“Tidak mungkin seorang abah tega melepaskan putri
satu-satunya untuk laki-laki yang tak baik. Percayalah, abah melakukan ini
bukan tanpa alasan. Karena abah benar-benar menyayangi putri abah,” ujar abah
disela-sela pelukan kami. Tanpa sadar airmataku menetes begitu saja. Seharusnya
aku tau, abah pasti memiliki alasan kuat kenapa aku harus melakukan ini.
---
“Apa
ada masalah?” Aku mendongak, mendapati Fatima yang kini sudah berdiri persis di
sampingku, menatap wajahku dengan raut khawatir. Kepalaku menggeleng refleks,
lantas tersenyum kecil setelahnya.
“Dari
tadi aku perhatikan kamu banyak melamun, As. Kalau ada masalah cerita saja,
jangan dipendam sendiri,” ujar Fatima. Matanya masih tak lepas mengamatiku.
“Aku
hanya sedikit pusing saja kok. Minggu ini banyak sekali naskah yang harus aku
koreksi, jadi tau sendiri lah,” jelasku. Sebenarnya selain masalah itu, ada
masalah lain lagi yang memang untuk saat ini belum bisa aku ceritakan pada Fatima.
Fatima
hanya menganguk-angguk, “As, nanti sore kayaknya kita ndak jadi ke toko buku.
Aku mau mengantar ibu ke rumah saudara sepupuku. Ndak apa-apa kan?”
“Iya,
masih ada lain waktu kok,” ujarku.
“Ya
sudah aku kembali ke mejaku. Nanti kamu langsung ke musolla saja.” Aku
mengangguk mengiyakan. Setengah jam lagi jam kerjaku memang sudah habis,
sekitar pukul empat sore dan seperti biasa, aku sholat terlebih dahulu di
musolla kantor lantai dua.
Aku
merapikan tumpukan kertas dan beberapa buku catatan yang berada di atas meja.
Getaran ponsel di dalam tas ku berhasil menghentikan aktivitas ini. Aku
mengernyitkan dahi, ada gerangan apa Mas Azzam meneleponku sekarang.
“Halo
Assalamualaikum.”
“....”
“Iya
sekitar jam empat sudah selesai,” jawabku sedikit kaku.
“....”
“Maaf,
mas. Tapi aku sudah ada janji dengan Fatima. Mau ke toko buku.”
“....”
“Iya.
Wa’alaikumsalam.”
Pipp.
Aku menunduk dalam, entah mengapa ada rasa bersalah yang teramat sangat memasuki
rongga hatiku kini. Bahkan dengan sengaja aku berbohong pada Mas Rafka, padahal
sore ini jelas-jelas aku tak jadi ke toko buku dengan Fatima. Aku bahkan tidak
mengerti, mengapa refleks aku menolak ajakan Mas Rafka dengan itu. Ah,
sudahlah.
“As,
ayo.” Dinda, teman satu kantor sekaligus satu divisi sudah siap dengan tas nya.
Aku mengangguk kecil.
“Iya
tunggu sebentar, Din.” Aku segera mengemas buku dan beberapa tumpukan kertas
untuk aku masukkan ke dalam tas. Oke, mungkin nanti malam aku akan lembur
karena banyak tugas yang belum terselesaikan.
“Yuk
....”
***
Seperti
biasa, ba’da sholat ashar aku, Fatima, dan juga Dinda selalu mengobrol santai
sebelum pulang. Entah mengobrol seputar pekerjaan, keluarga, ataupun terkadang
masalah cinta.
“As,
pulang sama Mas Rafka?” tanya Fatima padaku.
“Cie
cie ... enaknya sudah nikah. Bisa pulang bareng suami. Apalagi suaminya seperti
Mas Rafka. Sudah tampan, alim, spv lagi. Semoga Allah sisakan satu yang seperti
itu untuk jodohku kelak. Amin,” celoteh Dinda yang langsung kubalas dengan
cubitan kecil.
“Awwww
... sakit tau. Memang ada yang salah dengan ucapanku?” ujar Dinda tidak terima.
Aku dan Fatima hanya tertawa kecil menanggapinya.
