Dalam Dekapan Cinta yang Tertunda (Sequel of Undangan) Part 3 A




Siang itu matahari terlihat bersahabat dengan awan. Jika biasanya jam satu adalah waktu dimana surya masih begitu semangat untuk membagi sinarnya pada bumi, namun hari ini tidak demikian. Gesekan ranting kering dan dedaunan yang tertiup angin seolah menjadi alunan simfoni dari alam yang merdu, dipadu dengan kicauan burung yang saling sahut menyahut antar satu dengan yang lain menambah kesan nyaman lagi mententramkan.

“Siapa yang datang, Bu?” tanyaku sembari sibuk menuangkan air panas ke dalam dua cangkir yang sebelumnya telah aku isi dengan teh celup, lantas menambahkan gula satu sendok.

“Ndak tau. Ibu belum melihatnya,” ujar ibuku yang juga tengah mengupas buah melon yang ia letakkan dalam piring. 

Setelah mengaduk teh yang kini sudah bewarna coklat sempurna, aku menaruh dua cangkir tersebut ke dalam nampan, diikuti dengan dua toples makanan ringan dan sepiring melon yang baru saja dikupas ibu.

“Kamu yang antarkan, ya.” aku mengangguk kecil mengiyakan.

Dari jarak lima meter, aku melihat abah tengah berbincang serius dengan kedua orang yang duduk persis di depannya. Sesekali beliau tersenyum, kemudian tertawa kecil menanggapi pertanyaan dari mereka. Aku berjalan semakin dekat, hingga obrolan mereka dapat kutangkap lewat indra pendengarku, semakin jelas dan jelas.

“InsyaAllah minggu depan kami siap menerima.”

“Nanti biar kami yang mengurus segala hal termasuk undangan dan resepsinya.”

“Apa itu ndak merepotkanmu dan keluargamu, Bas?”

“Ndak apa-apa, Lan. Kita juga sudah kenal lama, kan?”

“Apa nanti Dek Asfa akan setuju dengan pernikahan ini, Bah?”

“Asfa pasti setuju kok.”

Pranggggg.

Aku tanpa sadar menjatuhkan nampan beserta isinya itu ke lantai. Diam. Terkejut. Entah rasa apalagi yang muncul dalam hatiku. Kedua cangkir itu pecah berkeping-keping, juga dua buah toples yang isinya sudah berserakan kemana-mana, dan jangan lupa dengan satu piring melon yang kini sudah tidak berbentuk lagi.

“Astaugfirullahaladzim ....”

Ketiga laki-laki tersebut menghampiriku dengan raut wajah khawatir. Abah dengan segera menuntunku yang masih bisu untuk ia dudukkan dalam sofa ruang tamu. Lalu dari belakang terlihat sosok ibu yang panik, ikut menuntunku tanpa peduli dengan nampan beserta isinya yang baru saja aku jatuhkan.

“Kamu ndak apa-apa kan, Nduk?” tanya ibu yang kini tangannya mengelus puncak kepalaku lembut. Aku masih saja bisu, menatap satu persatu orang yang berada di depanku dan ... mata kami saling bertemu, bukankah dia?

“Mas Rafka?” ujarku parau, tidak percaya. Kulihat dia mengangguk dan tersenyum tipis padaku.

“Nduk perkenalkan. Ini Pakdhe Abbas. Abah dari Mas Rafka,” timpal abahku.

Ada apa ini? Kenapa mereka tadi membicarakan undangan, resepsi, dan pernikahan? Apa mungkin?

“Aku ndak setuju, Bah. Maaf,” ujarku singkat lantas pergi meninggalkan mereka yang mungkin terkejut mendengar ucapanku. Biarlah aku dianggap gadis yang tidak mengerti sopan santun, tapi bukankah aku berhak melakukannya?

