Awal
perjuangan yang membuat galau
Batang,
Juni 2016
Sore
itu Laras ke rumah Mbak Dila untuk bersama membeli tiket kereta di Alfamart.
Sempat diliputi kebingungan tatkala harus membeli tiket jurusan Stasiun Poncol
atau Stasiun Tawang. Kemudian mereka browsing tentang transportasi paling mudah
ke daerah Tembalang, tempat tes berlangsung dan ternyata lebih mudah turun dari
Stasiun Tawang. Kemudian mereka memutuskan untuk membeli tiket pergi pulang.
Dengan keberangkatan jam 7 pagi dan pulang lusa jam 4 sore.
“Ras,
kita jadi nginep di rumah saudara temenmu, kan?” tanya Mbak Dila. Laras
mengangguk kecil mengiyakan.
“Kemarin
kata temenku boleh nginep di sana. Jadi kita ndak usah bingung lagi, mbak.”
“Baguslah
kalau begitu. Lagipula aku juga sudah membatalkan tawaran dari Mas Angga.
Rasanya ndak enak banget, padahal aku yang pertama minta tolong tapi akhirnya
ndak jadi.”
Mas
Angga adalah salah satu mahasiswa asal Batang yang belajar di perguruan tinggi
yang akan digunakan tempat tes oleh Laras dan juga Mbak Dila. Dia yang bersedia
membantu adik kelasnya untuk mencari kos sementara, dan membantu segala
keperluan di sana bersama mahasiswa Batang lain.
“Sebenarnya
aku juga merasa ndak enak sih. Tapi kalau dipikir, nanti Mas Angga minta tolong
sama teman perempuannya untuk ngasih tempat nginep ke kita. Terus katanya dia
juga yang bakal mengantarkan ke ruangan tempat tesnya yang jaraknya lumayan
jauh dari kos. Itu lebih-lebih merepotkan menurutku. Jadi langkah paling baik
kita nginep di rumah saudara temenku, nanti kita cari ruangan tes bareng-bareng
gitu.”
“Iya
aku juga setuju, Ras.”
***
-Ibad
Assalamualaikum.
Maaf,
Ras. Ternyata Ari ndak bisa ngajak kamu dan temenmu nginep di rumah saudaranya.
Maaf ya, aku udah ngomong iya ke kamu tapi ternyata akhirnya ndak bisa. Soalnya
kita udah kebanyakan anak, sedangkan rumah saudaranya Ari sempit. Maaf sekali
lagi, Ras.
H-3
sebelum ujian dan teman Laras tiba-tiba mengirim sms semacam itu. Oke, rasanya
bahkan mau marah karena dia ndak ngomong sejak jauh-jauh hari. Lalu sekarang?
Semua kacau. Seandainya Laras meminta untuk diantar oleh bapaknya, sungguh ia
tidak akan tega. Lagipula tiket kereta pulang pergi sudah ditangan. Jika nekad
pergi sendiri, nanti mau nginep di mana. Jika minta tolong Mas Angga lagi, itu
sungguh tidak mungkin. Bingung. Galau, dan semuanya semakin kelabu saja dimata
Laras. Gadis itu segera menghubungi Mbak Dila, meminta pendapat.
Mbak,
aku tadi di sms temenku katanya ndak bisa kalau kita nginep bareng di sana
soalnya yang nginep udah banyak. Terus enaknya gimana, Mbak? Kalau kamu minta
tolong sama Mas Angga lagi kayaknya ndak mungkin ya? Duh aku bingung.
Messege
sent.
-Mbak
Dila
Aduh
gimana, Ras. Kok bisa ndak boleh nginep si? Kata kamu kemarin cuma ada 3 anak
dan ditambah kita jadi 5 anak? Jelas ndak mungkin. Aku kemarin udah ngomong
ndak, terus tiba-tiba berubah gitu aja. Kan kesannya kaya gimana, Ras.
Laras
membenarkan dalam hati. Tidak mungkin ia menyuruh Mbak Dila untuk meminta
tolong Mas Angga lagi.
Terus
gimana, Mbak? Kesel banget sama temenku yang plin plan itu. Seharusnya dia
ngomong dari awal. Kalau udah gini kitanya yang pusing. Kalau misal mau minta
anterin bapak aku ndak tega banget.
Messege
sent.
-Mbak
Dila
Gimana
ya? Aku juga bingung sendiri, Ras. Aku udah coba hubungi temen-temenku tapi
kayaknya mereka pada naik travel dan nginep di wisma yang udah dibooking. Dan
itu emang udah pas anaknya. Ya aku juga sama ndak tega. Tapi mau gimana lagi?
Sebenarnya
ndak apa-apa jika Laras meminta bapaknya untuk mengantar. Hanya saja ia tak
tega, dari awal sudah ngomong mau menginap di tempat saudara temannya tiba-tiba
berubah begitu saja. Lagipula tiket kereta yang sudah dibeli bakal sia-sia.
-Ibad
Ras,
Maaf. Ya Allah aku bener-bener ndak tau kalau rumah saudaranya Ari itu sempit.
Maaf sekali lagi.
Laras
masih enggan membalas sms dari Ibad, teman satu kelasnya itu. Dia kesal
setengah mati.
-Ibad
Ras,
balas dong. Ya sudah aku ke rumahmu sekarang sama Ari.
Dan
benar saja, siang itu ba’da dzuhur Ibad dan Ari ke rumah Laras untuk mengkonfirmasi
dan meminta maaf secara langsung.
“Assalamualaikum.”
“Wa’alaikumsalam.”
Laras membukakan pintu dan menyuruh kedua temannya ini untuk masuk.
