Malam itu gerimis turun perlahan
menyapa bumi. Semilir angin yang masuk melalui celah ventilasi jendela, membuat
kesan dingin lagi menyejukkan. Suasana seperti sekarang ini, paling cocok
memang bergelut dengan selimut dan bantal, lantas mengarungi alam mimpi hingga
fajar menjelang. Namun tidak denganku, meski jarum jam sudah menunjukkan pukul
11 malam, aku masih tetap sibuk di depan layar laptop, mengerjakan tugas-tugas
kantor yang menumpuk.
“Dek, ini mas buatkan coklat hangat. Biar lebih rileks. Dan kalau sudah mengantuk, jangan dipaksakan.”
Mas Rafka memberiku segelas susu hangat, dan aku menerimanya dengan senang
hati.
“Terima kasih, Mas,” ujarku
lantas menyeruput sedikit demi sedikit coklat hangat itu hingga tersisa
setengahnya.
“Apa harus selesai malam ini?”
aku mengangguk kecil.
“Sebentar lagi selesai kok.
Tinggal ditata sedikit lagi,” ujarku. “Mas mau? Ini tinggal setengah, diminum
mas saja.” tawarku pada Mas Rafka.
“Ndak usah, Dek. Minum kamu
aja.”
“Ndak apa, Mas. Lagipula minum
setengah gelas saja perutku jadi agak kembung.”
“Ya sudah, sini Mas yang
habiskan.” aku tersenyum kecil, lantas memberikan coklat hangat itu pada Mas Rafka.
“Oh ya, menurut Mas bagus yang
mana? warna biru atau abu-abu?” tanyaku sembari memperlihatkan dua cover layout buku
yang kini sudah hampir selesai aku kerjakan. Mas Rafka memperhatikan gambar
yang kumaksud, menelitinya dengan saksama.
“Mas suka yang abu-abu. Terlihat
lebih sederhana dan tidak terlalu mencolok,” jawabnya. Aku mengangguk kecil,
ikut membenarkan juga.
“Memang buatnya harus dua, Dek?
Bukankah yang dibutuhkan hanya satu? Toh itu cover bukunya sama.”
“Sebenarnya memang satu, cuma
tadi aku bingung bagusnya memakai latar belakang warna biru atau abu. Jadi aku
buat dua deh,” ujarku jujur, meringis kecil.
“Ya Allah. Kenapa ndak nanya Mas
dari awal? Kalau gitu kan pasti kerjaan kamu sudah selesai sejak tadi, Dek.”
“Ah ndak apa, Mas. Sudah
kebiasaan seperti itu kok.” aku meringis lagi, malu.
***
Malam semakin larut, tepat pukul
setengah 12 pekerjaanku telah usai. Mataku menengok ke samping, kulihat Mas Rafka masih sibuk dengan buku di tangannya. Ah, bahkan sudah selarut ini dia
masih betah membaca buku.
Tiba-tiba aku teringat kejadian
di rumah makan padang tadi sore, dimana perkataan Mas Ghazi benar-benar
mempengaruhiku. Sejak awal aku memang egois, hanya memikirkan perasaanku saja.
Seolah aku yang paling terluka, padahal tidak demikian.
“Mas, boleh aku bertanya?” aku
berdiri persis di depan Mas Rafka yang tengah duduk di pinggiran ranjang. Mas Rafka mendongak, ia melipat kecil halaman buku yang tengah dibacanya itu lantas
menutupnya.
“Sudah selesai?” aku mengangguk.
“Alhamdulillah,” ujarnya kemudian. Tadi kenapa? Mau bertanya? Kenapa harus izin
dulu? Kamu ini ada-ada saja.” Mas Rafka tersenyum kecil, ia menepuk-nepuk
tempat kosong disebelahnya, memberi isyarat kepadaku untuk duduk di sana. Aku
tersenyum, kenapa tiba-tiba ada rasa lain yang muncul dihatiku. Semisal ...
gugup atau ... entahlah.
“Kenapa Mas Rafka menikahiku?”
tanyaku pada akhirnya. Pertanyaan yang sudah kupendam sejak lama dan baru
berani aku tanyakan sekarang. Hening. Kurasakan hangat dipipiku, tangan Mas Rafka menyentuhnya lembut. Aku membisu tatkala matanya pun menatapku. Lama.
“Jika Mas katakan karena
mencintaimu, bagaimana?” ujarnya masih dengan posisi yang sama seperti
sebelumnya.
