Dalam Dekapan Cinta yang Tertunda (Sequel of Undangan) Part 4








Aku hanya menjadi pendengar dari obrolan mereka bertiga yang begitu asyik, membicarakan berbagai macam hal dari mulai mengungkit kisah masa lalu hingga pada pekerjaan. Jika diperhatikan dari tingkah laku, mimik, dan cara berkomunikasi, aku beranggapan bahwa Mas Rafka dan Mas Burhan sudah lama berteman baik.


“As, kamu tau?” Mas Burhan menatapku, aku menggeleng kecil sebagai tanda ketidaktauan. “Dulu Rafka itu kalau ada akhwat lewat selalu melengos, senyumnya pun irit sekali padahal dia salah satu idola para akhwat.”

“Ente kalau ngomong suka dilebih-lebihkan, Bur,” Mas Rafka langsung menimpali dengan mimik tersipunya yang lucu.

“Kalau nggak percaya, tanya saja sama Ghazi. Kita dulu waktu di universitas sering sama-sama. Ya nggak Gha?” Mas Burhan menatap Mas Ghazi yang berada persis di sampingnya.

“Iya. Ternyata sekarang nikahnya sama kamu, As. Jodoh emang ndak ada yang tau.” Kalimat itu memang sering diucapkan banyak orang, tetapi ketika yang mengucapkan Mas Ghazi kenapa rasanya begitu berbeda?

“Benar. Jodoh memang ndak ada yang tau,” ulangku lagi.

Hampir setengah jam lebih kami mengobrol santai, dan tidak terasa semua makanan yang berada di atas meja sudah habis tak bersisa. Aku pamit ke belakang sebentar untuk mencuci tangan. 

Awalnya aku pikir suasana akan sedikit canggung, ternyata tidak sama sekali. Meskipun memang di awal begitu, tapi lama-lama semakin mengalir dan hangat obrolan kami. Kemudian untuk Mas Rafka, aku menemukan satu fakta lagi dalam dirinya. Ia ternyata sosok yang begitu humoris, dan ekspresinya sangat lucu ketika tengah malu. Sedangkan untuk Mas Ghazi, dia sedikit sekali bicara, cukup berbeda dengan Mas Ghazi yang pernah kukenal dulu.

“Aku ke belakang dulu,” ujar Mas Rafka yang diikuti Mas Burhan. Kini aku hanya berdua dengan Mas Ghazi. Diam. Canggung. Tak ada yang memulai percakapan meskipun sebenarnya banyak sekali pertanyaanku untuknya.

“Bagaimana kabarmu, Dek?” Mas Ghazi membuka pembicaraan.

“Alhamdulillah baik,” jawabku sekenanya. “Untuk kadonya kemarin, terima kasih,” lanjutku. Mataku melirik Mas Ghazi, kulihat ia mengangguk-angguk kecil seraya tersenyum tipis.

“Iya sama-sama,” jawabnya.

Hening kembali. Aku mengetukkan flat shoes coklat yang kupakai di atas lantai bawah meja tanpa irama. Hal yang selalu kulakukan ketika mendapati suasana kurang nyaman. Sesekali mataku menengok ke belakang, mengharapkan salah satu dari dua laki-laki yang tengah ke belakang itu cepat kembali dan menghapus keheningan ini dengan segera.

“Sepertinya kamu ndak nyaman, Dek,” ujar Mas Ghazi tiba-tiba. Mataku refleks memperhatikan wajahnya, berkedip beberapa kali, terkejut.

“Bukan seperti itu, Mas,” jawabku cepat.

“Entah hanya perasaanku saja atau bukan, kita seperti dua orang yang ndak saling kenal. Aku hanya berharap, kita bisa seperti kemarin. Sebelum pernikahanmu dan sebelum aku merantau untuk belajar. Aku dan Rafka sudah bersahabat sekian lama, semoga kita juga bisa begitu. Karena kamu pun pasti tau. Allah lah maha pembolak balikkan hati seseorang. Sehebat apapun kita merencanakan sesuatu, tetap Dia lah yang menentukan. Dan apa-apa yang telah digariskan, pasti yang terbaik.” Aku hanya diam. Meresapi setiap inci kata yang dilontarkan oleh Mas Ghazi. Itu memang benar adanya, bahwa Allah lah yang menentukan segala hal, dan setiap ketentuan itu pasti yang terbaik. Aku merasa malu atas apa yang terjadi, atas semua ketidak ikhlasanku menerima garis ketentuan-Nya. Seharusnya aku sadar dari awal, dan bukannya menjadi hamba yang buta, seolah merasa paling dianak tirikan.

Aku menunduk lagi, rasanya airmata ini ingin menetes sekarang juga. Bukan abah, Mas Rafka, ataupun Mas Ghazi yang egois di sini, namun aku.

