Karena tak selamanya
gagal itu sebuah kesakitan yang pantas untuk dilupakan. Adakalanya gagal
memberi arti terindah, sebab gagal itu menciptakan kenangan, yang sanggup
membuat harimau pun tersenyum penuh kekaguman.
Menjadi mahasiswa
disalah satu universitas negeri dikota Semarang adalah impian Laras sejak
menginjakkan kaki di Sekolah Menegah Atas. Siapa lagi jika bukan karena Mbak
sepupunya yang juga menempuh pendidikan disana, Mbak sepupu yang ia jadikan
idola, Mbak sepupu yang membuatnya mengerti dan mencintai dunia literasi.
Apapun yang dilakukan dan diperoleh Mbak sepupunya, Laras selalu ingin itu.
Bukan karena iri, tapi karena dia lah yang menjadi panutan untuk masa depannya.
Mbak Arini.
“Mbak, aku nanti mau
lanjut ke kampus yang sama seperti mbak,” ujar Laras kala itu dengan senyum
lebar.
“Ayo. Disana juga
kehidupannya ndak mahal. Jadi ndak terlalu ngrepotin ibu sama bapak. Memang mau
ambil jurusan apa?” tanyanya.
Laras diam, soal
jurusan ia bahkan belum terpikir sama sekali, “Aku ingin jadi pegawai bank.
Mungkin jurusan ekonomi keren,” jawabnya. “Tapi aku ndak suka hitungan, ndak mahir juga,” lanjutnya lagi disertai cengiran.
Mbak Arini hanya
tersenyum kecil, “Sudah tau ndak suka hitungan tapi mau jadi pegawai bank. Dasar
kamu itu. Ambil pendidikan juga ndak apa, jadi guru kaya mbak,” ujar Mbak Arini
yang saat itu memang mengambil jurusan pendidikan ekonomi.
“Guru ya? Tapi aku
pinginnya jadi pegawai bank. Setiap hari bisa lihat uang banyak,” Laras tertawa
kecil. “Tapi kalau dipikir lagi menjadi guru juga tidak masalah. Toh sama-sama
pekerjaan mulia. Hehe.”
“Jangan lupa kalau
memilih jurusan itu harus sesuai passion dan minat. Jangan karena ikutan
teman,” nasihat Mbak Arini. Laras tersenyum lantas mengangguk sekali.
***
Semarang, Mei 2015
Hari itu matahari
bahkan belum menampakkan ujudnya. Dingin udara masih terasa sekali hingga
ketika bernafaspun, terdapat uap –khas musim dingin- yang mengikutinya. Tepat
setelah adzan subuh berkumandang, Laras dan keluarga bergegas sholat berjamaah.
Tidak butuh waktu lama, mereka selesai dan kembali bersiap untuk perjalanan ke
Semarang. Ke tempat wisudanya Mbak Arini.
Pakde dan Makde nya
Laras kini bahkan sudah berpakaian sangat rapi. Pakde yang menggunakan baju
setelan jas hitam dengan sebuah dasi biru, dan makde yang menggunakan baju
gamis hijau alpukat bermotif batik khas ibu-ibu. Sepertinya semua sudah sangat
siap dan merekapun berangkat dengan mobil.
“Mbak, kamu nanti mau
lanjut kemana? Ke kampus yang sama juga kaya Mbak Arini ya?” tanya Laras pada
Mbak Dila, adik kandung dari Mbak Arini yang juga seumuran dengannya namun
berbeda sekolah.
“Aku sih pinginnya
dikampus sebelah. Cuman gak ada pendidikannya, Ras. Lagipula kata mbak,
dikampus sebelah biaya hidupnya mahal,” jawabnya yang lantas mendapat anggukan
kecil dari Laras.
“Aku dengar juga begitu
sih,”
Perjalanan memakan
waktu hampir dua jam. Mereka sampai tepat pukul tujuh, beberapa menit sebelum
acara dimulai. Selain menghadiri wisuda, tujuan Laras kesini juga ingin
berkeliling kampus. Melihat berbagai hal dan apa saja yang ada dalam kampus
idamannya ini. Ya, dalam hati ia berkata: Aku tak ingin hanya sebentar disini,
atau sekedar menjadi tamu disini. Aku ingin menjadi bagian dari almamater
kampus ini. Tekad Laras dalam hatinya.
***
Kelas sebelas, Laras
mulai menjadwal hidupnya. Berapa nilai yang harus ia peroleh agar selalu
progres, mata pelajaran apa yang harus ia tingkatkan lagi, harus selalu aktif
dikelas supaya mendapat nilai plus, dan
lain sebagainya. Ia bahkan sudah searching
jurusan apa saja yang akan jadi pilihan yang tentu sesuai passionnya. Dan Laras
menjatuhkan pilihannya pada Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial. Selain sesuai
minatnya, jurusan itu juga termasuk jurusan baru yang peminatnya minim, juga
tahun ini ada kakak kelas yang diterima disana. Bismillah, Laras percaya diri
dan optimis.
