Senyum Kegagalan (Part 1)




Karena tak selamanya gagal itu sebuah kesakitan yang pantas untuk dilupakan. Adakalanya gagal memberi arti terindah, sebab gagal itu menciptakan kenangan, yang sanggup membuat harimau pun tersenyum penuh kekaguman.

Menjadi mahasiswa disalah satu universitas negeri dikota Semarang adalah impian Laras sejak menginjakkan kaki di Sekolah Menegah Atas. Siapa lagi jika bukan karena Mbak sepupunya yang juga menempuh pendidikan disana, Mbak sepupu yang ia jadikan idola, Mbak sepupu yang membuatnya mengerti dan mencintai dunia literasi. Apapun yang dilakukan dan diperoleh Mbak sepupunya, Laras selalu ingin itu. Bukan karena iri, tapi karena dia lah yang menjadi panutan untuk masa depannya. Mbak Arini.

“Mbak, aku nanti mau lanjut ke kampus yang sama seperti mbak,” ujar Laras kala itu dengan senyum lebar.

“Ayo. Disana juga kehidupannya ndak mahal. Jadi ndak terlalu ngrepotin ibu sama bapak. Memang mau ambil jurusan apa?” tanyanya.

Laras diam, soal jurusan ia bahkan belum terpikir sama sekali, “Aku ingin jadi pegawai bank. Mungkin jurusan ekonomi keren,” jawabnya. “Tapi aku ndak suka hitungan, ndak mahir juga,” lanjutnya lagi disertai cengiran.

Mbak Arini hanya tersenyum kecil, “Sudah tau ndak suka hitungan tapi mau jadi pegawai bank. Dasar kamu itu. Ambil pendidikan juga ndak apa, jadi guru kaya mbak,” ujar Mbak Arini yang saat itu memang mengambil jurusan pendidikan ekonomi.

“Guru ya? Tapi aku pinginnya jadi pegawai bank. Setiap hari bisa lihat uang banyak,” Laras tertawa kecil. “Tapi kalau dipikir lagi menjadi guru juga tidak masalah. Toh sama-sama pekerjaan mulia. Hehe.”

“Jangan lupa kalau memilih jurusan itu harus sesuai passion dan minat. Jangan karena ikutan teman,” nasihat Mbak Arini. Laras tersenyum lantas mengangguk sekali.

***

Semarang, Mei 2015

Hari itu matahari bahkan belum menampakkan ujudnya. Dingin udara masih terasa sekali hingga ketika bernafaspun, terdapat uap –khas musim dingin- yang mengikutinya. Tepat setelah adzan subuh berkumandang, Laras dan keluarga bergegas sholat berjamaah. Tidak butuh waktu lama, mereka selesai dan kembali bersiap untuk perjalanan ke Semarang. Ke tempat wisudanya Mbak Arini.
Pakde dan Makde nya Laras kini bahkan sudah berpakaian sangat rapi. Pakde yang menggunakan baju setelan jas hitam dengan sebuah dasi biru, dan makde yang menggunakan baju gamis hijau alpukat bermotif batik khas ibu-ibu. Sepertinya semua sudah sangat siap dan merekapun berangkat dengan mobil.

“Mbak, kamu nanti mau lanjut kemana? Ke kampus yang sama juga kaya Mbak Arini ya?” tanya Laras pada Mbak Dila, adik kandung dari Mbak Arini yang juga seumuran dengannya namun berbeda sekolah.

“Aku sih pinginnya dikampus sebelah. Cuman gak ada pendidikannya, Ras. Lagipula kata mbak, dikampus sebelah biaya hidupnya mahal,” jawabnya yang lantas mendapat anggukan kecil dari Laras.
“Aku dengar juga begitu sih,”

Perjalanan memakan waktu hampir dua jam. Mereka sampai tepat pukul tujuh, beberapa menit sebelum acara dimulai. Selain menghadiri wisuda, tujuan Laras kesini juga ingin berkeliling kampus. Melihat berbagai hal dan apa saja yang ada dalam kampus idamannya ini. Ya, dalam hati ia berkata: Aku tak ingin hanya sebentar disini, atau sekedar menjadi tamu disini. Aku ingin menjadi bagian dari almamater kampus ini. Tekad Laras dalam hatinya.

***

Kelas sebelas, Laras mulai menjadwal hidupnya. Berapa nilai yang harus ia peroleh agar selalu progres, mata pelajaran apa yang harus ia tingkatkan lagi, harus selalu aktif dikelas supaya mendapat nilai plus, dan lain sebagainya. Ia bahkan sudah searching jurusan apa saja yang akan jadi pilihan yang tentu sesuai passionnya. Dan Laras menjatuhkan pilihannya pada Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial. Selain sesuai minatnya, jurusan itu juga termasuk jurusan baru yang peminatnya minim, juga tahun ini ada kakak kelas yang diterima disana. Bismillah, Laras percaya diri dan optimis.

