Satu Nama yang Tersembunyi



Kutitipkan rindu pada angin yang berembus, digelapnya malam yang dingin nan sunyi. Namamu masih bertengger dalam munajatku padaNya, setiap waktu.


Aku meletakkan sebuah pulpen di atas buku bercover biru yang masih terbuka itu. Membolak-balikkan lembaran yang lain, membacanya sekali lagi, rasa sesak kian menjelma pada relung hati.

Siapa yang pernah, memendam rasa hinggga bertahun-tahun lamanya pada orang yang sama?

Siapa yang pernah, suka namun hanya bisa menatapnya dari kejauhan?

Siapa yang pernah, cinta namun tak pernah saling pandang apalagi bertegur sapa?

Kamu ... sosok yang kutemui pada masa putih biru. Hanya kesan kagum ketika kutau kamu bagaimana. Hingga kagum yang lambat laun berubah jadi cinta.

Kamu ... sosok yang dulu biasa. Tak dikenal, tak terkenal, tak hits, tak terlalu tampan, bukan anggota organisasi keren seperti osis atau basket. Tapi entah, aku jatuh cinta saja. Aku paham kenapa kamu tak pernah memandangku, memberi senyum untuk sebuah sapaan sebagai teman, atau memanggil namaku juga untuk sekedar bersapa, itu karena selama tiga tahun, kita tak pernah satu kelas pun satu organisasi, dan itu juga karena aku adalah seseorang yang banyak pemalu, waktu itu. Ya, biarlah cinta yang tumbuh itu hanya aku dan Allah yang tau.

Hingga masa putih biru itu berubah menjadi masa putih abu. Takdir seolah tak mengizinkan kita untuk menempuh pendidikan ditempat yang sama lagi. Namun itu bukan masalah, karena aku tau  kita masih berada dikota yang sama.

Pada masa putih abu itu, kamu telah banyak berubah, kata sahabatku. Aktif organisasi, ikut berbagai kegiatan keren disekolah, juara berbagai lomba, hingga kamu memiliki banyak penggemar yang luar biasa terutama dikalangan perempuan. Cemburu? Tentu. Namun apa daya, toh aku juga bukan siapa-siapa. Jika pun kamu juga memendam rasa pada orang lain, aku bisa menerima meski sakit.

Aku mungkin sempat khawatir ketika kutahu kamu memiliki banyak penggemar yang lebih cantik dan juga pintar dariku. Aku takut kamu jatuh cinta hingga menjalin sebuah hubungan bernama pacaran. Tapi sampai kini, kau masih sendiri pada prinsipmu. Alhamdulillah, prinsip yang kau utarakan saat masa putih biru masih kau pegang hingga masa putih abu itu tanggal.

Kini, kita tak lagi bisa bertemu. Lagi-lagi takdir memisahkan kita untuk berada dibelahan tempat yang berbeda. Kamu sekarang menjadi anak rantau, yang entah dengan lingkunganmu apa kamu masih bisa bertahan akan prinsip itu. Namun aku percaya bahwa kamu bisa. Meski aku pernah berpikir, mungkin jarak yang Allah beri semakin jauh ini menandakan bahwa kamu bukan jodohku. Tapi kembali lagi, aku masih berharap. Hanya satu nama, yaitu kamu.

Tok tok tok ....

“Assalamualaikum, dek.” aku segera menutup buku itu dan menghapus segala bayang tentang sosoknya yang baru saja memenuhi ruang pikir.

“Wa’alaikumsalam, mbak. Masuk saja,” jawabku yang langsung merapikan diri. Kulihat sosok perempuan dengan gamis merah muda dan kerudung maroon itu menghampiriku dengan senyum tipis khasnya.

“Sedang apa, dek?” tanyanya yang melihatku masih duduk di atas kursi di depan meja belajar dengan beberapa buku yang sudah kututup.

“Baru menulis sesuatu,” jawabku sekedarnya. Aku bangkit dari dudukku dan pindah ke kasur untuk duduk disebelah mbak Najwa. “Apa ada sesuatu, mbak?” tanyaku padanya yang heran karena tidak biasanya mbak Najwa masuk ke kamarku jika tidak ada hal penting yang akan dibicarakannya.

“Itu ....” mbak Najwa terlihat diam sejenak. “Mengenai niatan dek Farid kemarin padamu, dia butuh jawaban dengan segera, dek,” ujar mbak Najwa seraya menatapku.

Aku hanya diam, enggan menjawab, namun sorot mata mbak Najwa memintaku untuk segera menjawab pertanyaannya.

