Pacaran itu Menakutkan







Kupikir cinta itu sederhana. Hanya perlu aku, kamu, dan mimpi-mimpi kita. Namun rasanya perlu aku koreksi sekali lagi.


Perkenalkan. Namaku Caca Ayuningtyas. Panggil saja Caca. Gadis berumur 20 tahun yang bekerja sebagai editor di salah satu penerbitan buku indie. Berasal dari keluarga biasa, bapak yang bekerja sebagai seorang montir, dan ibu yang hanya sebatas ibu rumah tangga. Kehidupanku juga sama seperti orang lain, namun semua berbeda ketika dia datang.

Sudah sholat, Mas?


Sudah. Kalau kamu, dek?


Sudah juga. Sudah makan siang?


Belum. Masih ngerjain tugas kantor. Kalau kamu?


Aku sudah. Kamu cepetan dikerjain tugasnya, biar cepet makan. Nanti takut sakit.


Ciee yang khawatirin aku :p :*


Emang gak boleh?


Ya nggak gitu. Eh udah dulu ya. Aku dipanggil bos.


Ya udah. Nanti hubungi aku lagi ya :*

Bukankah menyenangkan, apabila setiap hari ada yang merhatiin? Ada yang ngingetin? Dan ada yang dikangenin? Ah, sejak itu aku selalu berdo'a. Semoga Mas Fajar akan jadi jodohku nanti. Membangun rumah tangga bersama, dan merajut mimpi-mimpi indah kami berdua sama-sama. Membayangkannya saja sudah indah sekali, apalagi nyatanya nanti.

Sudah hampir tujuh bulan kami menjalani hubungan pacaran ini. Entah kenapa aku merasa sudah satu minggu yang lalu hubunganku dengan Mas Fajar sedikit longgar. Akhir-akhir ini dia sering gak ngasih kabar. Kalaupun aku whatsapp, pasti balasnya lima jam bahkan lebih. Kalau aku telfon, nomornya selalu sibuk. Mungkin aku harus benar-benar datang ke kantornya.

Siang itu ba'da dzuhur, aku langsung pergi ke tempat kerja Mas Fajar. Sampai disana, aku hanya bertemu salah satu temannya bernama Mas Aji.

"Assalamualaikum Mas Aji. Lihat Mas Fajar nggak?" tanyaku padanya.

"Wa'alaikumsalam Ca. Tadi Fajar dipanggil bos. Mungkin bentar lagi kesini. Tunggu saja."

"Ya sudah makasih, mas."

"Sama-sama."

Akhirnya aku memutuskan untuk menunggu dilobi kantor sembari mengamati lalu lalang karyawan yang sibuk dengan pekerjaannya.

Aku melihat seorang laki-laki berkemeja abu berjalan kearahku. Tanpa sadar aku tersenyum dan lantas menghampirinya.

"Mas kemana saja? Aku telfon gak aktif, di whatsapp cuma kamu read doang. Mau kamu apa sih?" ujarku masih dengan kekesalan luar biasa. Namun dibalik itu aku lega, akhirnya bisa melihat wajah yang kurindu itu setelah cukup lama.

"Aku sibuk." jawabnya singkat, lantas bergegas untuk pergi.

"Sudah? Itu aja? Terus kamu anggap hubungan kita itu apa? Cuma main-main?" aku benar-benar marah melihat tingkah lakunya yang seperti tidak memiliki salah apapun. Kekanakan sekali.

"Terserah kamu." jawabnya tak acuh.

"Kamu berubah mas. Kamu selingkuh dari aku? Tega ya! Aku nggak nyangka. Jadi selama ini kamu susah dihubungi karena selingkuh dari aku?" ujarku menggebu. Tanpa berusaha mendengar alasan darinya. Bahkan tangan ini sudah benar-benar gatal ingin meninju wajahnya itu. Dasar laki-laki. Semua sama saja. Apabila sudah bosan, ia akan ditinggalkan begitu saja. Memangnya perempuan seperti mainan apa?

"Aku berubah?" Mas Fajar terlihat tertawa kecil. "Kamu yang terlalu posesif sama aku. Tiap jam harus ngasih kabar, kalau nggak marah-marah. Kamu pikir hidupku hanya ada kamu saja? Aku kerja. Aku cari uang untuk hidup. Kamu mau aku dipecat gara-gara chattingan terus sama kamu? Kamu mau tanggungjawab? Lucu sekali ya." Mas Fajar membuang mukanya kesamping. Aku diam, seolah bisu. Bukan karena merasa salah, hanya saja aku merasa terlalu bodoh untuk mengharapkannya lebih lagi. Seharusnya dia bisa menjelaskan itu dari awal, bukan seperti ini.

"Terus kamu mau kita putus?"

"Ya. Putus. Aku pergi."

Hubungan ini berakhir tragis dikantornya, tanpa ada salam perpisahan atau apapun itu. Benar-benar akhir yang menyedihkan. Aku pulang dengan perasaan kacau dan hati yang sudah remuk tak berbentuk. Harapan dan mimpi yang kulukiskan untuknya, kini hancur berkeping-keping. Lalu aku sadar, ternyata cinta tak sesederhana itu. Bukan hanya aku, kamu, dan mimpi-mimpi kita, namun juga ada ego yang bisa melenyapkan semua itu.

Jangan menyesal dan jangan menangis. Laki-laki seperti itu memang tak pantas untuk diperjuangkan, Ca! gumamku untuk sekedar menyemangati diri sendiri.

Aku jadi teringat perkataan Arini tempo lalu. Islam itu melarang pacaran dan hubungan yang sejenisnya. Karena semua itu hanya akan menambah dosa dan tidak ada untungnya sama sekali. Lebih baik kita fokus memperbaiki diri. Fokus untuk membahagiakan orang tua dan keluarga, juga saling bergaul dengan sahabat-sahabat kita untuk memperoleh ilmu sebanyak mungkin. Dan perkataan itu memang benar. Pacaran itu ribet, nambah dosa, menyusahkan, dan menyedihkan dalam waktu yang bersamaan. Bukankah menakutkan?

End

Batang, 21 Mei 2017



Comments