Aku
mengerjapkan mata beberapa kali, merasakan sinar temaram lampu yang menyapa
retina mataku saat ini. Menelisik sebuah ruangan dengan langit-langit biru yang
berada di atasku, lantas menoleh ke arah samping, ada sebuah pajangan yang
cukup familiar dan sebuah pigura foto yang menampakkan sosokku di sana dengan
dua orang teman yang mengenakan setelan gamis bewarna hijau tosca dengan jilbab
yang senada pula. Dan aku sadar, sepertinya ini kamarku.
"Sudah
bangun, Dek? Alhamdulillah." aku menoleh ke arah sumber suara, seorang
laki-laki kini berjalan mendekatiku, wajahnya tersirat kelegaan luar biasa. Aku
ingin bersuara, namun seakan tenggorokan ini tercekat. Tak ada kata apapun yang
keluar selain gumaman kecil tidak jelas. Seolah mengerti, sosok laki-laki itu mengambil
satu gelas air putih yang berada di atas nakas samping tempat tidur, membantuku
untuk duduk kemudian ia juga membantu untuk mengairi tenggorokan yang terasa
kering ini.
"Tadi
aku pingsan ya, Mas?" tanyaku setelah selesai meneguk satu gelas air putih
itu.
"Iya, Dek. Kamu mungkin kecapean. Syukur alhamdulillah sekarang sudah sadar,"
ujar Mas Rafka. Oke, tadi aku memang pingsan setelah dinyatakan sah menjadi
istri dari Mas Rafka. Dan ini bukan mimpi, semua terasa semakin nyata setelah
kurasakan tangan hangat itu menggenggam tanganku lembut.
"Abah
dan ibu gimana, Mas? Mereka ndak khawatir, kan?" tanyaku lagi. Mas Rafka hanya
menggeleng kecil sebagai jawaban.
"Lalu keluarga Mas Rafka bagaimana?" aku lagi-lagi bertanya.
"Lalu keluarga Mas Rafka bagaimana?" aku lagi-lagi bertanya.
"Mereka khawatir, tapi tidak sekhawatir Mas. Yang penting sekarang kamu sudah agak baikan. Sekarang
mau makan atau sholat dulu?"
"Astaugfirullah.
Memangnya ini jam berapa, Mas?" mataku langsung menengok ke samping,
menatap sebuah jam dinding yang berada persis di samping meja kerjaku. Aku
terkejut, ternyata sudah jam satu dini hari dan aku melewatkan sholat dzuhur
hingga maghrib.
"Kalau
lapar makan dulu saja, nanti Mas siapin."
"Ndak
apa-apa. Aku langsung shalat saja," jawabku. Mas Rafka membantuku untuk
bangun, lantas menuntun ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Dia juga
dengan telaten membantuku melipat lenganku sampai siku, aku sempat terdiam
sejenak, ada rasa ragu saat untuk pertama kali aku akan melepas jilbab yang
selama ini hanya terlihat oleh abah, ibu, dan juga saudaraku.
"Ndak
usah malu, kita kan sudah halal," ujar Mas Rafka seakan mengerti rasaku.
Ia tersenyum tipis, menatapiku yang kini sibuk melepas jilbab putih yang masih
bertengger di kepalaku lantas mengambil wudhu. Setelah selesai, aku kembali ke
dalam kamar dan mendapati mukena serta sajadah sudah tertata rapi di sana,
namun tidak aku dapati Mas Rafka, mungkin ia sedang keluar kamar.
Aku
menyelesaikan sholatku ketika jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari,
lantas kulanjut dengan shalat tahajud dua rakaat. Setelah selesai, aku
merapikan mukena dan sajadah kemudian menaruhnya di dalam lemari yang ada di
samping meja kerjaku. Mataku sedikit tertarik dengan sebuah buku yang masih
terbuka di atas meja kerjaku, Sejarah Peradaban Islam Andalusia. Itu adalah
buku yang baru kupinjam satu minggu yang lalu di perpustakaan kantor dan belum
sempat untuk kukembalikan. Aku lantas menutup buku itu, dan mengembalikannya ke
tempat semula.
Ceklek,
sebuah suara pintu yang terbuka membuatku reflek menoleh, dan kudapati Mas Rafka berjalan mendekatiku dengan sebuah nampan yang di atasnya terdapat
segelas susu coklat yang bahkan asapnya masih mengepul, juga sebungkus roti. Ia
meletakkannya di atas nakas samping tempat tidur, lantas menyuruhku untuk
menghampirinya yang kini sudah duduk di pinggiran ranjang. Aku menurut saja,
jujur memang perutku sudah sangat lapar sedari tadi. Tanpa basa basi, Mas Rafka memberiku segelas susu coklat yang hangat itu, aku menerimanya dengan senang
hati.
"Terima
kasih, Mas," ujarku. Aku meniup-niup kecil gelas susu yang masih panas
itu, lantas menyeruput sedikit demi sedikit hingga isinya berkurang. Aku
mendongak, menatap Mas Rafka bermaksud untuk menawarkan susu hangat itu namun
hanya dibalas gelengan kecil.
Aku
menikmati susu hangat itu dalam keheningan tanpa berniat mengeluarkan suara
sedikitpun. Lima menit, bahkan Mas Rafka tak jua mengeluarkan suaranya.
Kurasakan tubuhku mulai kedinginan, udara fajar yang masuk melalui ventilasi
kamarku benar-benar menusuk kulit. Ekor mataku melirik ke samping, mengamati
sosok yang saat ini telah sah menjadi imamku itu dalam diam, dan tentu saja
tanpa sepengetahuannya.
