Undangan




Senyumnya bahkan masih membekas dalam pikiran, rupanya yang masih selalu kurindukan, hingga namanya pun masih kusebut dalam sepertiga malam. Masa-masa dulu yang begitu indah dengan hanya mengingatmu, bahkan sampai satu detik yang lalu. Langit yang tadinya cerah, yang bahkan tengah menunggu pelangi untuk menjemputnya, sekarang berubah mendung dalam sepersekian detik, hujan deras mengguyur bumi dengan disertai petir yang menyambar-nyambar tiada henti. Ah, itulah hatiku kini. Kenapa rasanya begitu sakit? Kiranya lebih sakit dari sebuah belati yang ditusukkan ke jantung hingga berkali-kali. Bayang tentangnya seolah menghilang, bersamaan dengan deras hujan yang turun dilangit sana.


"Bagaimana mungkin, Fat." lirihku pada Fatima, sahabat sekaligus teman seperjuangan yang kini tengah memandangiku iba.

"Positive thingking aja, As. Percayalah, Dia lebih mengerti apa yang terbaik buatmu," nasihat Fatima sembari menggenggam erat telapak tanganku yang kini sudah sedingin es.

Lima tahun bukan waktu yang singkat untuk memendam rasa yang bahkan mungkin hanya aku, Fatima, dan Allah saja yang tau. Selalu berharap akan ada hari indah yang mempertemukan kami suatu saat nanti, dengan rasa yang sama dan tujuan yang sama pula. Menyukai, menunggu, mengharap, hingga benar-benar menjadi sosok yang kuingin miliki sebagai imam untuk masa depanku. Teringat kami terpisah selama tiga tahun, tanpa komunikasi dan kabar apapun. Aku pun masih setia menunggunya. Dia lah laki-laki terbaik yang pernah kutemui setelah abah, tentu saja. Namun siang itu, bagai dihantam bola api panas, harapan dan angan itu pupus sudah. Satu pesan setelah tiga tahun berpisah itu menghancurkan segalanya.

"Assalamualaikum, Dek Asfa. Ini Mas Ghazi, teman sekolahmu dulu. Bagaimana kabarmu? Sudah lama sekali ya kita ndak ketemu dan komunikasi. Oh ya,  Besok kamu dirumah ndak? Mas mau nganterin undangan kabar baik. Wassalamualaikum."

"Wassalamualaikum. Alhamdulillah baik. Iya Mas Ghazi, besok langsung ke rumah aja. Kalau boleh tau, itu undangan apa ya, Mas?"

"Alhamdulillah undangan pernikahan, Dek."

"Oh. Alhamdulillah."

"Besok abah ada dirumah ndak? Sekalian mau ketemu abah, lama banget ndak ketemu."

"Iya, abah dirumah kok, Mas."

"Ya sudah besok ba'da ashar Mas langsung ke rumahmu."

"Iya. Ditunggu kehadirannya, Mas."

Oke, hati ini rasanya tercabik-cabik, hancur berkeping-keping tak bersisa lagi. Menangis? Sudah dari tadi. Apakah ini rasanya berharap pada manusia? Kuingin Mas Ghazi, kujuga sudah coba dekati Dia, bukan dia. Tapi kenapa Dia tak menyatukan kami pada akhirnya? Ah, Allah. Ini benar-benar menyakitkan. Dan kini aku baru sadar, perubahanku dulu, hijrahku dulu, kebaikan yang selalu kulakukan dulu, semata-mata bukan untuk-Mu, tapi untuknya. Maaf, diri ini salah sejak awal. Seharusnya aku tau, Kau lah Maha Pembolak balikkan hati manusia. Kau yang menentukan segala hal, termasuk rasa mencintai dan dicintai. Dan atas kejadian ini, aku merasa tertampar dengan begitu keras, semoga Engkau masih mau mengampuni kekhilafan yang pernah kulakukan dulu.

***

"Bah, ingat Mas Ghazi? Anaknya Ibu Isti?" tanyaku pada abah yang kini sedang duduk santai di sofa ruang tamu sembari menyeruput tehnya. Terlihat kening yang sudah menampakkan garis-garis keriput itu berkerut, matanya menerawang ke atas, mengingat-ingat nama yang tak begitu asing terdengar dalam gendang telinganya.

