Sejauh apapun kalian
berkelana, mencari asa dalam sebuah perjuangan panjang yang penuh pengorbanan. Jangan
pernah terbesit rasa melupakan, apalagi menggantikan. Kita tetap kita. Dulu dan
saat ini. Sebuah perjumpaan, diputih biru yang akan selalu kurindukan.
6
years ago ...
Lulus sekolah dasar
dengan nilai cukup tinggi membuatku begitu bahagia. Terlebih, dulu saat SD
jujur aku jarang belajar, ujian nasional pun, kukerjakan sebisa mungkin, tanpa
harapan muluk, yang penting lulus. Ya, itu mindset
anak SD jamanku dulu.
Dua puluh lima koma
empat puluh, kuputuskan untuk mendaftar di sekolah menengah pertama negeri yang
cukup favorit dikotaku. Sebenarnya bukan cukup favorit lagi, tapi memang
favorit. Sekolah yang sudah sangat terkenal dan termasuk salah satu sekolah
tertua, karena itu merupakan peninggalan masa penjajahan. Arsitektur
bangunannya pun masih mirip dengan bangunan tempo dulu, meskipun hanya beberapa
kelas saja.
Dengan harap-harap
cemas, kupikir nilai yang lumayan tinggi itu bisa membuatku paling tidak berada
ditengah-tengah jurnal penerimaan, tapi perkiraanku meleset total, aku diambang
batas penolakan, sedikit lagi, mungkin tinggal lima atau tujuh orang lagi aku
akan tersingkir dari sekolah favorit itu. Tapi, Allah tau, jalanku memang disana.
Aku diterima! Alhamdulillah. Meski jaraknya lumayan jauh dari rumah, mungkin
sekitar tiga kilometer, itu bukan masalah, naik sepeda akan membuat tubuh lebih
sehat dan kuat.
MOS hari pertama, belum
memiliki teman, hari kedua juga masih sama, dan hari ketiga aku mulai akrab
dengan teman yang akan satu kelas denganku. Maklum, dulu aku anaknya sedikit
pemalu.
Hari-hariku terasa
menyenangkan. Teman-teman yang baik, guru yang ramah, lingkungan yang sangat
memadai dan menunjang sistem pembelajaran. Meski dulu aku tidak begitu aktif
diekstrakulikuler, tapi koneksi temanku lumayan banyak. Bergaul dengan banyak
orang menggeser sedikit sifat pemaluku. Ya, sedikit saja. Aku akan menjadi
sosok pemalu dan sangat kalem pada orang-orang yang belum begitu mengenalku jauh.
Berbeda ketika aku dengan mereka yang sangat dekat denganku, aku akan berubah
menjadi sosok yang banyak bicara alias cerewet.
Kutemukan Nita dikelas
tujuh. Dia adalah temannya Wulan, saudaraku yang juga sekolah disini namun
berbeda kelas. Lalu kutemukan Luvi dan Lisa juga. Waktu itu kami belum akrab,
hingga dikelas delapan, kami mulai sedikit akrab meskipun lagi-lagi kami tak
satu kelas.
Dikelas delapan,
kutemukan Marisa yang biasa aku panggil Atun. Oke, itu panggilan spesial dari
seorang sahabat. Dan dikelas sembilan, kutemukan Tyas, Zulfa, dan juga Nurul.
Masih teringat sekali
saat kelas sembilan pertengahan. Aku yang tiba-tiba mengganti seragam sekolah
yang tadinya tanpa jilbab menjadi berjilbab, dan disusul oleh Nita yang
ternyata juga melakukan hal yang sama denganku. Tanggung memang karena sebentar
lagi akan lulus, tapi apa daya, keinginan sudah keinginan, jika tak segera
dilaksanakan selamanya akan menjadi beban.
Persahabatan kami
semakin akrab dikelas sembilan. Kami banyak menghabiskan waktu bersama, setiap
hari Sabtu kami memiliki jadwal tersendiri. Sabtu pertama kami bermain
dirumahnya Wulan, Sabtu kedua dirumahnya Nita, Sabtu ketiga dirumahku, dan
seterusnya. Meminjam kaset dirental lalu menonton bersama di rumah, makan
lotek, berpetualang ke kebun belakang rumahnya Nita, atau bermain disawah belakang
rumahku, semua hal yang menyenangkan pasti sudah kami lakukan bersama.
Berlanjut ke Sekolah
Menengah Atas. Semua sahabatku melanjutkan di SMA yang sama, kecuali aku dan
Nurul di SMA satunya lagi. Pun berbeda lagi dengan Marisa yang melanjutkan ke
Madrasah Aliyah. Perbedaan sekolah itu tak lantas memutuskan tali persahabatan
dan silaturahmi kami. Dengan pola pikir dan cara pandang hidup yang sama,
persahaban kami langgeng tanpa cekcok apalagi untuk urusan cinta.
Romusha,
nama yang disematkan pertama kali oleh Luvi akan ikatan persahabatan yang kami
jalani selama ini. Awalnya nama itu terinspirasi dari salah satu sinetron yang
kami panjangkan dengan Rombongan Orang
Sukses. Semoga saja Romusa akan
menjadi doa untuk perjalanan dan perjuangan kami dalam meraih asa yang sudah dirajut sedemikian rupa. Doa ku selalu
menyertai setiap langkah perjuangan kalian, wahai semua sahabatku.
Teruntuk mereka yang
berada di Yogyakarta, Semarang, Purwokerto, dan Pekalongan.
NF- 20160830

Comments
Post a Comment