Siang
itu matahari terlihat bersahabat dengan awan. Jika biasanya jam satu adalah
waktu dimana surya masih begitu semangat untuk membagi sinarnya pada bumi,
namun hari ini tidak demikian. Gesekan ranting kering dan dedaunan yang tertiup
angin seolah menjadi alunan simfoni dari alam yang merdu, dipadu dengan kicauan
burung yang saling sahut menyahut antar satu dengan yang lain menambah kesan
nyaman lagi mententramkan.
“Siapa
yang datang, Bu?” tanyaku sembari sibuk menuangkan air panas ke dalam dua
cangkir yang sebelumnya telah aku isi dengan teh celup, lantas menambahkan gula
satu sendok.
“Ndak
tau. Ibu belum melihatnya,” ujar ibuku yang juga tengah mengupas buah melon
yang ia letakkan dalam piring.
Setelah
mengaduk teh yang kini sudah bewarna coklat sempurna, aku menaruh dua cangkir
tersebut ke dalam nampan, diikuti dengan dua toples makanan ringan dan sepiring
melon yang baru saja dikupas ibu.
“Kamu
yang antarkan, ya.” aku mengangguk kecil mengiyakan.
Dari
jarak lima meter, aku melihat abah tengah berbincang serius dengan kedua orang
yang duduk persis di depannya. Sesekali beliau tersenyum, kemudian tertawa
kecil menanggapi pertanyaan dari mereka. Aku berjalan semakin dekat, hingga
obrolan mereka dapat kutangkap lewat indra pendengarku, semakin jelas dan
jelas.
“InsyaAllah minggu depan kami siap menerima.”
“Nanti biar kami yang mengurus segala hal termasuk undangan
dan resepsinya.”
“Apa itu ndak merepotkanmu dan keluargamu, Bas?”
“Ndak apa-apa, Lan. Kita juga sudah kenal lama, kan?”
“Apa nanti Dek Asfa akan setuju dengan pernikahan ini, Bah?”
“Asfa pasti setuju kok.”
Pranggggg.
Aku
tanpa sadar menjatuhkan nampan beserta isinya itu ke lantai. Diam. Terkejut.
Entah rasa apalagi yang muncul dalam hatiku. Kedua cangkir itu pecah berkeping-keping,
juga dua buah toples yang isinya sudah berserakan kemana-mana, dan jangan lupa
dengan satu piring melon yang kini sudah tidak berbentuk lagi.
“Astaugfirullahaladzim
....”
Ketiga
laki-laki tersebut menghampiriku dengan raut wajah khawatir. Abah dengan segera
menuntunku yang masih bisu untuk ia dudukkan dalam sofa ruang tamu. Lalu dari
belakang terlihat sosok ibu yang panik, ikut menuntunku tanpa peduli dengan
nampan beserta isinya yang baru saja aku jatuhkan.
“Kamu
ndak apa-apa kan, Nduk?” tanya ibu yang kini tangannya mengelus puncak kepalaku
lembut. Aku masih saja bisu, menatap satu persatu orang yang berada di depanku
dan ... mata kami saling bertemu, bukankah dia?
“Mas Rafka?” ujarku parau, tidak percaya. Kulihat dia mengangguk dan tersenyum tipis
padaku.
“Nduk
perkenalkan. Ini Pakdhe Abbas. Abah dari Mas Rafka,” timpal abahku.
Ada
apa ini? Kenapa mereka tadi membicarakan undangan, resepsi, dan pernikahan? Apa
mungkin?
“Aku
ndak setuju, Bah. Maaf,” ujarku singkat lantas pergi meninggalkan mereka yang
mungkin terkejut mendengar ucapanku. Biarlah aku dianggap gadis yang tidak
mengerti sopan santun, tapi bukankah aku berhak melakukannya?
***
“Asfa!!” Aku menangis, memeluk ibu yang kini berusaha menenangkanku dalam dekapannya.