Mulai dari kepoin kakak
kelas yang keterima disana. Mengadd
akun media sosialnya. Menjadi stalker. Menglike
status atau foto yang diunggah kakak kelasnya itu apabila berkaitan dengan
kampus impian. Semua Laras lakukan.
Dan dikelas dua belas
awal, Laras mulai menyiapkan cadangan senjata dan amunisi untuk siap
menakhlukan kampus itu. Ia mulai rajin bercengkrama dengan Allah. Puasa sunah
dua minggu sekali, shalat malam, membaca surat Al-Rahman, Al-Waqiah, dan
Al-Mulk selepas asar, mengaji rutin setiap ba’da maghrib. Semuanya ia lakukan
meskipun do’a-do’a tanpa absen juga sudah ia selipkan sejak kelas sepuluh,
namun tindakan nyatanya baru ia lakukan diawal kelas dua belas.
Detik-detik pengumuman.
Laras dan beberapa temannya sudah stand
by sejak jam sebelas siang di perpustakkan umum kota. Ia dan temannya
bahkan menunggu hingga dua jam sampai pengumuman itu dibuka nanti jam satu.
Dengan harap-harap cemas, dag dig dug, juga masih memiliki sikap optimis Laras
selalu berdo’a, semoga ia berhasil. Semoga usaha yang ia lakukan dan doa yang
ia panjatkan terkabul.
“Kamu pasti keterima,
Ras. Melihat nilaimu, prodi yang dipilih, juga alumni yang keterima disana itu benar-benar peluang
lolos,” ujar Nia, teman sekelas Laras.
“Iya bener. Lagian kamu
juga anaknya rajin,” tambah Dini yang sukses membuat Laras berlipat-lipat ganda
rasa percaya dirinya.
“Ah, jangan begitu.
Jangan berlebihan, tapi aku juga berdo’a semoga lolos,” jawab Laras disertai
senyum tipis.
Tepat jam satu siang,
Laras membuka pengumuman itu. Dan ... masih belum percaya, ia membuka lagi
dilaman mirror yang berbeda hingga tiga kali namun hasilnya masih tetap sama.
Ia Tidak Diterima. Ya! Tidak Diterima.
Shock? Tentu saja.
Kaget? Iya. Kecewa? Pasti. Menangis? Belum. Ia menunggu pulang kerumah dulu
baru akan menangis.
“Mungkin ini belum
jalannya.”
“Masih ada cara lain
untuk lolos lagi.”
“Memang belum
rejekinya.”
“Yang penting sudah
berusaha. Hasil tetap Allah yang menentukan.”
“Meskipun kecewa, yang
terjadi tidak akan pernah berubah. Sabar dan ikhlas saja.”
Itulah beberapa kalimat
yang keluar dari mulut teman-teman Laras. Saling memberi semangat dan support
bahwa ini bukan jalan satu-satunya untuk memperoleh mimpi.
“Nia, selamat, ya. Cie
yang bakal jadi anak rantau. Doakan aku menyusulmu,” ujar Laras memberi pelukan
selamat pada temannya itu. Ia tersenyum meski dalam hati ia menangis.
“Makasih, Ras. Aku
doakan kamu segera menyusul. Semangat! Udah jangan sedih, sholat dzuhur gih
biar adem,” ujar Nia seakan tau kesedihan Laras. Gadis itu mengangguk kecil, ia
perlu menyendiri. Intropeksi dirinya. Apa yang salah hingga Allahpun tak ingin
mengabulkan doanya yang bahkan telah ia rangkai sejak tiga tahun silam.
Dan setelahnya Laras
pulang, ia menunaikan sholat dzuhur sembari merenungi semuanya. Ia menangis
lirih dalam doanya. Saat itu ia baru sadar, segala hal yang ia lakukan tak lain
bukan karena Allah, tapi semata-mata hanya untuk meminta mimpinya dikabulkan.
Bahwa ia juga telah terjerumus dalam kesombongan yang menyebabkan lalai. Ia
telah berpikir bahwa Allah pasti mengabulkan doanya mengingat ia beribadah
lebih dari teman-temannya. Ia berusaha lebih dari teman-temannya. Ya, karena itu
Allah pun enggan mengabulkan doa seorang hamba yang masih diliputi rasa
sombong. Rasa bahwa ia pasti lebih baik dari orang lain. Laras sadar. Ia salah.
Seandainya waktu dapat diulang, Laras berjanji tidak akan sombong lagi.
Batang, 31 Mei 2017

Comments
Post a Comment