***

“Asfa!!” Aku menangis, memeluk ibu yang kini berusaha menenangkanku dalam dekapannya. Masih tidak kusangka, abah yang merupakan sosok laki-laki lembut nan penyayang, untuk pertama kalinya membentakku dengan begitu keras.

“Dia ini putrimu. Jangan dibentak begitu, Bah.” Ibu berusaha mengeluarkan pembelaannya padaku yang nyaris tak berefek apa-apa.

“Kamu minggu depan tetap akan menikah dengan Rafka.” Abah masih kukuh dengan pendiriannya. Aku mendongak, mengusap airmata yang sedari tadi terus menetes. Menatap abah seolah tidak percaya.

“Kenapa aku harus menikah dengannya? Abah tau aku mencintai Mas Ghazi, dan minggu depan Mas Ghazi juga akan datang bersama keluarganya kesini. Aku masih tidak mengerti, Bah. Bukankah Mas Rafka teman dari Mas Ghazi? Lalu kenapa dia melakukan hal ini? Dan kenapa pula Abah menyetujuinya setelah sebelumnya Abah juga setuju dengan niatan Mas Ghazi?” ujarku panjang lebar masih disertai isakan kecil.

“Abah yang akan bicara dengan Ghazi jika kamu akan menikah dengan orang lain.”

“Aku butuh alasan kenapa harus menikah dengan Mas Rafka, Bah.”

“Apa menikah harus memiliki alasan? Menikah itu sunah rasul. Tidak sepatutnya kamu menolak laki-laki yang baik agama dan nasabnya!”

“Aku ndak mau, Bah.” Menangis lagi. Aku bahkan tidak tau jalan pikiran abah. “Bukankah seorang gadis yang masih suci tidak boleh dinikahkan tanpa persetujuan dari yang bersangkutan?” Aku mengeluarkan pembelaan terakhir yang berhasil membuat abah diam.

“Kamu ndak mengerti, Nduk.”

“Lalu buat aku mengerti, Bah,” ujarku lirih. Kulihat abah menarik napas dalam, ia memegang dadanya kuat. Meringis seperti menahan sakit. Napasnya bahkan tak teratur dan sedetik kemudian beliau telah tumbang. Penyakit jantungnya kambuh.

“Abah ....”

***

Malam ini udara begitu dingin dan menusuk. Langit tak henti-hentinya menumpahkan air ke bumi, seakan persediaan air di atas sana tak pernah habis. Angin dan petir seolah saling berperang, memamerkan kekuatannya bersama hujan yang tak kunjung reda.

Aku, ibu, dan Fais -adik laki-lakiku- duduk diam, menunggu dengan harap-harap cemas keadaan abah yang masih diperiksa oleh dokter di dalam sana. Ibu sedari tadi masih menangis, memelukku sembari mengucapkan dzikir untuk abah. Sedangkan Fais, ia terlihat lebih tegar dan fokus dengan bacaan Qur’an nya.

“Maafkan aku, Bu,” cicitku parau, menyesal. “Seandainya aku setuju dengan niatan abah, semua ndak akan seperti ini.” Aku ikut menangis, memeluk ibu.

“Jangan menyalahkan diri sendiri, Nduk.” Ibu menenangkanku. Kurasakan sebuah tangan menyentuh bahuku lembut, aku menoleh dan kudapati senyum tulus dari adikku.

“Abah akan baik-baik saja, Mbak,” ujar adikku.

***

Sudah genap satu hari abah tak jua sadar, padahal dokter memprediksi bahwa sekarang harusnya abah sudah siuman. Masih teringat jelas satu jam lalu ketika keluarga Mas Rafka datang menjenguk abah, dan Ibu Isti –ibu dari Mas Rafka- terlihat akrab sekali dengan ibu begitupun dengan Pak Abbas. Mereka seperti seseorang yang baru dipertemukan kembali setelah sekian lama berpisah. Sedangkan Mas Rafka, ia tak banyak bicara. Hanya sesekali ekor matanya tertangkap tengah melirikku yang fokus menemani abah kala itu.

