Dalam Dekapan Cinta yang Tertunda (Sequel of Undangan) Part 5





Malam itu gerimis turun perlahan menyapa bumi. Semilir angin yang masuk melalui celah ventilasi jendela, membuat kesan dingin lagi menyejukkan. Suasana seperti sekarang ini, paling cocok memang bergelut dengan selimut dan bantal, lantas mengarungi alam mimpi hingga fajar menjelang. Namun tidak denganku, meski jarum jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, aku masih tetap sibuk di depan layar laptop, mengerjakan tugas-tugas kantor yang menumpuk.

“Dek, ini mas buatkan coklat hangat. Biar lebih rileks. Dan kalau sudah mengantuk, jangan dipaksakan.” Mas Rafka memberiku segelas susu hangat, dan aku menerimanya dengan senang hati.

“Terima kasih, Mas,” ujarku lantas menyeruput sedikit demi sedikit coklat hangat itu hingga tersisa setengahnya.

“Apa harus selesai malam ini?” aku mengangguk kecil.

“Sebentar lagi selesai kok. Tinggal ditata sedikit lagi,” ujarku. “Mas mau? Ini tinggal setengah, diminum mas saja.” tawarku pada Mas Rafka.

“Ndak usah, Dek. Minum kamu aja.”

“Ndak apa, Mas. Lagipula minum setengah gelas saja perutku jadi agak kembung.”

“Ya sudah, sini Mas yang habiskan.” aku tersenyum kecil, lantas memberikan coklat hangat itu pada Mas Rafka.

“Oh ya, menurut Mas bagus yang mana? warna biru atau abu-abu?” tanyaku sembari memperlihatkan dua cover layout buku yang kini sudah hampir selesai aku kerjakan. Mas Rafka memperhatikan gambar yang kumaksud, menelitinya dengan saksama.

“Mas suka yang abu-abu. Terlihat lebih sederhana dan tidak terlalu mencolok,” jawabnya. Aku mengangguk kecil, ikut membenarkan juga.

“Memang buatnya harus dua, Dek? Bukankah yang dibutuhkan hanya satu? Toh itu cover bukunya sama.”

“Sebenarnya memang satu, cuma tadi aku bingung bagusnya memakai latar belakang warna biru atau abu. Jadi aku buat dua deh,” ujarku jujur, meringis kecil.

“Ya Allah. Kenapa ndak nanya Mas dari awal? Kalau gitu kan pasti kerjaan kamu sudah selesai sejak tadi, Dek.”

“Ah ndak apa, Mas. Sudah kebiasaan seperti itu kok.” aku meringis lagi, malu.

***

Malam semakin larut, tepat pukul setengah 12 pekerjaanku telah usai. Mataku menengok ke samping, kulihat Mas Rafka masih sibuk dengan buku di tangannya. Ah, bahkan sudah selarut ini dia masih betah membaca buku.

Tiba-tiba aku teringat kejadian di rumah makan padang tadi sore, dimana perkataan Mas Ghazi benar-benar mempengaruhiku. Sejak awal aku memang egois, hanya memikirkan perasaanku saja. Seolah aku yang paling terluka, padahal tidak demikian.

“Mas, boleh aku bertanya?” aku berdiri persis di depan Mas Rafka yang tengah duduk di pinggiran ranjang. Mas Rafka mendongak, ia melipat kecil halaman buku yang tengah dibacanya itu lantas menutupnya.

“Sudah selesai?” aku mengangguk. “Alhamdulillah,” ujarnya kemudian. Tadi kenapa? Mau bertanya? Kenapa harus izin dulu? Kamu ini ada-ada saja.” Mas Rafka tersenyum kecil, ia menepuk-nepuk tempat kosong disebelahnya, memberi isyarat kepadaku untuk duduk di sana. Aku tersenyum, kenapa tiba-tiba ada rasa lain yang muncul dihatiku. Semisal ... gugup atau ... entahlah.

“Kenapa Mas Rafka menikahiku?” tanyaku pada akhirnya. Pertanyaan yang sudah kupendam sejak lama dan baru berani aku tanyakan sekarang. Hening. Kurasakan hangat dipipiku, tangan Mas Rafka menyentuhnya lembut. Aku membisu tatkala matanya pun menatapku. Lama.

“Jika Mas katakan karena mencintaimu, bagaimana?” ujarnya masih dengan posisi yang sama seperti sebelumnya.