“Kalau
kamu mau jodoh seperti Mas Rafka, maka jadilah seperti Asfa. Karena apapun itu,
Mas Rafka cintanya cuma sama Asfa.” Fatima menjulurkan lidahnya pada Dinda,
lantas tertawa lagi. Sedangkan Dinda, ia mempoutkan bibirnya kesal.
“Sudah-sudah.
Kalian ini ada-ada saja,” ujarku masih dengan tawa kecil. Tiba-tiba saja aku
teringat akan Mas Rafka, aku segera mengambil ponsel, mencari kontak namanya.
Assalamualaikum ...
Mas, hari ini aku dan Fatima ndak jadi ke toko buku. Kalau
Mas mau menjemput nanti aku tunggu di depan kantor.
Messege
send ...
Aku
menghela napas panjang. Nyatanya aku tidak sanggup untuk berbohong pada orang
sebaik Mas Rafka.
Iya, wa’alaikumsalam. Sekitar tiga puluh menit lagi Mas
sampai.
“Pesan dari siapa?” tanya Dinda padaku.
“Mas Rafka.” Dinda dan Fatima terlihat tersenyum bersamaan.
“Di
jemput Mas Rafka?” aku hanya mengangguk kecil.
“Kalau
mau pulang lebih dulu ndak apa-apa kok.”
“Aku
juga lagi menunggu kabar dari Bu Sinta. Takutnya kalau pulang nanti disuruh
kembali lagi kesini. Itu lebih merepotkan,” ujar Dinda.
“Terkait
proposal kemarin?” tanyaku yang lantas dibalas anggukan kecil.
“Fat,
katanya mau mengantar ibumu?” aku menatap Fatima.
“Iya,
tapi nanti jam lima sore. Jadi ndak apa-apa lah aku disini lebih lama lagi,”
ujar Fatima.
“Ya
sudah kalau begitu.”
***
Seorang
laki-laki tinggi yang mengenakan kemeja warna biru langit, dengan lengan yang
dilipat sampai siku itu baru saja keluar dari mobil avanza putih. Dia berjalan
santai, sambil sesekali matanya menelusuri setiap bangunan yang ada di kantorku
ini hingga kemudian mata kami bertemu, senyum seketika tercipta pada wajahnya
dan aku pun tanpa sadar juga tengah tersenyum membalas.
“Assalamualaikum
Fatima dan ... “
“Dinda.”
potong Dinda menyebutkan namanya. Mas Rafka terlihat tersenyum kecil.
“Maaf.
Sudah agak tua jadi pelupa,” ujar Mas Rafka diiringi candaan yang membuat kami
seketika tertawa
.
“Iya
ndak apa-apa. Wa’alaikumsalam.”
“Oh
tunggu sebentar.” Mas Rafka kembali lagi pada mobilnya, mungkin ada sesuatu
yang tertinggal disana. Tak butuh satu menit, Mas Rafka sudah kembali dengan
menenteng dua buah tas kecil ditangannya.
“Ini
untuk Fatima, dan ini untuk Dinda,” ujarnya seraya menyerahkan dua buah tas
kecil itu.
“Terima
kasih, tapi ini apa ya?” tanya Dinda sambil mengamati tas kecil itu.
“Itu
oleh-oleh dari rekan kerja ku kemarin. Dia membeli banyak, jadi bingung mau
dibawa kemana,” jelas Mas Rafka. Fatima dan Dinda hanya mengangguk paham.
“Terima
kasih banyak,” ujar mereka berdua lagi dengan senyum mengembang.
“Sama-sama.
Tidak usah sungkan begitu,” jawab Mas Rafka dengan senyumnya. Ia kemudian
menatapku.
“Sudah
sholat?” tanyanya. Aku mengangguk kecil. “Ayo pulang,” ajaknya padaku yang
lagi-lagi kubalas dengan anggukan kecil.
“Kalian
mau sekalian ....”
“Tidak.
Terima kasih. Hati-hati dijalan.” bahkan sebelum Mas Rafka menyelesaikan
kalimatnya, Dinda memotong lagi. Seolah ia tau apa yang ingin dikatakan Mas Rafka.
“Baiklah.
Kami pergi dulu. Assalamualaikum.”
“Wa’alaikumsalam.” Aku melambaikan tangan pada kedua sahabatku yang terkadang sangat menyebalkan
ini.
