Penantianku






Bila hadirnya cinta adalah suatu kebahagiaan, maka mencintaimu adalah suatu kesyukuran yang tiada bertepi.

---
Langit tak begitu cerah, meski jarum jam masih setia bertengger diangka tiga, namun matahari sudah tak lagi menampakkan batang hidungnya. Mungkin ia malu, atau ia sedang mempersilakan hujan untuk bergantian menemani sang bumi diwaktu ini.

Aku masih sibuk menatap layar monitor laptop sambil sesekali memainkan jari-jemariku diatas keyboard untuk mengedit beberapa kata atau kalimat yang menurutku kurang efektif dan ada sedikit kesalahan penulisan.

“Rin, yang daftar pustaka buku ini sudah ditulis?” aku mendongak, lantas mengangguk kecil sebagai jawaban.

“Sudah. Far, buku filsafat kemarin sudah kamu kembalikan, kan?”

“Sudah kok. Terus nanti power pointnya gimana?”

“Nanti malam aku yang buat. Dan ini flashdisknya, tinggal ngeprint aja,” ujarku sembari menyerahkan sebuah flasdisk bewarna biru pada Fara, lantas mematikan laptop. Oke, tugas makalah hari ini telah selesai.

“Ya sudah. Ini aku yang ngeprint, jilid, sekalian fotocopy.”

“Oke. Kamu langsung pulang? atau mau nunggu ashar dulu?”

“Nunggu asar aja, Rin. Bareng?” aku mengangguk kecil. “Sebentar, aku beli minuman dulu,” ujar Fara lantas segera beranjak dari tempat duduknya.

“Mau aku temani?” tanyaku menawarkan diri.

“Nggak usah. Kamu mau pesan apa? Biar sekalian aku belikan.”

”Biasa. Tapi yang hangat.” jawabku.

“Oke,”

Fara kemudian berlalu untuk ke kantin membeli minuman. Sedang aku kini sibuk meneruskan bacaanku tentang Filsafat dari sosok tokoh yang cukup tersohor dengan pemikirannya yang luar biasa yaitu Aristoteles. Lusa memang aku bertugas untuk menyampaikan materi tentang tokoh itu melingkupi segalanya.
Tak sampai dua puluh menit, Fara telah datang dan menyodorkan satu gelas cappucino hangat yang dituangkan dalam gelas plastik transparan.

“Syukron, Far,” ujarku menerima satu gelas minuman itu.

“Afwan,” jawabnya lantas segera memposisikan duduk seperti semula. Kami berdua mengobrol ringan, membahas beberapa mata kuliah yang kami dapat hari ini, mengobrol hal-hal lucu, dan tentu saja mengobrol tentang materi presentasi kami lusa.

“Rin, tadi aku ketemu sama Mas Ramli dikantin,” ujar Fara tiba-tiba melenceng dari topik pembicaraan.

“Lalu?” tanyaku.

“Dia bertanya ‘Kok tidak dengan Arini?’”

“Hanya itu saja?” tanyaku lagi dan lantas mendapat anggukan kecil dari Fara.

“Aku terkadang kasihan dengan Mas Ramli. Cintanya bertepuk sebelah tangan. Yah meskipun hanya aku yang tau,” ujar Fara lagi yang lama-lama membuat pembicaraan ini semakin tak enak.

“Sudahlah, Far. Aku sedang tidak ingin membicarakan hal-hal begitu,” jawabku singkat. Memandang kesamping atas, memperhatikan dua ekor burung emprit yang sedang bertengger diatas ranting pohon cemara. Terlihat mereka tengah asik bersenda gurau, tanpa perlu mengerti bahasa hewanpun, aku tau jika kedua burung itu adalah pasangan.

“Aku tau. Kau masih mengharapkan dia. Masih ada cinta untuknya yang jauh disana. Aku hanya penasaran akan sosok laki-laki yang membuatmu bertahan mencintai selama bertahun-tahun ini,” ujar Fara.

“Dia sama dengan yang lain. Hanya saja dia luar biasa dimataku,” aku tersenyum tipis. Bayangan tentangnya tiba-tiba memenuhi rongga memoriku dan cepat-cepat kuhilangkan.