“Mana mungkin. Bukankah Mas hanya melihatku sekali? saat bersama Mas Ghazi dulu?” sebisa mungkin aku menjaga nada suaraku yang entah kenapa sedikit berbeda. Bahkan dulu Mas Rafka pernah mencium keningku dan rasanya biasa saja, tetapi kenapa ketika ia hanya menyentuh pipiku seperti sekarang ini rasanya begitu berbeda?

“Kalau Mas katakan memang benar adanya, mungkin kamu akan menganggap Mas bohong, gombal, atau sejenisnya. Tapi Mas akui memang begitu, Dek. Mas tipe orang yang sulit jatuh cinta. Namun ketika melihatmu, Mas yang dulu sama sekali ndak memikirkan atau belum memikirkan masalah akhwat, cinta, dan sebagainya jadi terpikir hal itu.”

“Bukankah Mas tau Mas Ghazi kesana untuk kemudian bertamu bersama orang tuanya? Kenapa ....”

“Dek ....” Mas Rafka memotong ucapanku. Tangan yang sedari tadi menyentuh pipiku kini beralih menggenggam tanganku yang berada diatas pangkuan.

“Setelah kejadian itu, malamnya Mas langsung bertemu Ghazi. Mas katakan bahwa Mas menyukaimu dan Mas yang ingin menikahimu.” aku mengerjapkan mata beberapa kali. Terkejut.

“Ghazi tentu saja marah dan juga sangat kecewa. Mas sadar, Mas begitu egois. Padahal sejak awal, sejak kami berteman, Ghazi sering cerita tentang kamu. Tentang bagaimana ia juga menunggu untuk bisa segera bertemu dengan orang tuamu, Dek. Dia bekerja keras untuk itu. Ghazi bahkan mengatakan tidak akan berhubungan lagi dengan Mas dan tetap akan melamarmu minggu depan. Meskipun pada waktu itu Mas juga mengungkit-ungkit kebaikan abah dan ibu Mas karena dulu sering sekali membantu keluarga Ghazi.” Mas Rafka diam, matanya menerawang jauh ke atas, menatap langit-langit kamar dengan berbagai emosi yang berkecamuk di dalam hatinya.

“Kami bertengkar, hingga pada suatu ketika Ghazi memutuskan untuk berhenti karena satu alasan.”

“Satu alasan?” ulangku.

“Ya. Saat abahmu meneleponnya untuk ndak usah datang karena ada orang lain yang akan menikahimu lebih dulu.”

“Abah yang aku kenal ndak begitu. Beliau ndak pilih kasih. Abah tau Mas Ghazi datang lebih dulu namun ndak memberikan kesempatan sedang abah sendiri sudah mengenalnya baik,” ujarku, merasa ada yang sedikit aneh.

Mas Rafka menatapku lagi, “Kenapa ndak tanya langsung ke abah saja?” aku segera menggeleng. Sebanyak apapun aku bertanya, abah ndak akan menjawabnya. Aku bahkan tak pernah paham mengapa beliau seperti itu.

“Abah ndak akan menjawabnya, Mas. Aku sudah pernah mencoba. Mas pasti tau jawabannya, kan?” Mas Rafka hanya menggeleng. Genggaman tangannya semakin erat, ia menatapku lagi, lebih dalam dari yang tadi.

“Terlepas dari itu, Mas mencintaimu. Meskipun mungkin kamu belum merasakan hal yang sama dengan Mas, but it’s no problem. Mas akan membuatmu jatuh cinta dengan cara Mas. Dan Mas pastikan itu.” Setetes rinai bening lolos begitu saja melewati pipiku. Kalimat yang Mas Rafka ucapkan benar-benar membuatku tak bisa berkata apapun. Dia laki-laki ideal menurut versi kebanyakan perempuan. Alim, mapan, dan yang paling pasti, dia mencintaiku meski aku tak begitu. Ia laki-laki penyabar, perhatian, dan selalu memahamiku meski terkadang aku pura-pura tidak sadar.

“Mas, detik ini pun, Mas telah membuatku jatuh cinta. Aku akan mencintai Mas, sebanyak Mas mencintaiku. Bahkan mungkin lebih banyak lagi. Dan aku pastikan itu.” ujarku di dalam hati. Aku membalas pelukan Mas Rafka dengan lebih erat lagi. Merasakan setiap inci debaran yang kini benar-benar nyata kurasakan, di dalam hatiku sana.

Bersambung ...
Batang, 24 Juni 2017
[Edisi Revisi Maret 2019]

Baca juga: ( Part 6 )


Comments