Masih tidak kusangka, abah yang merupakan sosok laki-laki lembut nan penyayang,
untuk pertama kalinya membentakku dengan begitu keras.
“Dia
ini putrimu. Jangan dibentak begitu, Bah.” Ibu berusaha mengeluarkan
pembelaannya padaku yang nyaris tak berefek apa-apa.
“Kamu
minggu depan tetap akan menikah dengan Rafka.” Abah masih kukuh dengan
pendiriannya. Aku mendongak, mengusap airmata yang sedari tadi terus menetes.
Menatap abah seolah tidak percaya.
“Kenapa
aku harus menikah dengannya? Abah tau aku mencintai Mas Ghazi, dan minggu
depan Mas Ghazi juga akan datang bersama keluarganya kesini. Aku masih tidak
mengerti, Bah. Bukankah Mas Rafka teman dari Mas Ghazi? Lalu kenapa dia
melakukan hal ini? Dan kenapa pula Abah menyetujuinya setelah sebelumnya Abah
juga setuju dengan niatan Mas Ghazi?” ujarku panjang lebar masih disertai
isakan kecil.
“Abah
yang akan bicara dengan Ghazi jika kamu akan menikah dengan orang lain.”
“Aku
butuh alasan kenapa harus menikah dengan Mas Rafka, Bah.”
“Apa
menikah harus memiliki alasan? Menikah itu sunah rasul. Tidak sepatutnya kamu
menolak laki-laki yang baik agama dan nasabnya!”
“Aku
ndak mau, Bah.” Menangis lagi. Aku bahkan tidak tau jalan pikiran abah.
“Bukankah seorang gadis yang masih suci tidak boleh dinikahkan tanpa
persetujuan dari yang bersangkutan?” Aku mengeluarkan pembelaan terakhir yang
berhasil membuat abah diam.
“Kamu
ndak mengerti, Nduk.”
“Lalu
buat aku mengerti, Bah,” ujarku lirih. Kulihat abah menarik napas dalam, ia
memegang dadanya kuat. Meringis seperti menahan sakit. Napasnya bahkan tak
teratur dan sedetik kemudian beliau telah tumbang. Penyakit jantungnya kambuh.
“Abah
....”
***
Malam
ini udara begitu dingin dan menusuk. Langit tak henti-hentinya menumpahkan air
ke bumi, seakan persediaan air di atas sana tak pernah habis. Angin dan petir
seolah saling berperang, memamerkan kekuatannya bersama hujan yang tak kunjung
reda.
Aku,
ibu, dan Fais -adik laki-lakiku- duduk diam, menunggu dengan harap-harap cemas
keadaan abah yang masih diperiksa oleh dokter di dalam sana. Ibu sedari tadi
masih menangis, memelukku sembari mengucapkan dzikir untuk abah. Sedangkan Fais,
ia terlihat lebih tegar dan fokus dengan bacaan Qur’an nya.
“Maafkan
aku, Bu,” cicitku parau, menyesal. “Seandainya aku setuju dengan niatan abah, semua
ndak akan seperti ini.” Aku ikut menangis, memeluk ibu.
“Jangan
menyalahkan diri sendiri, Nduk.” Ibu menenangkanku. Kurasakan sebuah tangan
menyentuh bahuku lembut, aku menoleh dan kudapati senyum tulus dari adikku.
“Abah
akan baik-baik saja, Mbak,” ujar adikku.
***
Sudah genap satu hari abah tak jua sadar, padahal dokter memprediksi bahwa sekarang harusnya abah sudah siuman. Masih teringat jelas satu jam lalu ketika keluarga
Mas Rafka datang menjenguk abah, dan Ibu Isti –ibu dari Mas Rafka- terlihat
akrab sekali dengan ibu begitupun dengan Pak Abbas. Mereka seperti seseorang
yang baru dipertemukan kembali setelah sekian lama berpisah. Sedangkan Mas Rafka, ia tak banyak bicara. Hanya sesekali ekor matanya tertangkap tengah melirikku
yang fokus menemani abah kala itu.