“Diam bagi seorang perempuan adalah tanda setuju.”

“Tapi aku belum memutuskan, mbak,” ujarku cepat.

“Makanya cepat putuskan. Menggantungkan orang itu tidak baik, dek,”

“Aku belum bisa,” jawabku lesu, menunduk.

“Kenapa? Apa karena nama itu kau mau membuang nama lain yang memang jelas-jelas mencintaimu dan mendatangi abah untuk meminta keseriusan hubungan ini? Dek, sadarlah. Lupakan dia yang kau harapkan terlalu berlebih. Mungkin juga dia tak pernah memiliki rasa padamu,” ujar mbak Najwa yang semakin membuat dadaku bergemuruh.

“Dia juga mencintaiku, mbak,” putusku secara sepihak tentang rasanya meskipun sebenarnya aku juga tidak yakin.

“Kau yakin? Lalu mengapa dia belum juga datang menemui abah?”

“Mungkin karena dia masih sibuk dengan pendidikannya, mbak,” belaku.

“Tidak ada alasan.”

“Tapi ini sudah tahun ketujuh. Sulit untuk menggantinya dengan yang lain. Aku harap mbak mengerti situasiku,” aku menunduk. Tak bisa dipungkiri, keadaan ini benar-benar membuatku bingung sekaligus takut. Mbak Najwa menggapai pundakku, lantas memelukku erat.

“Mbak tau bagaimana rasanya berada diposisi ini karena tanpa kau tau mbak juga pernah mengalaminya, dek,” aku segera merenggangkan pelukan ini, menatap mbak Najwa lama hingga sebuah anggukan kecil tercipta dari kepala mbak Najwa.

“Kau tau, mas Ardi bukanlah sosok nama yang selalu mbak munajatkan padaNya setiap malam. Tapi dia lah yang menjadi teman hidup mbak hingga kini. Allah sudah takdirkan itu. Mungkin awalnya memang sulit melupakan sosok yang sudah bertahun-tahun kita sebut namanya dalam doa, tapi percayalah, Allah lebih tau yang terbaik untuk hambanya.”

“Lalu siapa yang mbak harapkan waktu itu?” tanyaku penasaran.

“Dia teman satu kelas saat SMA dan juga kami belajar diperguruan tinggi yang sama namun beda fakultas. Selama hampir enam tahun mbak memendam rasa itu. Tapi sudahlah, mungkin dia bukan yang terbaik untuk mbak. Dan sekarang mbak bersyukur bisa memiliki sosok seperti mas Ardi,” aku melihat senyum tulus itu datang dari bibir mbak Najwa. Aku juga tersenyum tipis, tiba-tiba sosok mas Ardi terbayang dalam benakku. Ia sosok laki-laki alim, pekerja keras, lemah lembut, juga ramah yang pernah kutemui selama hidupku.

“Aku baru tau mbak juga mengalami hal seperti ini. Lalu kenapa mbak baru menceritakannya sekarang?” ujarku protes dan cemberut.

“Itu karena dulu kau masih ingusan, sayang,” jawab mbak Najwa seraya mencubit pipi chubbyku. Aku mendengus kesal, padahal dulu aku sudah SMA, bukan anak ingusan.

“Bukan untuk menggurui, anggap saja mbak sebagai sahabat yang sedang menasehati. Terkadang, perempuan itu menyimpan satu nama dalam hatinya yang selalu ia harapkan. Namun ketika yang datang bukan nama itu, haruskah ditolak hanya karena tak cinta? Padahal yang datang adalah ia yang baik agamanya, akhlaknya, dan keturunannya. Bisa jadi ini adalah tipu daya setan yang ingin menjauhkanmu dari jodohmu. Jangan mau terjebak dalam cinta semu, mungkin kau akan menyesalinya nanti. Jadi, istikharah lah segera. Insha Allah, Dia akan membantu menemukan jawaban terbaik atas keluhanmu, dek,” nasihat mbak Najwa yang benar-benar kuresapi. Aku mengangguk-angguk paham, hampir meneteskan airmata saat mendengar nasihatnya itu.

Karena aku juga tau, setiap perempuan selalu memiliki satu nama dihatinya. Dan aku pun tau, setiap perempuan selalu pandai menyembunyikan rasanya. Lalu sekarang, apakah aku masih tetap menitipkan rinduku pada dia, atau berhenti dan menerima yang lain? Ya, semoga Allah segera memberi jawaban yang terbaik.

Batang, 17 November 2016
 

Comments