Aku merapikan mukena dan sajadah yang baru saja kugunakan untuk shalat dzuhur, lantas menaruhnya di atas sofa. Menarik kursi kecil yang berada persis di sampingku, lalu mendekatkannya dengan tempat tidur abah kemudian duduk disana. Hari ini aku memang sengaja izin tidak masuk kerja untuk menemani abah.

Fabiayyi alaa irabbikuma tukaddziban ...

Rabbul mazriqoini warabbul maghribaini ...

Fabiayyi alaa irabbikuma tukaddziban ...

Aku melantunkan surat kesukaan abah, surat Ar-Rahman. Beliau setiap selesai shalat selalu tak pernah absen untuk membacanya. Kata beliau, surat Ar-Rahman itu indah. Tapi bukan berarti menomorduakan surat lain, karena memang semua surat itu diturunkan oleh Allah swt untuk manusia sebagai petunjuk dan menggambarkan betapa agung kebesaran-Nya. Hingga tiba diakhir ayat, aku lantas mengucapkan kalimat tasdid dan mengakhiri bacaanku.

“Alhamdulillah.” Aku mendongak, menatap abah yang kini matanya sudah terbuka sempurna kemudian menatapku dengan senyum khasnya. “Padahal baru beberapa jam Abah ndak sadar, tapi kenapa rasanya sudah rindu membaca surat Ar Rahman, dan bacaanmu juga semakin bagus, Nduk,” komentar abahku. Aku diam, tak merespon apapun hingga kudaratkan tubuhku pada tubuh abah. Memeluk beliau erat.

“Abah bilang hanya beberapa jam ndak sadar, padahal ini sudah lewat seharian penuh,” ujarku pura-pura marah dan masih enggan melepaskan pelukan itu.

“Kalau seperti ini terus nanti bisa-bisa Abah ndak bisa napas,” terdengar kekehan kecil dari abah. Aku melepas pelukan itu dengan tidak rela, menatap beliau lama kemudian tersenyum tipis.

Aku memencet sebuah tombol merah yang berada persis di samping tempat tidur abah. Beberapa menit kemudian, seorang dokter dan dua suster datang untuk memeriksa kondisi abah. Alhamdulillah abah besok sudah bisa pulang ke rumah.

“Ibu sedang mengambil baju-baju di rumah, mungkin sebentar lagi akan kesini. Kalau Fais, dia  masih sekolah,” jelasku pada abah ketika kulihat mata beliau mencari-cari seseorang.

“Kamu ndak masuk kerja, Nduk?” tanyanya.

“Aku hari ini izin, Bah.” Abah hanya mengangguk kecil sebagai responnya.

“Maaf,” cicitku.

“Untuk?” abah terlihat tak mengerti maksud kata maaf yang kutujukan untuknya.

“Aku akan menikah dengan Mas Rafka,” ujarku mantab. Abah diam, sorot matanya menatapku dalam seolah mencari keseriusan yang ada. “Aku akan menikah dengan Mas Rafka, Bah,” ulangku lagi. Kali ini disertai dengan senyum kecil. Abah menatapku tak percaya, sedetik kemudian senyum merekah pada bibirnya yang pucat. Beliau merentangkan tangannya, memberi isyarat untuk aku memeluknya lagi.

“Tidak mungkin seorang Abah tega melepaskan putri satu-satunya untuk laki-laki yang tak baik. Percayalah, Abah melakukan ini bukan tanpa alasan. Karena Abah benar-benar menyayangi putri Abah,” ujar abah disela-sela pelukan kami. Tanpa sadar airmataku menetes begitu saja. Seharusnya aku tau, abah pasti memiliki alasan kuat kenapa aku harus melakukan ini.

Bersambung ...

Baca juga: ( Part 3 B )

Batang, 20 April 2017
[Edisi Revisi Maret 2019]


Comments