Aku
merapikan mukena dan sajadah yang baru saja kugunakan untuk shalat dzuhur,
lantas menaruhnya di atas sofa. Menarik kursi kecil yang berada persis
di sampingku, lalu mendekatkannya dengan tempat tidur abah kemudian duduk disana. Hari ini aku memang sengaja izin tidak masuk kerja untuk menemani abah.
Fabiayyi
alaa irabbikuma tukaddziban ...
Rabbul
mazriqoini warabbul maghribaini ...
Fabiayyi
alaa irabbikuma tukaddziban ...
Aku
melantunkan surat kesukaan abah, surat Ar-Rahman. Beliau setiap selesai shalat
selalu tak pernah absen untuk membacanya. Kata beliau, surat Ar-Rahman itu
indah. Tapi bukan berarti menomorduakan surat lain, karena memang semua surat
itu diturunkan oleh Allah swt untuk manusia sebagai petunjuk dan menggambarkan
betapa agung kebesaran-Nya. Hingga tiba diakhir ayat, aku lantas mengucapkan
kalimat tasdid dan mengakhiri bacaanku.
“Alhamdulillah.” Aku mendongak, menatap abah yang kini matanya sudah terbuka sempurna kemudian
menatapku dengan senyum khasnya. “Padahal baru beberapa jam Abah ndak sadar,
tapi kenapa rasanya sudah rindu membaca surat Ar Rahman, dan bacaanmu juga
semakin bagus, Nduk,” komentar abahku. Aku diam, tak merespon apapun hingga
kudaratkan tubuhku pada tubuh abah. Memeluk beliau erat.
“Abah
bilang hanya beberapa jam ndak sadar, padahal ini sudah lewat seharian penuh,” ujarku
pura-pura marah dan masih enggan melepaskan pelukan itu.
“Kalau
seperti ini terus nanti bisa-bisa Abah ndak bisa napas,” terdengar kekehan
kecil dari abah. Aku melepas pelukan itu dengan tidak rela, menatap beliau lama
kemudian tersenyum tipis.
Aku
memencet sebuah tombol merah yang berada persis di samping tempat tidur abah.
Beberapa menit kemudian, seorang dokter dan dua suster datang untuk memeriksa
kondisi abah. Alhamdulillah abah besok sudah bisa pulang ke rumah.
“Ibu
sedang mengambil baju-baju di rumah, mungkin sebentar lagi akan kesini. Kalau
Fais, dia masih sekolah,” jelasku pada
abah ketika kulihat mata beliau mencari-cari seseorang.
“Kamu
ndak masuk kerja, Nduk?” tanyanya.
“Aku
hari ini izin, Bah.” Abah hanya mengangguk kecil sebagai responnya.
“Maaf,”
cicitku.
“Untuk?”
abah terlihat tak mengerti maksud kata maaf yang kutujukan untuknya.
“Aku
akan menikah dengan Mas Rafka,” ujarku mantab. Abah diam, sorot matanya menatapku
dalam seolah mencari keseriusan yang ada. “Aku akan menikah dengan Mas Rafka, Bah,” ulangku lagi. Kali ini disertai dengan senyum kecil. Abah menatapku tak
percaya, sedetik kemudian senyum merekah pada bibirnya yang pucat. Beliau
merentangkan tangannya, memberi isyarat untuk aku memeluknya lagi.
“Tidak
mungkin seorang Abah tega melepaskan putri satu-satunya untuk laki-laki yang
tak baik. Percayalah, Abah melakukan ini bukan tanpa alasan. Karena Abah
benar-benar menyayangi putri Abah,” ujar abah disela-sela pelukan kami. Tanpa
sadar airmataku menetes begitu saja. Seharusnya aku tau, abah pasti memiliki
alasan kuat kenapa aku harus melakukan ini.
Baca juga: ( Part 3 B )
Batang, 20 April 2017
[Edisi Revisi Maret 2019]

Comments
Post a Comment