“Temanmu
lucu juga, Dek,” ujar Mas Rafka. Tiba-tiba kurasakan genggaman erat pada
tanganku. Aku mendongak, menatap Mas Rafka yang masih berjalan santai menuju
mobilnya dengan bibir yang melengkung keatas.
“Mereka
terkadang suka begitu,” aku ku jujur. Entah kenapa aku merasa genggaman tangan
ini berbeda dari sebelumnya. Meskipun nyatanya aku tidak dapat mendeskripsikan
rasa apa itu, yang jelas ini sedikit membuat berdebar.
***
Mataku
sibuk mengamati jalanan yang ramai melalui kaca jendela mobil. Nampak beberapa
kendaraan roda empat dan roda dua saling melaju, membelah jalan. Di samping
sebuah toko alat elektronik, aku melihat seorang laki-laki berumur yang tengah
menjajakan balon dengan bentuk kartun. Sesekali tangan kanannya mengusap peluh
yang menetes begitu saja pada wajah keriput itu. Aku jadi teringat abah
dirumah, seharusnya aku lebih bersyukur lagi dengan semua yang aku miliki saat
ini.
“Dek,
melihat apa?” aku sedikit terkejut mendengar ucapan Mas Rafka yang seketika
membuyarkan lamunanku.
“Hanya
melihat seorang bapak-bapak penjual balon tadi. Aku jadi teringat abah
dirumah,” jawabku.
“Apa
setelah ini kita ke rumah abahmu saja?”
“Kalau
ndak merepotkan mas.”
“Jangan
seperti itu, Dek. Mas kan suamimu. Kalau misal rindu abah, ibu, atau adikmu,
langsung saja katakan pada Mas. InsyaAllah kalau ndak sibuk kita akan sering
berkunjung,” ujar Mas Rafka. Aku tersenyum tipis lantas mengangguk kecil.
“Terima
kasih, Mas.”
“Oh
ya itu di belakang ada oleh-oleh juga untuk kamu.” aku menoleh ke belakang, ada
sebuah tas seperti yang tadi diberikan pada kedua sahabatku, namun ini
ukurannya lebih besar.
“Itu
isinya apa?” tanyaku dengan mata yang masih tak lepas memandangi tas itu.
“Coba
dibuka.” aku segera mengambil tas itu, membukanya perlahan. Kudapati sebuah
parfum berukuran sedang. Aku mengamatinya sekali lagi, dan ada sebuah tulisan
kecil disisi pojok tas itu. Made in LA.
“Ini
rekan kerja yang menghubungi mas larut malam itu?” tanyaku yang dibalas
anggukan kecil.
“Iya.
Katanya sebagai permintaan maaf karena ndak bisa datang ke pernikahan kita,”
jelas Mas Rafka.
“Sebenarnya
ndak usah repot-repot, tapi sampaikan terima kasihku dan temanku pada rekan
kerja mas,” ujarku senang. Ah ayolah, siapa yang tidak senang mendapat
oleh-oleh parfum dari luar negeri?
“Sebahagia
itukah?” Mas Rafka memandangku dengan senyum yang belum lepas dari wajahnya.
Aku
mengangguk kecil, “Ini pertama kali aku mendapat oleh-oleh dari luar negeri
langsung,” jawabku terlampau jujur. Mas Rafka tiba-tiba saja tertawa kecil, ia
lantas menyentuh puncak kepalaku yang tertutup jilbab hijau itu gemas. Oke,
sepertinya aku malu.
Kami
kembali terdiam, Mas Rafka sibuk dengan kemudinya sedang aku sibuk dengan
pikiranku yang tiba-tiba saja melayang mengingat tentang kejadian tadi
di kantor, saat aku dengan sengaja berbohong. Aku menoleh ke samping, mengamati
wajah Mas Rafka yang masih fokus menatap jalanan di depannya.
“Maaf, Mas,” lirihku tanpa berani memandang wajahnya.
“Untuk?”
aku mendongak, mendapati wajah Mas Rafka yang tengah menatapku. Keningnya
berkerut, mungkin tak mengerti arti kata maaf yang kusampaikan padanya. Aku
diam, menelan ludah sekali lantas membuang muka ke depan. Sebagian nuraniku
berkata untuk tidak menjelaskan alasan permintaan maaf itu, tapi sebagian lagi
berkata sebaliknya.
“Apa
harus ada alasan?” akhirnya hanya kalimat itu yang keluar dari bibirku.