“Mana mungkin. Bukankah Mas
hanya melihatku sekali? saat bersama Mas Ghazi dulu?” sebisa mungkin aku
menjaga nada suaraku yang entah kenapa sedikit berbeda. Bahkan dulu Mas Rafka pernah mencium keningku dan rasanya biasa saja, tetapi kenapa ketika ia hanya
menyentuh pipiku seperti sekarang ini rasanya begitu berbeda?
“Kalau Mas katakan memang benar
adanya, mungkin kamu akan menganggap Mas bohong, gombal, atau sejenisnya. Tapi
Mas akui memang begitu, Dek. Mas tipe orang yang sulit jatuh cinta. Namun
ketika melihatmu, Mas yang dulu sama sekali ndak memikirkan atau belum
memikirkan masalah akhwat, cinta, dan sebagainya jadi terpikir hal itu.”
“Bukankah Mas tau Mas Ghazi kesana
untuk kemudian bertamu bersama orang tuanya? Kenapa ....”
“Dek ....” Mas Rafka memotong
ucapanku. Tangan yang sedari tadi menyentuh pipiku kini beralih menggenggam
tanganku yang berada diatas pangkuan.
“Setelah kejadian itu, malamnya
Mas langsung bertemu Ghazi. Mas katakan bahwa Mas menyukaimu dan Mas yang
ingin menikahimu.” aku mengerjapkan mata beberapa kali. Terkejut.
“Ghazi tentu saja marah dan juga
sangat kecewa. Mas sadar, Mas begitu egois. Padahal sejak awal, sejak kami
berteman, Ghazi sering cerita tentang kamu. Tentang bagaimana ia juga menunggu
untuk bisa segera bertemu dengan orang tuamu, Dek. Dia bekerja keras untuk itu. Ghazi bahkan mengatakan tidak akan berhubungan lagi dengan Mas dan tetap akan
melamarmu minggu depan. Meskipun pada waktu itu Mas juga mengungkit-ungkit
kebaikan abah dan ibu Mas karena dulu sering sekali membantu keluarga Ghazi.”
Mas Rafka diam, matanya menerawang jauh ke atas, menatap langit-langit kamar
dengan berbagai emosi yang berkecamuk di dalam hatinya.
“Kami bertengkar, hingga pada
suatu ketika Ghazi memutuskan untuk berhenti karena satu alasan.”
“Satu alasan?” ulangku.
“Ya. Saat abahmu meneleponnya
untuk ndak usah datang karena ada orang lain yang akan menikahimu lebih dulu.”
“Abah yang aku kenal ndak
begitu. Beliau ndak pilih kasih. Abah tau Mas Ghazi datang lebih dulu namun
ndak memberikan kesempatan sedang abah sendiri sudah mengenalnya baik,” ujarku,
merasa ada yang sedikit aneh.
Mas Rafka menatapku lagi,
“Kenapa ndak tanya langsung ke abah saja?” aku segera menggeleng. Sebanyak
apapun aku bertanya, abah ndak akan menjawabnya. Aku bahkan tak pernah paham
mengapa beliau seperti itu.
“Abah ndak akan menjawabnya,
Mas. Aku sudah pernah mencoba. Mas pasti tau jawabannya, kan?” Mas Rafka hanya menggeleng. Genggaman tangannya semakin erat, ia menatapku lagi, lebih dalam dari yang tadi.
“Terlepas dari itu, Mas
mencintaimu. Meskipun mungkin kamu belum merasakan hal yang sama dengan Mas,
but it’s no problem. Mas akan membuatmu jatuh cinta dengan cara Mas. Dan Mas
pastikan itu.” Setetes rinai bening lolos begitu saja melewati pipiku. Kalimat
yang Mas Rafka ucapkan benar-benar membuatku tak bisa berkata apapun. Dia
laki-laki ideal menurut versi kebanyakan perempuan. Alim, mapan, dan yang
paling pasti, dia mencintaiku meski aku tak begitu. Ia laki-laki penyabar,
perhatian, dan selalu memahamiku meski terkadang aku pura-pura tidak sadar.
“Mas, detik ini pun, Mas
telah membuatku jatuh cinta. Aku akan mencintai Mas, sebanyak Mas mencintaiku.
Bahkan mungkin lebih banyak lagi. Dan aku pastikan itu.” ujarku di dalam
hati. Aku membalas pelukan Mas Rafka dengan lebih erat lagi. Merasakan setiap
inci debaran yang kini benar-benar nyata kurasakan, di dalam hatiku sana.
Bersambung ...

Comments
Post a Comment