Sejujurnya aku masih tidak mengerti, mengapa ini semua
bisa terjadi dan berlangsung dengan begitu cepat. Hanya sekali aku melihatnya,
dan yang kutahu dia adalah teman baik Mas Ghazi hingga mau mengantarnya
ke rumahku dua minggu yang lalu untuk mengatakan niat baiknya. Lalu sekarang? Bahkan
abah pun tak menjelaskan apapun kepadaku. Dan bagaimana keadaan Mas Rafka? Apa
ia datang ke pernikahanku tadi? Ah, sepertinya itu mustahil. Apa aku langsung
bertanya saja pada Mas Rafka tentang banyak hal yang kini benar-benar memenuhi
ruang pikirku dan perlu jawaban secepatnya? Mungkin aku harus menanyakannya
sekarang juga.
Dari
jarak sepersekian senti ini aku dapat melihat dengan jelas mimik wajah Mas Rafka yang terlihat begitu serius mengamati sebuah benda persegi panjang
berwarna putih yang ia pegang. Sesekali keningnya berkerut, bahkan helaan
napasnya terdengar sampai di telingaku. Pada jam seperti ini kira-kira siapa
yang menghubungi Mas Rafka hingga ia bahkan tak sadar kupandangi begitu lama?
“Apa
ada sesuatu yang ingin kamu sampaikan?”
“Hah?”
aku mengerjapkan mata beberapa kali, otakku seakan lambat merespon ucapan dari
Mas Rafka hingga pada akhirnya hanya gelengan singkat yang kuberikan sebagai
jawaban.
“Rotinya
ndak dimakan, Dek?” tanya Mas Rafka ketika melihat bungkusan roti coklat itu
belum aku sentuh sama sekali.
“Sudah
kenyang, Mas,” jawabku sekenanya. Mas Rafka kembali larut dalam kesibukannya,
begitu pun aku yang sibuk memikirkan berbagai pertanyaan yang bersarang dalam
otakku hingga bingung bagian mana yang harus aku tanyakan terlebih dahulu.
“Mas,
boleh aku bertanya?” aku memandanginya, begitu pula Mas Rafka yang refleks
mengalihkan pandangannya padaku.
“Boleh.
Tanya apa?” terlihat Mas Rafka meletakkan ponselnya itu di samping tempat
duduknya dan bersiap mendengar pertanyaanku. Aku diam sejenak, berpikir.
“Sepertinya
Mas sibuk, ya?” tanyaku. Aku bahkan tidak sadar mengapa pertanyaan ini yang
keluar dari mulutku. Mas Rafka tersenyum kecil, ia membenarkan letak duduknya
sebelum kembali memandangiku lagi.
“Dia
rekan kerja Mas. Sedang ditugaskan perjalanan bisnis ke Amerika. Mungkin dia
ndak sadar kalau perbedaan waktu disini dan di Amerika sana itu lebih dari
sepuluh jam. Oh ya, dia juga menyampaikan rasa bahagia nya atas pernikahan
kita,” jawab Mas Rafka panjang lebar. Yang aku tau memang Mas Rafka itu salah
satu pemegang jabatan tinggi dikantornya. Dan oke, Mas Rafka mungkin sadar jika
sedari tadi aku mengamatinya.
‘Astaugfirullahaladzim. Aku baru sadar ternyata di Indonesia
sekarang masih jam dua dini hari. Afwan Mas jika mengganggu malam pengantin
baru’
“Benar
kan kata Mas,” ujarnya sembari memperlihatkan sebuah email masuk dari rekan
kerja yang dimaksud Mas Rafka tadi. Aku hanya meringis kecil, dan entah kenapa
jantungku sedikit berdebar membaca baris email terakhir yang Mas Rafka tunjukkan
padaku.
“Ehm
... tadi yang mengganti bajuku siapa, Mas?” tanyaku ragu-ragu mencoba
mengalihkan perhatian dari topik ‘malam pengantin baru’. Dan itu memang salah
satu pertanyaan yang sedari tadi berlalu lalang dalam hatiku, meskipun
seandainya pun hal itu yang melakukan Mas Rafka, toh wajar bahkan memang benar
adanya begitu, tapi tetap saja aku ingin menanyakannya. Lagi-lagi Mas Rafka tersenyum kecil sebelum menjawab pertanyaanku.
“Ibu,”
singkat, dan satu kata yang dilontarkan Mas Rafka berhasil membuatku sedikit
lega. “Sudah jam setengah tiga, tidurlah. Nanti Mas bangunkan jika subuh sudah
tiba,” ujar Mas Rafka lagi. Aku mengangguk kecil lantas meletakkan gelas susu
yang isinya telah kutandaskan habis itu dalam nampan, mengangkatnya untuk
kukembalikan lagi ke dapur.
“Biar
Mas saja,” Mas Rafka mengambil alih nampan tersebut lantas menyuruhku untuk
berbaring.
“Tapi
....” aku masih belum melepaskan nampan itu dari tanganku.
“Sudah
ndak apa-apa,” ujarnya.
“Terima
kasih,” aku tersenyum simpul.
“Oh
ya, tadi Ghazi datang. Dia memberi bingkisan itu,” Mas Rafka menunjuk tumpukan
kado yang berada paling atas dari lainnya. Sebuah kado berukuran sedang dengan
warna hijau muda dan motif bunga. Aku diam mematung, jadi Mas Ghazi datang
saat aku pingsan tadi?
Baca juga: ( Part 3 A )
Baca juga: ( Part 3 A )
Bersambung
...
Batang,
08 April 2017
[Edisi Revisi Maret 2019]
[Edisi Revisi Maret 2019]

Comments
Post a Comment