Dalam Dekapan Cinta yang Tertunda (Sequel of Undangan) Part 1






Aku diam, sambil sesekali tersenyum tipis menanggapi lemparan senyum dari sanak keluarga yang kini tengah berada di rumah. Kurasakan tangan yang sudah mulai keriput itu membetulkan tatanan jilbab putih yang aku kenakan, lantas menangkup pipiku dengan senyum tulus yang khas pada bibirnya.

"Cantik," ujarnya. Aku tersenyum kecil menanggapi. 

"Ibu ndak menyangka sebentar lagi kamu akan menjadi seorang istri dan lepas dari tanggung jawab abah juga ibu. Putri ibu sekarang sudah besar, bahkan sangat cantik seperti ibu waktu muda dulu." ibuku menggenggam erat kedua tanganku, airmatanya menetes begitu saja.

"Maaf jika selama ini aku selalu membuat marah, sedih, atau kecewa  Ibu. Aku ...." Airmata  kini sudah berada dipelupuk, siap untuk tumpah hanya dengan satu kedipan saja.

"Sudah. Kamu putri ibu yang selalu ibu sayangi. Sebentar lagi ijab kabul akan dimulai," kulihat ibu mengambil sekotak tisu yang berada tak jauh dari tempatnya. Ia lantas membersihkan sisa-sisa airmata yang masih membekas dalam pipiku.

"Inilah rencana Allah. Sekeras apapun kamu mencoba menghindar, bila ketetapannya seperti itu, maka akan seperti itu. Jadi terima lah dengan ikhlas dan sabar. Dia laki-laki baik yang pasti bisa menuntunmu jadi lebih baik pula. Ibu sangat percaya itu," ujar ibu. Aku mengangguk kecil hingga setelahnya aku mendengar suara abah yang dengan lantangnya mengucapkan ikrar pernikahan pada calon suamiku di ruang tamu sana, karena memang dalam adat Jawa, ketika akan ijab kabul mempelai perempuan harus menunggu dikamar sampai ijab kabul selesai dan dinyatakan sah, baru setelah itu mempelai perempuan bisa menemui suaminya.

***

"Saya nikahkan dan kawinkan, anak saya yang bernama Asfana Fiza Aqila binti Ahmad Dahlan, dengan seperangkat alat sholat dan emas seberat 25 gram dibayar tunai."

"Saya terima nikah dan kawinnya Asfana Fiza Aqila binti Ahmad Dahlan dengan seperangkat alat sholat dan emas seberat 25 gram dibayar tunai."

"Sah?"

"Sahhh ...."

Deg. Hari ini, Ahad tanggal 10 Februari aku resmi menjadi seorang istri dari Mas Rafka Zhafran Manaf. Aku dituntun menuju mempelai laki-laki yang sudah menyambutku dengan senyumnya. Aku duduk, lantas menyalami tangan Mas Rafka dan kemudian ia menyematkan sebuah cincin emas elegan dijari manisku. Ia memandangiku sekilas, tersenyum lagi kemudian menunduk malu karena sanak keluarganya dan keluargaku sedari tadi menggodanya. Kurasakan Mas Rafka menarik napas dalam lantas menghembuskannya pelan, ia kembali menatapku, kali ini berlangsung cukup lama hingga kemudian ia mengecup keningku selama beberapa detik. Entah kenapa tiada rasa istimewa yang hadir di dalam hatiku, semua hanya terasa hambar seperti sebuah masakan tanpa bumbu. Mas Rafka kemudian meletakkan tangannya di atas kepalaku, ia mengucapkan beberapa bait doa yang kuamini dalam hati.

"Terima kasih sudah mau menerima Mas sebagai imam untukmu, Dek. Ini lah hari paling membahagiakan dalam hidup Mas," Mas Rafka tersenyum lagi, lantas menggenggam erat kedua tanganku, setitik air jatuh begitu saja mengenai telapak tanganku. Apakah Mas Rafka menangis? Mungkin, sebab aku tak berani memandang wajahnya, aku hanya menunduk dalam diam, hatiku berkecamuk tidak karuan, ingin rasanya menangis dengan keras, sakit sekali. Seharusnya hari ini Mas Ghazi melamarku, namun nyatanya aku menikah dengan Mas Rafka, teman yang mengantar Mas Ghazi saat berniat melamarku minggu lalu. Aku masih merasa bahwa ini semua hanya mimpi, baru aku merasa bahagia karena sosok yang begitu aku cintai akan melamarku kemarin, dan sekarang seperti dihempas dari langit ke tujuh dengan di bawahnya jurang yang curam lantas aku terjatuh di sana. Astaugfirullah, maaf jika aku sepicik ini, Allah. Namun aku masih tak percaya atas semua hal tiba-tiba yang menimpaku saat ini. Entah kenapa kepalaku rasanya pusing sekali, seperti baru naik bianglala yang diputar dengan kecepatan penuh dan juga dadaku terasa begitu sesak.

"Maaf," itu lah kata terakhir yang aku dengar dari Mas Rafka sebelum mata ini menggelap dan aku tak bisa mendengar suara apapun.

Bersambung ....

Baca juga: ( Part 2 )

Batang, 06 April 2017
[Edisi Revisi Maret 2019]

Comments