“Ras,
maaf ya.” ujar Ibad langsung ketika ia sudah mendudukan dirinya di atas sofa
ruang tamu. Laras hanya mengangguk kecil.
“Iya,
Ras. Aku juga minta maaf. Kemarin aku baru dihubungi sama saudaraku, dan
ternyata rumahnya cuma bisa nampung 3 anak doang.” Ari melanjutkan.
Laras
tau betul karakter dari Ibad dan Ari ini, mengingat ia tiga tahun selalu satu kelas
bersama. Mereka tipe laki-laki yang ndak enakan, seperti sekarang, mereka
datang ke rumah Laras hanya untuk meminta maaf secara langsung.
“Iya
ndak apa-apa,” jawab Laras sekenanya.
“Kamu
marah?” tanya Ibad.
“Bukan
marah, cuma kesel aja sama kalian berdua. Tapi sudahlah, mungkin belum
rejekiku,” ujar Laras pada akhirnya. Terlalu menyimpan kekesalan pada mereka
hanya akan menambah pusing saja. Pikirnya. Jadi ia berusaha untuk ikhlas, pasti
ada jalan lain.
“Aku
merasa ndak enak jadinya. Terus kamu sudah menemukan tempat penginapan atau
kos?”
“Belum
si. Kalau misal ndak nemu ya sudah, nanti tidur di musolla atau masjid kampus
juga ndak apa-apa,” jawab Laras tanpa pikir panjang.
“Hey.
Kamu kan perempuan, masa mau tidur di masjid? kenapa ndak minta anterin bapakmu
saja, Ras? ujar Ari terkejut. Dia hanya ndak nyangka, mengingat Laras adalah
perempuan yang menurutnya kalem dan jarang pergi jauh kecuali dengan orang tua
atau keluarganya.
“Lagipula
bapakmu juga pasti mau nganterin kan?” timpal Ibad.
“Pasti
lah. Mana ada orang tua yang membiarkan anak perempuannya menginap di masjid.
Do’a kan saja semoga aku cepat dapat tempat penginapan. Dan ya, selamat
berjuang, kalian.”
Akhirnya
percakapan itu berakhir, tanpa menemukan titik terang untuk Laras dan Mbak
Dila.
***
Malam
itu gerimis turun menyapa bumi. Menemani Laras yang kini tengah galau
memikirkan tempat penginapan untuknya dan Mbak Dila.
“Gimana?
Jadi nginep sama Ibad?” tanya ibu Laras yang waktu itu masih menonton televisi
bersama. Laras mengangguk kecil, berbohong. “Alhamdulillah kalau begitu. Ibu
jadi ndak khawatir. Tadi bapakmu sudah menawarkan mau mengantar, tapi kalau
sudah ada tempat buat nginep ya ndak apa-apa.”
“Kalau
misal aku diantar bapak, nanti tiket keretanya gimana, buk?” tanya Laras.
“Ya
ndak apa-apa. Daripada kamu bingung dan ibu juga khawatir.”
Sebenarnya
Laras sudah mendapat lampu hijau. Bisa saja ia meminta diantarkan bapaknya
ba’da subuh, dan langsung ke tempat tes kemudian pulang saat itu juga. Ndak
usah repot mencari tempat penginapan, dan juga transpot setelah sampai Stasiun
Tawang ke tempat tes yang jaraknya lumayan jauh. Tapi tetap saja ia tidak ingin
mengambil jalur super mudah itu. Ia ingin merasakan perjuangan dari awal.
Bagaimana rasanya naik kereta hanya berdua saja dengan Mbak Dila, rasanya
mencari transpot ke tempat tes yang letaknya di Tembalang, dan sebagainya. Ia
ingin merasakan itu.
Jam
sudah menunjukkan pukul sembilan, ada sebuah sms masuk dari seseorang.
Assalamualaikum
Ras,
ini Suci. Kamu kata Nurul mau tes di Tembalang ya? Terus nginep dimana? Kalau
aku bareng kamu aja gimana? Aku sebenarnya sudah ditawari nginep di
kontrakannya Mbak Naila, tapi malu karena aku cuma sendiri. Lagipula aku belum
kenal Mbak Naila itu orangnya yang mana. Yang jelas dia kakak kelas kita.
Laras
sempat terkejut menerima sms dari Suci, temannya dari kelas lain yang ia kenal
melalui Nurul.
Wa’alaikumsalam.
Aku
juga bingung, Cik. Oh Mbak Naila? aku kenal wajah sama namanya. Dia tetangganya
Nurul, kan?
Messege
sent.
Laras
baru ingat jika Mb Naila adalah tetangga dari Nurul dan ia adalah mahasiswa
sana.
-Suci
Iya
tetangganya Nurul. Kamu ikut nginep bareng di kontrakannya Mbak Naila aja
gimana? Bareng aku?
Iya
aku ikut kamu aja. Tapi kalau misal temenku mau ikut gimana? Jadi kita bertiga.
-Suci
Nanti
aku tanya ke Mbak Naila dulu. Ini kamu juga aku kasih nomornya Mbak Naila.
Iya
makasih banget, cik. Aku sempat bingung sebenarnya, tapi alhamdulillah sekarang
sudah ada tempat nginep.
-Suci
Iya
sama-sama, Ras.
Dan
suprise ... tanpa diduga-duga akhirnya Laras sudah menemukan tempat untuknya
menginap bersama Mbak Dila. Ia hanya merasa sangat luar biasa, dirinya yang
tadi begitu galau memikirkan tempat untuk menginap, kini semuanya terjawab
sudah dengan datangnya sms dari Suci. Laras sangat bersyukur, nyatanya memang
ada jalan lain yang telah diciptakan Nya.
Bersambung
...
Batang,
9 Juni 2017

Comments
Post a Comment