“Tentu.
Segala ucapan harus memiliki alasan. Seperti ketika kita berucap lapar,
alasannya karena kita belum makan. Termasuk juga kata maaf.” aku kembali
terdiam. Rasanya enggan sekali menjelaskan alasan yang ada karena jujur, aku
takut membuat Mas Rafka kecewa.
“Baik,
mas terima permintaan maafmu,” ujar Mas Rafka menyadari keterdiamanku yang cukup
lama. Aku tersenyum tipis.
“Kita
mau kemana, Mas?” tanyaku yang menyadari bahwa Mas Azzam membelokkan mobilnya
ke kanan. Karena setauku, arah jalan rumah belok kiri.
“Belum
makan kan? Nanti kita mampir ke rumah makan langganan Mas. Kamu pasti suka,”
jawabnya antusias. Aku hanya mengangguk-angguk setuju.
***
Kami
akhirnya sampai di depan rumah makan padang yang letaknya tidak terlalu jauh
dari jalan raya yang kami lewati tadi.
“Rumah
makan ini biasanya sangat ramai pada jam makan siang,” ujar Mas Rafka sembari
berjalan menuju etalase makanan untuk memesan. “Mas sering berkunjung kesini
bersama sahabat mas. Dan biasanya duduk di meja pojok sana.” Mas Rafka menunjuk
bangku yang dimaksud dan mataku mengikutinya.
"Ya Allah Nak Rafka. Lama ndak kesini, ibu jadi pangling.” Aku melihat
ibu-ibu yang mungkin pemilik rumah makan ini tersenyum lebar pada Mas Rafka.
“Gadis ini siapa? biasanya tidak pernah sekalipun kamu bawa seorang gadis
kesini.” Ibu itu memandangiku, aku membalasnya dengan senyum tipis.
“Dia Asfa. Istriku.”
“Istri?
MasyaAllah. Kenapa ndak memberi kabar kalau kamu menikah? Pantas saja lama ndak
kemari.”
“Maaf, Bu. Kemarin baru ijab qobul, jadi paling yang datang keluarga dekat saja. Insyallah resepsinya minggu depan. Soalnya ya itu, kerjaan masih belum bisa ditinggal” jelas Mas Rafka sekenanya.
“Nanti ibu mau datang boleh kan?”
“Tentu saja, Bu.” Mas Rafka tersenyum begitupun dengan aku. Kemarin memang kami baru saja diskusi soal resepsi, mengingat setelah ijab qobul kemarin aku pingsan dan disarankan untuk istirahat dulu meskipun pada akhirnya aku tetap masuk kerja. Minggu depan resepsi baru akan digelar. Rencananya Mas Rafka mau sewa gedung yang tidak jauh dari kantornya. Dan aku nurut saja.
“Istrimu ini lho kok ayu nemen.” aku tersenyum kecil sambil mengucapkan terima kasih mendengar penuturan dari ibu pemilik toko yang belum aku ketahui namanya. “Mau
pesen apa? Biasa?” Mas Rafka mengangguk. “Kalau kamu, nduk ayu?”
Aku
berpikir sejenak, jujur ini pertama kali aku makan di rumah makan padang.
“Sama
dengan suamimu saja?” tanya ibu itu menyadari kebingunganku. Kemudian aku
mengangguk mengiyakan. Kami akhirnya menunggu pesanan di meja yang tadi
dimaksud Mas Rafka.
“Ibu
itu namanya siapa? sepertinya mas dekat sekali dengan beliau,” tanyaku setelah
kami mendudukkan diri.
“Ibu
Marni. Maklum mas sering kesini bareng teman-teman. Jadi kami cukup dekat,”
jawabnya.
“Ka, kamu ternyata disini. Eh, ada Asfa juga.” seorang laki-laki yang seumuran
dengan Mas Rafka itu menyapa kami.
“Eh Bur ... Ente kesini sendiri?” Mas Rafka langsung menepuk bahu temannya itu, sapaan cool antar laki-laki.
“Nggak kok. Itu sama Ghazi. Dia lagi pesan makanan. Boleh kami gabung?”
“Tentu
saja.”
Deg.
Mas Ghazi? Dia di sini juga?
Bersambung ....
Bersambung ....

Comments
Post a Comment