"Oh, temanmu yang kuliah di Semarang itu? Yang kasep dan pinter ngaji?" Abah tersenyum lebar.

"Sekarang sudah lulus, Bah. Dia nanti mau kesini. Mungkin setengah jam lagi sampai," ujarku.

"Mau kesini? Ya sudah cepat kamu siapin teh sama makanan ringan lain. Itu, beli buah juga diwarungnya Bu Imah." suruh abah padaku. Aku hanya mengangguk kecil lantas bergegas melaksanakan apa yang abah perintah. Beliau memang begitu, selalu memuliakan tamu yang akan berkunjung ke rumah.

Kini aku duduk di samping abah, sambil sesekali menimpali obrolan kecil kami berempat. Ya, Mas Ghazi sudah sampai di rumah, dia pun tidak datang sendiri tapi dengan teman laki-lakinya yang ia perkenalkan sebagai Rafka, rekan kerja sekaligus teman kuliahnya.

"Sekarang tambah kasep saja, Mas," ujar abah spontan diiringi senyum lebar yang menghias bibirnya. Sedangkan Mas Ghazi menanggapinya dengan senyum tipis malu-malu.

"Alhamdulillah, Bah. Sebenarnya masih sama seperti dulu, mungkin karena lama ndak ketemu jadi terlihat beda," jawabnya.

Obrolan kami berlalu begitu saja. Hingga pada akhirnya Mas Ghazi menyerahkan sebuah undangan berwarna merah muda padaku.

"Ini undangannya, Dek. Jangan lupa datang, ya," ujarnya. Aku menerima undangan itu dengan tangan bergetar. Rasanya airmata ini ingin tumpah lagi menyaksikan laki-laki yang kuharapkan malah menyuruhku untuk datang ke pernikahannya nanti, apalagi jika aku harus melihatnya bersanding dengan perempuan lain.

"InsyaAllah, Mas," jawabku sekenanya. Abah, Mas Ghazi, dan Mas Rafka tenggelam lagi dengan pembicaraan mereka, sedang aku di sini lebih pada pendengar saja.

"Bah, apa Dek Asfa sudah memiliki calon?" tanya Mas Ghazi tiba-tiba yang reflek membuatku mendongak, menatapnya sekilas.

"Belum. Katanya dia lagi menunggu seseorang. Entah siapa dia ndak mau cerita sama Abah. Padahal umurnya sudah siap menikah. Abah mau jodohkan tapi ndak mau," jawab abah sambil melirikku. Aku semakin menundukkan wajah. Ah, andai abah tau, sosok yang kutunggu ada di depannya. Dia yang baru saja memberikan undangan pernikahannya padaku.

"InsyaAllah minggu depan, aku akan membawa keluarga untuk melamar Dek Asfa."

Seketika teh yang baru saja kucicipi itu kini tersedak keluar begitu saja. Melamar? Mas Ghazi? Lelucon macam apa ini?

"Maksud Mas Ghazi apa? Bukankah ini undangan ...."

"Itu undangannya Dimas, temen SMA kita dulu. Dia minta maaf karena ndak bisa nganterin ke rumahmu langsung makanya minta tolong aku. Dan alhamdulillah dengan ini aku juga ingin mengatakan niat baikku padamu, Dek. Aku ingin melamarmu minggu depan, semoga kamu berkenan."

Aku hanya diam, entah rasanya mulut ini kelu, tak bisa berucap sepatah katapun. Airmataku tiba-tiba menetes tanpa sadar, haru, bahagia, dan rasa apa lagi yang tidak bisa kuungkapkan. Ini terlalu mengejutkan dan begitu istimewa, dan aku terlalu gegabah menyimpulkan bahwa undangan itu tertulis nama Mas Ghazi tanpa menanyai juga membacanya lebih dulu. Allah, rencanamu sungguh menawan tak terkira. Anggukan kecil dariku berhasil membuat ketiga orang itu tersenyum lebar. Akhirnya ... penantian ini berujung juga.

Baca juga: ( Dalam Dekapan Cinta yang Tertunda (Sequel of Undangan) )


Batang, 17 Maret 2017
[Revisi Maret 2019]

Comments