“Maaf untuk semuanya dan juga terima kasih, Mas. Aku hanya bisa mengungkapkan kalimat itu karena aku pun bingung apa yang harus diucapkan lagi,” lirihku jujur dan benar-benar tulus. Aku tersenyum tipis pada Mas Ghazi, mengatakan bahwa aku ingin memulai semuanya dari awal. Aku akan belajar mencintai Mas Rafka suamiku, dan juga menjadi sahabat dari sahabat suamiku. Bukankah itu terdengar lebih indah?

Dan kembali aku teringat dengan firman-Nya dalam surat Al-Baqarah ayat 216. “Bisa jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan bisa jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah Maha Mengetahui, sedang kamu tidak.”
Ya, Allah Maha Mengetahui, sedangkan kamu tidak.

***

Resepsi.

Aku mengenakan baju putih terusan dengan motif kerutan diujung tangan dan sedikit motif. Ditambah jilbab wolfis putih dan mahkota perak yang bertengger di kepalaku. Riasannya pun minimalis. Aku hanya memakai sedikit pelembab bibir bewarna orange pudar, bedak, dan sedikit tatanan pada mata agar terlihat lebih lentik.

Sedangkan Mas Rafka, dia mengenakan setelan tuxedo yang senada juga dengan warna bajuku. Dasi hitam legamnya menggantung rapi. Tatanan rambutnya seperti biasa, hanya kali ini terlihat lebih klimis dan wibawanya semakin menguar.

Mas Rafka memamerkan senyumnya padaku, ia bergumam lirih, "Cantik," ucapnya yang membuatku tak bisa sembunyikan senyum. Gedung yang disewa Mas Rafka memang tidak terlalu besar, karena tamu yang diundang pun hanya rekan kerjanya, rekan kerjaku, teman-teman abah dan ibu dari kami.

"Ini dia pengantinnya. Cantik dan ganteng. Cocok," ujar Dinda seperti yang sudah-sudah. Dia memang senang menggoda orang.

"Terima kasih." Mas Rafka membalasnya dengan senyum lebar bahkan hingga terlihat gigi-gigi putihnya yang rapi.

Aku menyambut peluk dari Dinda dan lagi-lagi dia menggoda, "Semoga lekas punya momongan yang seganteng suamimu itu." Aku hampir mencubit lengan Dinda jika saja hari ini bukan hari spesial.

"Semoga lekas menyusul, Din." Mas Rafka menimpali dan aku sangat yakin dia mendengar apa yang tadi dikatakan oleh Dinda. Ah, memalukan sekali.

Kami menyalami satu persatu tamu undangan yang hadir. Sejauh mata memandang, aku tak menemukan sosok Mas Ghazi. Tidak-tidak, bukannya apa-apa. Toh Mas Ghazi juga sahabat dari Mas Rafka, jadi mau bagaimana pun harus terus menjaga silaturahim.

"Selamat ya, Ka sama Asfa. Semoga samawa," ujar Mas Burhan sambil menyalamiku dan memeluk Mas Rafka lama.

"Syukron, Bur. Semoga cepet nyusul."

Mas Burhan mengangguk-angguk. "Beres. Lagi cari yang nyaman," ujarnya sambil ketawa kecil.

"Tak dukung deh ente sama mbak-mbak pegawai bank itu."

"Aminnn Ka. Semoga nggak bertepuk sebelah tangan." Mas Burhan tertawa lagi.

"Oh ya Ghazi tadi pagi harus balik ke kampung karena nenek dia kritis di rumah sakit jadi nggak bisa dateng." ujar Mas Burhan.

"Iya tadi dia udah whatsapp kok."

"Sekali lagi selamat, ya."

"Terima kasih, Mas Burhan."

Dan dugaanku memang benar. Mas Ghazi tidak datang. Bukan tanpa alasan, karena neneknya sedang kritis.

Sudah jam empat sore dan tamu undangan masih saja ada yang berdatangan. Aku dan Mas Rafka memutuskan untuk stay sampai jam lima saja mengingat kami juga sudah berdiri hampir lima jam lebih. Bu Isti atau sekarang aku memanggilnya Ibu saja itu menghampiri. Beliau mencium keningku juga memelukku lama sekali.

"Rafka kemarin bilang mau tinggal pisah sama ibu. Tapi kamu harus sering-sering main ya, Nduk. Ibu itu kepengin punya anak perempuan kaya kamu, biar bisa diajak kemana-mana bareng."

"Pasti, Bu. Nanti Mas Rafka sama aku bakal sering ke rumah Ibu," ujarku dengan senyum lebar. Yang aku tau memang ibu mertuaku ini hanya memiliki dua anak laki-laki. Sulungnya Mas Rafka dan bungsungnya Arka. Sekarang seusia dengan adikku Fais.

Ibuku juga tiba-tiba datang menghampiri. Ikut memelukku dan kami bertiga berpelukan. Sedangkan Mas Rafka juga sedang berbincang dengan abahnya dan juga abahku diujung kanan, sepuluh meter dari tempatku berdiri.


Bersambung ...

Baca juga: ( Part 5 )

Batang, 29 Mei 2017
[Edisi Revisi Maret 2019]



Comments