Dalam Dekapan Cinta yang Tertunda (Sequel of Undangan) Part 2







Aku mengerjapkan mata beberapa kali, merasakan sinar temaram lampu yang menyapa retina mataku saat ini. Menelisik sebuah ruangan dengan langit-langit biru yang berada di atasku, lantas menoleh ke arah samping, ada sebuah pajangan yang cukup familiar dan sebuah pigura foto yang menampakkan sosokku di sana dengan dua orang teman yang mengenakan setelan gamis bewarna hijau tosca dengan jilbab yang senada pula. Dan aku sadar, sepertinya ini kamarku.


"Sudah bangun, Dek? Alhamdulillah." aku menoleh ke arah sumber suara, seorang laki-laki kini berjalan mendekatiku, wajahnya tersirat kelegaan luar biasa. Aku ingin bersuara, namun seakan tenggorokan ini tercekat. Tak ada kata apapun yang keluar selain gumaman kecil tidak jelas. Seolah mengerti, sosok laki-laki itu mengambil satu gelas air putih yang berada di atas nakas samping tempat tidur, membantuku untuk duduk kemudian ia juga membantu untuk mengairi tenggorokan yang terasa kering ini.

"Tadi aku pingsan ya, Mas?" tanyaku setelah selesai meneguk satu gelas air putih itu.

"Iya, Dek. Kamu mungkin kecapean. Syukur alhamdulillah sekarang sudah sadar," ujar Mas Rafka. Oke, tadi aku memang pingsan setelah dinyatakan sah menjadi istri dari Mas Rafka. Dan ini bukan mimpi, semua terasa semakin nyata setelah kurasakan tangan hangat itu menggenggam tanganku lembut.

"Abah dan ibu gimana, Mas? Mereka ndak khawatir, kan?" tanyaku lagi. Mas Rafka hanya menggeleng kecil sebagai jawaban.

"Lalu keluarga Mas Rafka bagaimana?" aku lagi-lagi bertanya.

"Mereka khawatir, tapi tidak sekhawatir Mas. Yang penting sekarang kamu sudah agak baikan. Sekarang mau makan atau sholat dulu?"

"Astaugfirullah. Memangnya ini jam berapa, Mas?" mataku langsung menengok ke samping, menatap sebuah jam dinding yang berada persis di samping meja kerjaku. Aku terkejut, ternyata sudah jam satu dini hari dan aku melewatkan sholat dzuhur hingga maghrib.

"Kalau lapar makan dulu saja, nanti Mas siapin."

"Ndak apa-apa. Aku langsung shalat saja," jawabku. Mas Rafka membantuku untuk bangun, lantas menuntun ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Dia juga dengan telaten membantuku melipat lenganku sampai siku, aku sempat terdiam sejenak, ada rasa ragu saat untuk pertama kali aku akan melepas jilbab yang selama ini hanya terlihat oleh abah, ibu, dan juga saudaraku.
 
"Ndak usah malu, kita kan sudah halal," ujar Mas Rafka seakan mengerti rasaku. Ia tersenyum tipis, menatapiku yang kini sibuk melepas jilbab putih yang masih bertengger di kepalaku lantas mengambil wudhu. Setelah selesai, aku kembali ke dalam kamar dan mendapati mukena serta sajadah sudah tertata rapi di sana, namun tidak aku dapati Mas Rafka, mungkin ia sedang keluar kamar.

Aku menyelesaikan sholatku ketika jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari, lantas kulanjut dengan shalat tahajud dua rakaat. Setelah selesai, aku merapikan mukena dan sajadah kemudian menaruhnya di dalam lemari yang ada di samping meja kerjaku. Mataku sedikit tertarik dengan sebuah buku yang masih terbuka di atas meja kerjaku, Sejarah Peradaban Islam Andalusia. Itu adalah buku yang baru kupinjam satu minggu yang lalu di perpustakaan kantor dan belum sempat untuk kukembalikan. Aku lantas menutup buku itu, dan mengembalikannya ke tempat semula.

Ceklek, sebuah suara pintu yang terbuka membuatku reflek menoleh, dan kudapati Mas Rafka berjalan mendekatiku dengan sebuah nampan yang di atasnya terdapat segelas susu coklat yang bahkan asapnya masih mengepul, juga sebungkus roti. Ia meletakkannya di atas nakas samping tempat tidur, lantas menyuruhku untuk menghampirinya yang kini sudah duduk di pinggiran ranjang. Aku menurut saja, jujur memang perutku sudah sangat lapar sedari tadi. Tanpa basa basi, Mas Rafka memberiku segelas susu coklat yang hangat itu, aku menerimanya dengan senang hati.

"Terima kasih, Mas," ujarku. Aku meniup-niup kecil gelas susu yang masih panas itu, lantas menyeruput sedikit demi sedikit hingga isinya berkurang. Aku mendongak, menatap Mas Rafka bermaksud untuk menawarkan susu hangat itu namun hanya dibalas gelengan kecil.

Aku menikmati susu hangat itu dalam keheningan tanpa berniat mengeluarkan suara sedikitpun. Lima menit, bahkan Mas Rafka tak jua mengeluarkan suaranya. Kurasakan tubuhku mulai kedinginan, udara fajar yang masuk melalui ventilasi kamarku benar-benar menusuk kulit. Ekor mataku melirik ke samping, mengamati sosok yang saat ini telah sah menjadi imamku itu dalam diam, dan tentu saja tanpa sepengetahuannya.