“Mas Ramli adalah sosok sempurna menurut persepsiku dan persepsi banyak perempuan kecuali dirimu, Rin. Dia mantan presiden BEM, pernah menduduki posisi tinggi di Senat Mahasiswa, aktif diberbagai organisasi kampus, santun, alim, bijaksana, berjiwa pemimpin, dan masih banyak lagi,” ujung-ujungnya pasti Mas Ramli.

“Seandainya aku memiliki kuasa penuh akan hati, mungkin aku sudah menjatuhkan rasaku pada Mas Ramli. Hanya saja aku harus berbagi dengan logika dan rasa lain yang bahkan tak bisa kuterjemahkan sendiri. Aku akan bertahan selama itu tak melanggar syariatNya. Karena aku tau, mencintai dia itu lebih dari bahagia, Far.” Kusadari Fara mengangguk kecil, meski tercipta raut kecewa disana. Ia tau banyak tentang diriku, tentang hubunganku dengan Mas Ramli yang ternyata menyukaiku. Tentang Mas Ramli yang menyatakan kesediaannya melamarku saat ia selesai sidang skripsi nanti, dan lain sebagainya. Mas Ramli adalah senior dua tingkat dariku dan entahlah, aku juga tidak begitu paham sejak kapan ia menyukaiku.

“Bila seandainya dia bukan jodohmu, bagaimana?” aku diam sejenak mendengar pertanyaan dari Fara.

“Biarkan penantian ini menjadi kenangan paling indah,” jawabku singkat.

“Bukankah tidak adil jika kelak kau sudah menikah lalu masih ada orang lain dihatimu?” lagi-lagi Fara mengajukan pertanyaan yang menurutku sangat sulit untuk dijawab.

“Kalau itu ....” aku diam lagi, berusaha berpikir untuk menemukan jawaban yang paling tepat.

“Aku akan menceritakan segalanya pada suamiku kelak. Dan akupun yakin, tidak ada manusia dibumi manapun yang tidak pernah merasakan jatuh cinta juga rasanya menanti. Mungkin, suamiku juga pernah memiliki bidadari impian yang lain, akupun begitu. Jadi, biarkan semuanya menjadi kenangan. Sudah ah, aku sedang tidak ingin membicarakan topik tentang cinta. Itu sudah adzan, ayo kita ke masjid. Lain kali aku yang akan menginterogasimu soal Ali,” ujarku tersenyum jahil.

“Apaan sih, Rin. Aku tidak memiliki rasa apa-apa kok.”

“Tidak memiliki rasa tapi selalu senyum-senyum sendiri setelah berpapasan dengan Ali,” godaku lagi.

“Sudah ah, aku mau ke masjid dulu.” Fara tiba-tiba beranjak dari tempat duduknya. Aku hanya tersenyum kecil menyadari perubahan ekspresi wajah sahabatku itu.

Suara adzan telah selesai berkumandang, aku membaca doa setelah adzan kemudian melantunkan sedikit doa-doa pribadiku.

Tumbuhnya rasa ini hanya Engkau yang menciptakan, begitulah bertahannya cinta ini hingga sekarang pasti adalah kehendakMu. Jika seandainya dia bukan jodoh hamba, maka hamba mohon, hilangkan rasa ini dari hati hamba. Hilangkan pikiran dan bayangan tentangnya dari pusat otak hamba. Karena hanya Engkaulah yang berkuasa atas semua. Namun sekali lagi, didalam hati hamba yang paling dalam, hamba masih mengharapkan ia, hamba masih menyemogakan ia untuk menjadi penyempurna separuh agama hamba, nanti.

Aku mengusap wajahku sekali sebagai simbol meng’amin’kan doaku. Kemudian segera menyusul Fara yang sudah lebih dulu ke masjid.

Gerimis mulai turun menyapa bumi, membuat banyak pohon dan tanaman lain tersenyum lebar karena kehadirannya. Dan akupun begitu, karena waktu paling mustajab untuk berdoa adalah diantara waktu adzan dan iqamah, dan juga disaat hujan. Semoga Allah juga tengah tersenyum, dan telah menyiapkan sebuah kado terindah akan lantunan doa yang selalu kupersembahkan untukNya. Amin.

Batang, 14 Oktober 2016

Comments