Hanya perlu berjuang lebih keras lagi,
agar pelangi mimpi yang terlukis di angkasa sana bisa kau genggam dengan erat,
tanpa takut terlepas.
Berawal
dari sebuah kegagalan yang telah diintropeksi. Laras kini sudah menata hidupnya
lagi bahwa tak seharusnya kesombongan itu memenuhi diri, hingga ia lupa bahwa
diatas kuasa masih ada kuasa lain yang lebih berkuasa. Sehebat apapun ia merayu
sang Maha Pemberi, hanya dengan kesombongan kecil semua bisa musnah tanpa ragu.
Laras
membeli buku soal-soal latihan ujian tulis untuk masuk perguruan tinggi.
Mendowload soal di internet, mengatur jam belajar bersama teman-temannya untuk
memecahkan soal-soal itu. Dan yang paling penting, Laras tidak ingin sombong
lagi. Ia menyesal dan ia berharap semoga Allah memaafkan kekhilafan dan
kesalahannya tempo lalu.
“Gimana?
Masih mau ambil jurusan yang sama lagi, Ras?” tanya Mbak Dila yang juga
sama-sama gagal.
“Ya,
aku akan memilih itu lagi. Kalau tiga pilihannya bisa dikampus dan jurusan yang
sama, aku akan memilih pendidikan IPS semua mbak,” jawab Laras yang disambut
tawaan kecil dari Mbak Dila.
“Kamu
itu. Cinta banget sih sama kampus dan jurusannya. Aku saranin jangan
tiga-tiganya kampus itu, Ras. Yah paling tidak pilih salah satu kampus lain.”
“Memangnya
kenapa, mbak?”
“Ya
ndak apa-apa sih, cuman saran aja.”
“Sebenarnya
aku juga minat ke Jogja mbak, cuman kemarin pas bilang ibu katanya terlalu
jauh. Jadi mikir lagi deh. Mungkin Purwokerto bakal jadi pilihan ketigaku.
Kalau Mbak Dila sendiri gimana?” tanya Laras.
“Aku
masih tetep di Semarang.” Laras mengangguk-angguk kecil.
“Ah
Semarang. Rasanya aku jatuh cinta denganmu. Tunggu aku untuk menetap di sana
barang sebentar. Aku akan berjuang lebih keras lagi untuk itu. Untuk semua
mimpi-mimpiku, untuk orang tua dan adik-adikku, dan untuk sahabatku. Aku
berjanji. Bismillah. Semangat, Ras!” ujar Laras di dalam
hatinya. Ia benar-benar semangat untuk mulai mengukir sejarah mimpinya itu.
Bersambung
...
Batang,
9 Juni 2017

Comments
Post a Comment