Senyum Kegagalan (Part 2)






Hanya perlu berjuang lebih keras lagi, agar pelangi mimpi yang terlukis di angkasa sana bisa kau genggam dengan erat, tanpa takut terlepas.

Berawal dari sebuah kegagalan yang telah diintropeksi. Laras kini sudah menata hidupnya lagi bahwa tak seharusnya kesombongan itu memenuhi diri, hingga ia lupa bahwa diatas kuasa masih ada kuasa lain yang lebih berkuasa. Sehebat apapun ia merayu sang Maha Pemberi, hanya dengan kesombongan kecil semua bisa musnah tanpa ragu.

Laras membeli buku soal-soal latihan ujian tulis untuk masuk perguruan tinggi. Mendowload soal di internet, mengatur jam belajar bersama teman-temannya untuk memecahkan soal-soal itu. Dan yang paling penting, Laras tidak ingin sombong lagi. Ia menyesal dan ia berharap semoga Allah memaafkan kekhilafan dan kesalahannya tempo lalu.

“Gimana? Masih mau ambil jurusan yang sama lagi, Ras?” tanya Mbak Dila yang juga sama-sama gagal.

“Ya, aku akan memilih itu lagi. Kalau tiga pilihannya bisa dikampus dan jurusan yang sama, aku akan memilih pendidikan IPS semua mbak,” jawab Laras yang disambut tawaan kecil dari Mbak Dila.

“Kamu itu. Cinta banget sih sama kampus dan jurusannya. Aku saranin jangan tiga-tiganya kampus itu, Ras. Yah paling tidak pilih salah satu kampus lain.”

“Memangnya kenapa, mbak?”

“Ya ndak apa-apa sih, cuman saran aja.”

“Sebenarnya aku juga minat ke Jogja mbak, cuman kemarin pas bilang ibu katanya terlalu jauh. Jadi mikir lagi deh. Mungkin Purwokerto bakal jadi pilihan ketigaku. Kalau Mbak Dila sendiri gimana?” tanya Laras.

“Aku masih tetep di Semarang.” Laras mengangguk-angguk kecil.

“Ah Semarang. Rasanya aku jatuh cinta denganmu. Tunggu aku untuk menetap di sana barang sebentar. Aku akan berjuang lebih keras lagi untuk itu. Untuk semua mimpi-mimpiku, untuk orang tua dan adik-adikku, dan untuk sahabatku. Aku berjanji. Bismillah. Semangat, Ras!” ujar Laras di dalam hatinya. Ia benar-benar semangat untuk mulai mengukir sejarah mimpinya itu.

Bersambung ...

Batang, 9 Juni 2017


Comments