimana, Ras. Kok bisa ndak boleh nginep si? Kata kamu kemarin cuma ada 3 anak dan ditambah kita jadi 5 anak? Jelas ndak mungkin. Aku kemarin udah ngomong ndak, terus tiba-tiba berubah gitu aja. Kan kesannya kaya gimana, Ras.

Laras membenarkan dalam hati. Tidak mungkin ia menyuruh Mbak Dila untuk meminta tolong Mas Angga lagi.

Terus gimana, Mbak? Kesel banget sama temenku yang plin plan itu. Seharusnya dia ngomong dari awal. Kalau udah gini kitanya yang pusing. Kalau misal mau minta anterin bapak aku ndak tega banget.
Messege sent.

-Mbak Dila
Gimana ya? Aku juga bingung sendiri, Ras. Aku udah coba hubungi temen-temenku tapi kayaknya mereka pada naik travel dan nginep di wisma yang udah dibooking. Dan itu emang udah pas anaknya. Ya aku juga sama ndak tega. Tapi mau gimana lagi?

Sebenarnya ndak apa-apa jika Laras meminta bapaknya untuk mengantar. Hanya saja ia tak tega, dari awal sudah ngomong mau menginap di tempat saudara temannya tiba-tiba berubah begitu saja. Lagipula tiket kereta yang sudah dibeli bakal sia-sia.

-Ibad
Ras, Maaf. Ya Allah aku bener-bener ndak tau kalau rumah saudaranya Ari itu sempit. Maaf sekali lagi.

Laras masih enggan membalas sms dari Ibad, teman satu kelasnya itu. Dia kesal setengah mati.

-Ibad
Ras, balas dong. Ya sudah aku ke rumahmu sekarang sama Ari.

Dan benar saja, siang itu ba’da dzuhur Ibad dan Ari ke rumah Laras untuk mengkonfirmasi dan meminta maaf secara langsung.

“Assalamualaikum.”

“Wa’alaikumsalam.” Laras membukakan pintu dan menyuruh kedua temannya ini untuk masuk.

“Ras, maaf ya.” ujar Ibad langsung ketika ia sudah mendudukan dirinya di atas sofa ruang tamu. Laras hanya mengangguk kecil.

“Iya, Ras. Aku juga minta maaf. Kemarin aku baru dihubungi sama saudaraku, dan ternyata rumahnya cuma bisa nampung 3 anak doang.” Ari melanjutkan.

Laras tau betul karakter dari Ibad dan Ari ini, mengingat ia tiga tahun selalu satu kelas bersama. Mereka tipe laki-laki yang ndak enakan, seperti sekarang, mereka datang ke rumah Laras hanya untuk meminta maaf secara langsung.

“Iya ndak apa-apa,” jawab Laras sekenanya.

“Kamu marah?” tanya Ibad.

“Bukan marah, cuma kesel aja sama kalian berdua. Tapi sudahlah, mungkin belum rejekiku,” ujar Laras pada akhirnya. Terlalu menyimpan kekesalan pada mereka hanya akan menambah pusing saja. Pikirnya. Jadi ia berusaha untuk ikhlas, pasti ada jalan lain.

“Aku merasa ndak enak jadinya. Terus kamu sudah menemukan tempat penginapan atau kos?”

“Belum si. Kalau misal ndak nemu ya sudah, nanti tidur di musolla atau masjid kampus juga ndak apa-apa,” jawab Laras tanpa pikir panjang.

“Hey. Kamu kan perempuan, masa mau tidur di masjid? kenapa ndak minta anterin bapakmu saja, Ras? ujar Ari terkejut. Dia hanya ndak nyangka, mengingat Laras adalah perempuan yang menurutnya kalem dan jarang pergi jauh kecuali dengan orang tua atau keluarganya.

“Lagipula bapakmu juga pasti mau nganterin kan?” timpal Ibad.

“Pasti lah. Mana ada orang tua yang membiarkan anak perempuannya menginap di masjid. Do’a kan saja semoga aku cepat dapat tempat penginapan. Dan ya, selamat berjuang, kalian.”

Akhirnya percakapan itu berakhir, tanpa menemukan titik terang untuk Laras dan Mbak Dila.

***

Malam itu gerimis turun menyapa bumi. Menemani Laras yang kini tengah galau memikirkan tempat penginapan untuknya dan Mbak Dila.

“Gimana? Jadi nginep sama Ibad?” tanya ibu Laras yang waktu itu masih menonton televisi bersama. Laras mengangguk kecil, berbohong. “Alhamdulillah kalau begitu. Ibu jadi ndak khawatir. Tadi bapakmu sudah menawarkan mau mengantar, tapi kalau sudah ada tempat buat nginep ya ndak apa-apa.”

“Kalau misal aku diantar bapak, nanti tiket keretanya gimana, buk?” tanya Laras.

“Ya ndak apa-apa. Daripada kamu bingung dan ibu juga khawatir.”

Sebenarnya Laras sudah mendapat lampu hijau. Bisa saja ia meminta diantarkan bapaknya ba’da subuh, dan langsung ke tempat tes kemudian pulang saat itu juga. Ndak usah repot mencari tempat penginapan, dan juga transpot setelah sampai Stasiun Tawang ke tempat tes yang jaraknya lumayan jauh. Tapi tetap saja ia tidak ingin mengambil jalur super mudah itu. Ia ingin merasakan perjuangan dari awal. Bagaimana rasanya naik kereta hanya berdua saja dengan Mbak Dila, rasanya mencari transpot ke tempat tes yang letaknya di Tembalang, dan sebagainya. Ia ingin merasakan itu.

Jam sudah menunjukkan pukul sembilan, ada sebuah sms masuk dari seseorang.

Assalamualaikum
Ras, ini Suci. Kamu kata Nurul mau tes di Tembalang ya? Terus nginep dimana? Kalau aku bareng kamu aja gimana? Aku sebenarnya sudah ditawari nginep di kontrakannya Mbak Naila, tapi malu karena aku cuma sendiri. Lagipula aku belum kenal Mbak Naila itu orangnya yang mana. Yang jelas dia kakak kelas kita.

Laras sempat terkejut menerima sms dari Suci, temannya dari kelas lain yang ia kenal melalui Nurul.

Wa’alaikumsalam.
Aku juga bingung, Cik. Oh Mbak Naila? aku kenal wajah sama namanya. Dia tetangganya Nurul, kan?
Messege sent.

Laras baru ingat jika Mb Naila adalah tetangga dari Nurul dan ia adalah mahasiswa sana.

-Suci
Iya tetangganya Nurul. Kamu ikut nginep bareng di kontrakannya Mbak Naila aja gimana? Bareng aku?

Iya aku ikut kamu aja. Tapi kalau misal temenku mau ikut gimana? Jadi kita bertiga.

-Suci
Nanti aku tanya ke Mbak Naila dulu. Ini kamu juga aku kasih nomornya Mbak Naila.

Iya makasih banget, cik. Aku sempat bingung sebenarnya, tapi alhamdulillah sekarang sudah ada tempat nginep.

-Suci
Iya sama-sama, Ras.

Dan suprise ... tanpa diduga-duga akhirnya Laras sudah menemukan tempat untuknya menginap bersama Mbak Dila. Ia hanya merasa sangat luar biasa, dirinya yang tadi begitu galau memikirkan tempat untuk menginap, kini semuanya terjawab sudah dengan datangnya sms dari Suci. Laras sangat bersyukur, nyatanya memang ada jalan lain yang telah diciptakan Nya.

Bersambung ...
Batang, 9 Juni 2017

Comments