Mulai dari kepoin kakak kelas yang keterima disana. Mengadd akun media sosialnya. Menjadi stalker. Menglike status atau foto yang diunggah kakak kelasnya itu apabila berkaitan dengan kampus impian. Semua Laras lakukan.

Dan dikelas dua belas awal, Laras mulai menyiapkan cadangan senjata dan amunisi untuk siap menakhlukan kampus itu. Ia mulai rajin bercengkrama dengan Allah. Puasa sunah dua minggu sekali, shalat malam, membaca surat Al-Rahman, Al-Waqiah, dan Al-Mulk selepas asar, mengaji rutin setiap ba’da maghrib. Semuanya ia lakukan meskipun do’a-do’a tanpa absen juga sudah ia selipkan sejak kelas sepuluh, namun tindakan nyatanya baru ia lakukan diawal kelas dua belas.

Detik-detik pengumuman. Laras dan beberapa temannya sudah stand by sejak jam sebelas siang di perpustakkan umum kota. Ia dan temannya bahkan menunggu hingga dua jam sampai pengumuman itu dibuka nanti jam satu. Dengan harap-harap cemas, dag dig dug, juga masih memiliki sikap optimis Laras selalu berdo’a, semoga ia berhasil. Semoga usaha yang ia lakukan dan doa yang ia panjatkan terkabul.

“Kamu pasti keterima, Ras. Melihat nilaimu, prodi yang dipilih, juga alumni yang  keterima disana itu benar-benar peluang lolos,” ujar Nia, teman sekelas Laras.

“Iya bener. Lagian kamu juga anaknya rajin,” tambah Dini yang sukses membuat Laras berlipat-lipat ganda rasa percaya dirinya.

“Ah, jangan begitu. Jangan berlebihan, tapi aku juga berdo’a semoga lolos,” jawab Laras disertai senyum tipis.

Tepat jam satu siang, Laras membuka pengumuman itu. Dan ... masih belum percaya, ia membuka lagi dilaman mirror yang berbeda hingga tiga kali namun hasilnya masih tetap sama. Ia Tidak Diterima. Ya! Tidak Diterima.

Shock? Tentu saja. Kaget? Iya. Kecewa? Pasti. Menangis? Belum. Ia menunggu pulang kerumah dulu baru akan menangis.

“Mungkin ini belum jalannya.”

“Masih ada cara lain untuk lolos lagi.”

“Memang belum rejekinya.”

“Yang penting sudah berusaha. Hasil tetap Allah yang menentukan.”

“Meskipun kecewa, yang terjadi tidak akan pernah berubah. Sabar dan ikhlas saja.”

Itulah beberapa kalimat yang keluar dari mulut teman-teman Laras. Saling memberi semangat dan support bahwa ini bukan jalan satu-satunya untuk memperoleh mimpi.

“Nia, selamat, ya. Cie yang bakal jadi anak rantau. Doakan aku menyusulmu,” ujar Laras memberi pelukan selamat pada temannya itu. Ia tersenyum meski dalam hati ia menangis.

“Makasih, Ras. Aku doakan kamu segera menyusul. Semangat! Udah jangan sedih, sholat dzuhur gih biar adem,” ujar Nia seakan tau kesedihan Laras. Gadis itu mengangguk kecil, ia perlu menyendiri. Intropeksi dirinya. Apa yang salah hingga Allahpun tak ingin mengabulkan doanya yang bahkan telah ia rangkai sejak tiga tahun silam.

Dan setelahnya Laras pulang, ia menunaikan sholat dzuhur sembari merenungi semuanya. Ia menangis lirih dalam doanya. Saat itu ia baru sadar, segala hal yang ia lakukan tak lain bukan karena Allah, tapi semata-mata hanya untuk meminta mimpinya dikabulkan. Bahwa ia juga telah terjerumus dalam kesombongan yang menyebabkan lalai. Ia telah berpikir bahwa Allah pasti mengabulkan doanya mengingat ia beribadah lebih dari teman-temannya. Ia berusaha lebih dari teman-temannya. Ya, karena itu Allah pun enggan mengabulkan doa seorang hamba yang masih diliputi rasa sombong. Rasa bahwa ia pasti lebih baik dari orang lain. Laras sadar. Ia salah. Seandainya waktu dapat diulang, Laras berjanji tidak akan sombong lagi.

Batang, 31 Mei 2017





Comments