Aku diam, sambil sesekali tersenyum
tipis menanggapi lemparan senyum dari sanak keluarga yang kini tengah berada di
rumah. Kurasakan tangan yang sudah mulai keriput itu membetulkan tatanan jilbab
putih yang aku kenakan, lantas menangkup pipiku dengan senyum tulus yang khas pada bibirnya.
"Cantik," ujarnya. Aku
tersenyum kecil menanggapi.
"Ibu ndak menyangka sebentar lagi
kamu akan menjadi seorang istri dan lepas dari tanggung jawab abah juga ibu.
Putri ibu sekarang sudah besar, bahkan sangat cantik seperti ibu waktu muda
dulu." ibuku menggenggam erat kedua tanganku, airmatanya menetes begitu
saja.
"Maaf jika selama ini aku selalu
membuat marah, sedih, atau kecewa Ibu.
Aku ...." Airmata kini sudah berada
dipelupuk, siap untuk tumpah hanya dengan satu kedipan saja.
"Sudah. Kamu putri ibu yang selalu
ibu sayangi. Sebentar lagi ijab kabul akan dimulai," kulihat ibu mengambil
sekotak tisu yang berada tak jauh dari tempatnya. Ia lantas membersihkan
sisa-sisa airmata yang masih membekas dalam pipiku.
"Inilah rencana Allah. Sekeras
apapun kamu mencoba menghindar, bila ketetapannya seperti itu, maka akan
seperti itu. Jadi terima lah dengan ikhlas dan sabar. Dia laki-laki baik yang
pasti bisa menuntunmu jadi lebih baik pula. Ibu sangat percaya itu," ujar
ibu. Aku mengangguk kecil hingga setelahnya aku mendengar suara abah yang
dengan lantangnya mengucapkan ikrar pernikahan pada calon suamiku di ruang tamu
sana, karena memang dalam adat Jawa, ketika akan ijab kabul mempelai perempuan
harus menunggu dikamar sampai ijab kabul selesai dan dinyatakan sah, baru
setelah itu mempelai perempuan bisa menemui suaminya.
***
"Saya nikahkan dan kawinkan, anak
saya yang bernama Asfana Fiza Aqila binti Ahmad Dahlan, dengan seperangkat alat sholat
dan emas seberat 25 gram dibayar tunai."
"Saya terima nikah dan kawinnya Asfana Fiza Aqila binti Ahmad Dahlan dengan seperangkat alat sholat dan emas seberat 25 gram dibayar tunai."
"Sah?"
"Sahhh ...."
Deg. Hari ini, Ahad tanggal 10 Februari
aku resmi menjadi seorang istri dari Mas Rafka Zhafran Manaf. Aku dituntun menuju mempelai laki-laki yang sudah menyambutku dengan senyumnya.
Aku duduk, lantas menyalami tangan Mas Rafka dan kemudian ia menyematkan sebuah
cincin emas elegan dijari manisku. Ia memandangiku sekilas, tersenyum lagi
kemudian menunduk malu karena sanak keluarganya dan keluargaku sedari tadi
menggodanya. Kurasakan Mas Rafka menarik napas dalam lantas menghembuskannya
pelan, ia kembali menatapku, kali ini berlangsung cukup lama hingga kemudian ia
mengecup keningku selama beberapa detik. Entah kenapa tiada rasa istimewa yang
hadir di dalam hatiku, semua hanya terasa hambar seperti sebuah masakan tanpa
bumbu. Mas Rafka kemudian meletakkan tangannya di atas kepalaku, ia mengucapkan
beberapa bait doa yang kuamini dalam hati.
"Terima kasih sudah mau menerima
Mas sebagai imam untukmu, Dek. Ini lah hari paling membahagiakan dalam hidup
Mas," Mas Rafka tersenyum lagi, lantas menggenggam erat kedua tanganku,
setitik air jatuh begitu saja mengenai telapak tanganku. Apakah Mas Rafka menangis? Mungkin, sebab aku tak berani memandang wajahnya, aku hanya menunduk
dalam diam, hatiku berkecamuk tidak karuan, ingin rasanya menangis dengan
keras, sakit sekali. Seharusnya hari ini Mas Ghazi melamarku, namun nyatanya
aku menikah dengan Mas Rafka, teman yang mengantar Mas Ghazi saat berniat
melamarku minggu lalu. Aku masih merasa bahwa ini semua hanya mimpi, baru aku
merasa bahagia karena sosok yang begitu aku cintai akan melamarku kemarin, dan
sekarang seperti dihempas dari langit ke tujuh dengan di bawahnya jurang yang
curam lantas aku terjatuh di sana. Astaugfirullah, maaf jika aku sepicik ini,
Allah. Namun aku masih tak percaya atas semua hal tiba-tiba yang menimpaku saat
ini. Entah kenapa kepalaku rasanya pusing sekali, seperti baru naik bianglala
yang diputar dengan kecepatan penuh dan juga dadaku terasa begitu sesak.
"Maaf," itu lah kata terakhir
yang aku dengar dari Mas Rafka sebelum mata ini menggelap dan aku tak bisa
mendengar suara apapun.
Batang, 06 April 2017
[Edisi Revisi Maret 2019]
[Edisi Revisi Maret 2019]

Comments
Post a Comment