Sejujurnya aku masih tidak mengerti, mengapa ini semua bisa terjadi dan berlangsung dengan begitu cepat. Hanya sekali aku melihatnya, dan yang kutahu dia adalah teman baik Mas Ghazi hingga mau mengantarnya ke rumahku dua minggu yang lalu untuk mengatakan niat baiknya. Lalu sekarang? Bahkan abah pun tak menjelaskan apapun kepadaku. Dan bagaimana keadaan Mas Rafka? Apa ia datang ke pernikahanku tadi? Ah, sepertinya itu mustahil. Apa aku langsung bertanya saja pada Mas Rafka tentang banyak hal yang kini benar-benar memenuhi ruang pikirku dan perlu jawaban secepatnya? Mungkin aku harus menanyakannya sekarang juga.

Dari jarak sepersekian senti ini aku dapat melihat dengan jelas mimik wajah Mas Rafka yang terlihat begitu serius mengamati sebuah benda persegi panjang berwarna putih yang ia pegang. Sesekali keningnya berkerut, bahkan helaan napasnya terdengar sampai di telingaku. Pada jam seperti ini kira-kira siapa yang menghubungi Mas Rafka hingga ia bahkan tak sadar kupandangi begitu lama?

“Apa ada sesuatu yang ingin kamu sampaikan?”

“Hah?” aku mengerjapkan mata beberapa kali, otakku seakan lambat merespon ucapan dari Mas Rafka hingga pada akhirnya hanya gelengan singkat yang kuberikan sebagai jawaban.

“Rotinya ndak dimakan, Dek?” tanya Mas Rafka ketika melihat bungkusan roti coklat itu belum aku sentuh sama sekali.

“Sudah kenyang, Mas,” jawabku sekenanya. Mas Rafka kembali larut dalam kesibukannya, begitu pun aku yang sibuk memikirkan berbagai pertanyaan yang bersarang dalam otakku hingga bingung bagian mana yang harus aku tanyakan terlebih dahulu.

“Mas, boleh aku bertanya?” aku memandanginya, begitu pula Mas Rafka yang refleks mengalihkan pandangannya padaku.

“Boleh. Tanya apa?” terlihat Mas Rafka meletakkan ponselnya itu di samping tempat duduknya dan bersiap mendengar pertanyaanku. Aku diam sejenak, berpikir.

“Sepertinya Mas sibuk, ya?” tanyaku. Aku bahkan tidak sadar mengapa pertanyaan ini yang keluar dari mulutku. Mas Rafka tersenyum kecil, ia membenarkan letak duduknya sebelum kembali memandangiku lagi.

“Dia rekan kerja Mas. Sedang ditugaskan perjalanan bisnis ke Amerika. Mungkin dia ndak sadar kalau perbedaan waktu disini dan di Amerika sana itu lebih dari sepuluh jam. Oh ya, dia juga menyampaikan rasa bahagia nya atas pernikahan kita,” jawab Mas Rafka panjang lebar. Yang aku tau memang Mas Rafka itu salah satu pemegang jabatan tinggi dikantornya. Dan oke, Mas Rafka mungkin sadar jika sedari tadi aku mengamatinya. 

‘Astaugfirullahaladzim. Aku baru sadar ternyata di Indonesia sekarang masih jam dua dini hari. Afwan Mas jika mengganggu malam pengantin baru’

“Benar kan kata Mas,” ujarnya sembari memperlihatkan sebuah email masuk dari rekan kerja yang dimaksud Mas Rafka tadi. Aku hanya meringis kecil, dan entah kenapa jantungku sedikit berdebar membaca baris email terakhir yang Mas Rafka tunjukkan padaku.

“Ehm ... tadi yang mengganti bajuku siapa, Mas?” tanyaku ragu-ragu mencoba mengalihkan perhatian dari topik ‘malam pengantin baru’. Dan itu memang salah satu pertanyaan yang sedari tadi berlalu lalang dalam hatiku, meskipun seandainya pun hal itu yang melakukan Mas Rafka, toh wajar bahkan memang benar adanya begitu, tapi tetap saja aku ingin menanyakannya. Lagi-lagi Mas Rafka tersenyum kecil sebelum menjawab pertanyaanku.

“Ibu,” singkat, dan satu kata yang dilontarkan Mas Rafka berhasil membuatku sedikit lega. “Sudah jam setengah tiga, tidurlah. Nanti Mas bangunkan jika subuh sudah tiba,” ujar Mas Rafka lagi. Aku mengangguk kecil lantas meletakkan gelas susu yang isinya telah kutandaskan habis itu dalam nampan, mengangkatnya untuk kukembalikan lagi ke dapur.

“Biar Mas saja,” Mas Rafka mengambil alih nampan tersebut lantas menyuruhku untuk berbaring.

“Tapi ....” aku masih belum melepaskan nampan itu dari tanganku.

“Sudah ndak apa-apa,” ujarnya.

“Terima kasih,” aku tersenyum simpul.

“Oh ya, tadi Ghazi datang. Dia memberi bingkisan itu,” Mas Rafka menunjuk tumpukan kado yang berada paling atas dari lainnya. Sebuah kado berukuran sedang dengan warna hijau muda dan motif bunga. Aku diam mematung, jadi Mas Ghazi datang saat aku pingsan tadi?

Baca juga: ( Part 3 A )

Bersambung ... 

Batang, 08 April 2017
[Edisi Revisi Maret 2019]

Comments